Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Aceh Drs H Azhari MSi mengajak para alumni yang diwisuda dapat terus menjaga keikhlasan dan jangan pernah berhenti belajar.
Saat memberi sambutan pada Wisuda IV Mahasantri Ma'had Aly Darul Munawwarah Kuta Krueng Ulee Glee (Kec Bandar Dua) Pidie Jaya, Sabtu, 19 September 2026, Kakanwil juga harapkan alumni dari dayah jangan jagalah adab kepada guru dan orang tua, serta laksanakan pengabdian kepada masyarakat agar ilmu yang diperoleh dapat dirasakan manfaatnya oleh orang lain.
Azhari mengatakan, alumni Ma'had Aly tidak boleh melupakan dan harus terus berbakti kepada orang tua.
"Karena keberhasilan yang diperoleh erat kaitannya dengan berbakti kepada orang tua," imbuhnya, di depan 412 wisudawan berbagai jenjang, 70 di antaranya strata satu (Marhalah Ula, Ma'had Aly).
"Hari ini, orang tua teungku bisa tersenyum lebar, anak-anaknya telah menyelesaikan meudagang di dayah hingga memperoleh gelar sarjana. Berkah tidaknya hidup yang kita jalani akan selalu berbanding lurus dengan ta’zhim kita kepada kedua orang tua," harapnya lagi.
Lantas, kata Azhari, para mahasantri wisudawan, juga untuk alumni tahun ajaran 2005-2026M/1447-1448H hari ini harus menghormati guru. Sebab, itu jalan agar ilmu yang diperoleh berkah.
"Hari ini teungku diwisuda dengan gelar sarjana, salah seorang figur utama yang mengantarkan anda semua menyelesaikan studi adalah guru. Berkah dan manfaat dari ilmu yang diperoleh akan selalu berbanding lurus dengan khidmah dan ta’zhim kepada guru," katanya.
"Jadilah orang yang berilmu, selalu menghargai pendapat guru dan masyarakat, serta tidak pernah merasa dirinya lebih hebat dari orang lain," pesannya.
Kakanwil juga ingatkan, kita jangan pernah berhenti belajar. Pendidikan tidak boleh berhenti sampai di sini, tetapi terus berlanjut sepanjang hayat (lifelong education).
Azhari juga mengatakan, para teungku wisudawan adalah orang-orang beruntung dan hebat. Alasannya, kata Azhari, mendapatkan gelar sarjana dan magister nanti dari kampus di luar sana adalah hal biasa.
"Namun teungku semua memperoleh gelar dari Ma’had Aly, kampusnya pesantren atau dayah. Gelar yang teungku peroleh diakui legalitasnya oleh negara," sebutnya.
Harapan kami juga, ajaknya, para mahasantri telah sabar dan tetap bertahan dengan segala ujian dan rintangan, hingga sampai pada hari wisuda hari ini.
"Padahal belajar dengan kajian turast adalah pelajaran paling sulit, apalagi anda telah menyelesaikan kajian tertinggi dari thabaqat turats yaitu hasyiyah," ujarnya lagi.
Ujar Azhari juga, jika lulusan kampus digadang-gadang menjadi intelektual, calon teknokrat, birokrat dan praktisi. Jika ada kesan bahwa alumni dayah tidak memiliki masa depan telah tenggelam oleh beberapa kenyataan. Satu di antaraanya bahwa pemerintah memberikan pengakuan yang sama terhadap alumni dayah.
Azhari juga menjelaskan, dalam konteks pendidikan Indonesia, Ma’had Aly memiliki sejumlah kemiripan dengan pendidikan tinggi yang dikelola oleh Perguruan Tinggi Keagamaan Islam. Misalnya, keduanya memiliki penjenjangan berupa strata satu untuk tingkat sarjana, strata dua untuk tingkat master dan strata tiga untuk tingkat doktor.
Meski demikian, Ma’had Aly tidak benar-benar sama dengan perguruan tinggi keagamaan Islam yang berada di bawah institusi negeri seperti UIN, IAIN, STAIN, dan sejumlah institusi swasta lainnya.
Sebagaimana disebutkan dalam Peraturan Menteri Agama Nomor 71 tahun 2015, Ma'had Aly didirikan untuk dua hal. "Termasuk menciptakan lulusan yang ahli dalam bidang ilmu agama Islam (mutafaqqih fiddin). Juga, mengembangkan ilmu agama Islam berbasis kitab kuning (turats)."
Di Aceh, kata Azhari, terdapat 6 lembaga Ma’had Aly yang tersebar di beberapa kabupaten. Keenam Ma’had Aly tersebut yakni: Ma’had Aly Mudi Mesra Samalanga, Ma’had Aly Darul Munawwarah Kuta Krueng, Ma’had Aly Syekh Muda Wali Al-Khalidy Darussalam Labuhan Haji, Ma’had Aly Raudhatul Ma'arif Cot Trueng, Ma’had Aly Malikussaleh Panton Labu, dan Ma’had Aly Babussalam Al-Hanafiyyah Matang Kuli.
Sementara Pimpinan (Mudir) Dr Abi H Anwar Usman SPdI MM jelaskan dalam acara betema Cahaya Wahyu, Jekak Ilmu, Masa Depan Gemilang, bahwa kita terus mendorong lulusan Ma’had Aly tidak berhenti pada pencapaian akademik dan gelar kesarjanaan.
Mudir yang akrab disapa Abiya Kuta Krueng, yang juga Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Ulama Dayah Aceh (PB HUDA), menegaskan para alumni diharapkan mampu menjadi ahli ilmu yang memiliki kedalaman keislaman sekaligus mampu membaca dan menjawab berbagai persoalan masyarakat.
Lebih jauh, lembaga pendidikan tinggi keagamaan tersebut harus melahirkan para ahli yang memiliki akar tradisi keilmuan Islam yang kuat, memahami turts, menguasai fiqh dan ushul, sekaligus memiliki kemampuan memahami realitas sosial.
Dirincikannya, jumlah wisudawan tahun ini sebanyak 412 orang, terdiri dari Ma'had Aly 70 mahasantri, Tahfizul Quran 35 (25 putra, 10 putri), serta Satuan Pendidikan Mu adalah/SPM Ulya 306 santri (182 putra, 124 putri). Wisudaqan telah menyelesaikan Program Akademik di Marhalah Ula dengan Takhassus Tafsir dan Ilmu Tafsir (Konsentrasi Ayatul Ahkam). []












