[Banda Aceh | Muhammad Yakub Yahya] Peringatan detik-detik Proklamasi Kemerdekaan RI ke 69, meriah. Meskipun sorenya, saat upacara penurunan, di Banda Aceh misalnya, memacetkan jalan-jalan sekitar Blang Padang. Namun di seluruh Aceh suasana suka cita mewarnai masyarakat. Pohon pinang juga ditanam ulang di beberapa gampong, bukan untuk penghijauan, melainkan untuk dilombanaikkan, guna rebut aneka hadiah.
Penonton pun rela berjalan kaki jauh ke arena upacara, Blang Padang. Ada satu aksi yang dinanti, selain pembacaan Kalam Ilahi, Pembacaan Teks Proklamsi, Doa, Paskibraka, dan lagu-lagu perjuanga, yakni Tarian Likok Pulo. Doa dipandu Kakanwil Kemenag Aceh.
Tarian yang bermakan Gerak Tari Tubuh di Pulo ini, lahir sekitar akhir 1800-an. Dibawa oleh pendatang Arab, bernilai perjuangan dan persaudaraan.
Tarian Likok pulo berasal dari Pulo Aceh. Tarian ini semula ditarikan oleh 12 penari cilik laki-laki, diiringi oleh tabuhan musik rapa-i dan dibantu oleh 3 orang cahie (syeh) dengan melantunkan syair-syair Likok Pulo. Menurut perkembangan Likok Pulo yang berada di Banda Aceh tidak sempurna sebagaimana aslinya yang berasal dari Pulo Aceh.
Nah, usai semua sesi pada Ahad (17 Agustus), tampillah sebanyak 1.000 prajurit yang berkolaborasi dengan 200 siswa, pramuka, dan masyarakat umum, menampilkan tari Saman (nama lain,) yang merupakan tari yang telah diakui oleh Unesco PBB.
Di jalanan, juga kita kerahkan 30 mobil untuk pawai dalam rangkaian agenda peringatan 69 tahun HUT RI, salah satunya yang kami lihat mobil Kodam berbentuk gajah (simbol IM). Baik prajurit yang sedang berlatih tari Saman maupun latihan rangkaian acara upacara peringatan HUT RI yang ke 69.
Sementara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan RI di Aceh dipusatkan di Lapangan Blang Padang. Dr Zaini Abdullah bertindak sebagai Inspektur Upacara yang dipimpim oleh Komandan Upacara Letkol Inf Hasandi Lubis. Teks Proklamasi dibacakan oleh Ketua DPRA, Drs H Hasbi Abdullah. [inmas/mereportasi di sisi utara lapangan]














