[Bireuen | Jamal Idi] Pertandingan bola kaki tingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI) seharusnya diikuti oleh siswa-siswa madrasah ibtidaiyah, namun bagaimana jika pemain yang ikut bertanding melawan anak-anak MI itu berpostur lebih tinggi dan besar? Jika dilihat dengan kasat mata, mereka lebih cocok dikategorikan siswa madrasah Tsanawiyah.
Inilah salah satu pertanyaan besar yang lahir dari pelatih dan official kontingen Porseni Aceh Timur usai timnya dikalahkan Bener Meriah 1-3, Pada pertandingan tersebut ada 4 hingga 5 pemain yang berpostur lebih tinggi dan besar dibandingkan postur anak-anak Aceh Timur yang semuanya pendek dan kecil.
Usai pertandingan itu, para pemain itupun menangis, menangis karena kegagalan yang tak wajar, mereka dikalahkan oleh abang-abang mereka dari daerah lain.
Hal yang sama juga terlihat ketika tim Aceh Timur berhadapan dengan tim Aceh Besar, ada 1 orang terlihat tinggi dan besar, maka tak salah ketika kedua tim bertanding para penonton bersorak memanggil yahwa kepada pemain bernomor punggung 7 tersebut.
Ini hanya dari cabang Bola kaki, jika ditelusuri secara mendalam, mungkin saja ada di cabang-cabang olahraga dan seni yang lain yang terindikasi berbuat curang, secara administrasi mungkin bisa saja diolah sedemikian rupa, namun bagaimana logika berbicara ketika melihat kondisi nyata dilapangan.
“Meraih sebuah prestasi lebih fair jika mengutamakan sportifitas,untuk apa sebuah medali yang kita peroleh dengan cara kekurangan,” kata Adnan,S.Ag, Ketua tim pengarah pada kontingen Porseni Kemenag Aceh Timur, Rabu (13/8).
Tema Porseni XIV di Bireuen, Tegakkan persatuan, Gapai Prestasi, tegakkan sportifitas dan memperkuat ukhuwah dan uswah patut kita renungkan bersama, bagaimana mungkin ajang 2 tahunan ini yang bertujuan meningkatkan silaturahmi justru tercoreng dengan cara-cara kotor kontingen hanya untuk meraih sebuah medali.
“Untuk apa sebuah medali emas yang telah kami dapat, jika tim bola kaki yang juga kami targetkan emas harus musnah dengan cara-cara yang tidak sportif,” tegas Abdurrahman,M.Pd yang terlihat geram dengan menggigit medali yang diperoleh dari cabang atletik (foto).
Kita tentu semua berharap, mudah-mudahan ajang silaturahmi ini benar-benar bertujuan meningkatkan silaturahmi dan pencarian bibit-bibit berbakat, bukan sekedar gengsi dan prestasi, jika berbuat curang mungkin saja mental dan spiritual sedang sakit, ingat kembali tema Porseni ini. “Sehat Mental, Fisik dan Spiritual”. [yyy]














