Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh, Drs H Azhari MSi meninjau pembangunan gedung baru MIN 5 Seunong, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, Sabtu, 19 September 2026.
Pembangunan madrasah yang sebelumnya terdampak banjir hingga bangunannya hanyut tersebut kini telah mencapai progres 16,56 persen.
Dalam kunjungan tersebut, Kakanwil didampingi Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pidie Jaya, H Mulyadi SAg MPd. Peninjauan dilakukan untuk melihat langsung perkembangan pembangunan yang telah dimulai sejak 11 Agustus 2026.
Pembangunan tahun ini dilaksanakan secara bertahap sesuai ketersediaan anggaran. Tahap awal mencakup tiga gedung, termasuk Ruang Kelas Baru (RKB) dengan delapan ruang kelas. Pembangunan ditargetkan rampung pada akhir Desember 2026.
Selain itu, dibangun gedung kantor yang dilengkapi ruang perpustakaan, laboratorium komputer, ruang guru, tata usaha, UKS, ruang kepala madrasah, serta kantin. Pekerjaan juga mencakup pembangunan talud, halaman, dan pagar madrasah.
Saat meninjau lokasi, Kakanwil menyempatkan diri berbincang dengan para tukang yang sedang bekerja. Selain melihat proses pembangunan, ia juga memberikan semangat agar para pekerja menjaga kualitas dan ketelitian dalam setiap tahapan pekerjaan.
“Bapak-bapak terus semangat bekerja. Ini bukan sekadar membangun gedung, tetapi membangun kembali tempat anak-anak kita belajar. Karena itu, kerjakan dengan baik, jaga kualitasnya, dan semoga semuanya berjalan lancar sampai selesai,” ujar Kakanwil.
Sebelumnya, Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, meletakkan batu pertama pembangunan gedung baru MIN 5 Pidie Jaya pada Selasa, 11 Agustus 2026. Peletakan batu pertama tersebut disaksikan masyarakat, guru, orang tua, dan para siswa.
Ia menyebut pembangunan MIN 5 Pidie Jaya sebagai buah dari kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat “Inilah buah dari kerja sama antara warga masyarakat, sekolah, dan pemerintah,” pungkasnya.
Pembangunan MIN 5 Pidie Jaya merupakan bagian dari perhatian Kementerian Agama terhadap fasilitas pendidikan dan fasilitas keagamaan yang terdampak bencana di wilayah Sumatera.
Nasaruddin mengatakan, penanganan pascabencana dilakukan di sejumlah wilayah, termasuk Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Bentuk penanganannya disesuaikan dengan kondisi masing-masing fasilitas, mulai dari rehabilitasi hingga pembangunan kembali. []












