Inovasi pendidikan yang dikembangkan MAN 1 Aceh Barat terus mendapat perhatian dan menjadi rujukan bagi satuan pendidikan lain. Dua sekolah dari Woyla Raya, yakni SMAN Woyla Barat dan SMAN Woyla Induk, melakukan studi tiru ke MAN 1 Aceh Barat untuk mempelajari pengembangan Kelas Persiapan Internasional dan Kelas Kedinasan, Rabu, 23 September 2026.
Kunjungan tersebut mendapat apresiasi dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Barat sebagai bagian dari semangat berbagi praktik baik dan memperkuat kolaborasi antarsatuan pendidikan di daerah.
Program Kelas Persiapan Internasional MAN 1 Aceh Barat sendiri telah diresmikan oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh, Drs H Azhari MSi pada Selasa, 28 Juli 2026. Saat peresmian, Kakanwil Kemenag Aceh berharap keberadaan kelas tersebut menjadi program yang berkah dan memberikan manfaat bagi peserta didik serta mampu membuka peluang lebih luas bagi generasi madrasah untuk berkembang dan berprestasi.
Harapan tersebut kini mulai menunjukkan hasil. Belum genap dua bulan setelah diresmikan, Kelas Internasional MAN 1 Aceh Barat tidak hanya menjadi bagian dari inovasi pembelajaran di madrasah, tetapi juga mulai menginspirasi satuan pendidikan lain. Hal itu terlihat dari kunjungan studi tiru SMAN Woyla Barat dan SMAN Woyla Induk yang secara khusus ingin mempelajari praktik baik program tersebut.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Barat, H Khairul Azhar SAg MA menyampaikan bahwa perkembangan tersebut menjadi indikator positif bahwa inovasi yang dibangun di madrasah dapat memberikan manfaat yang lebih luas.
“Kami tentu bersyukur dan mengapresiasi. Apa yang disampaikan Kakanwil saat peresmian agar Kelas Internasional ini menjadi program yang berkah dan bermanfaat, hari ini mulai kita lihat wujudnya. Manfaatnya bukan hanya dirasakan oleh MAN 1 Aceh Barat, tetapi mulai menjadi inspirasi bagi satuan pendidikan lainnya,” ujar Khairul Azhar.
Menurutnya, keberhasilan sebuah inovasi pendidikan tidak hanya diukur dari keberadaan program, tetapi juga dari sejauh mana program tersebut mampu memberikan dampak dan menginspirasi lahirnya praktik baik baru.
“Ketika sekolah lain datang untuk belajar, berarti ada nilai positif yang bisa dibagikan. Ini harus kita jaga dan terus kembangkan melalui kolaborasi,” katanya.
Kepala MAN 1 Aceh Barat, Faisal, menyambut baik kunjungan tersebut. Ia menyatakan pihaknya siap berbagi pengalaman, mulai dari konsep program, pola pembinaan peserta didik, hingga berbagai persiapan yang diperlukan dalam pengembangan kelas khusus.
“Kami berterima kasih atas kunjungan Ibu Nurhayani dan Bapak Ahmad Shadikin. Kami siap berbagi pengalaman dan praktik yang telah kami lakukan, termasuk hal-hal yang perlu dipersiapkan dalam pengembangan Kelas Internasional dan Kelas Kedinasan,” ungkap Faisal.
Kepala SMAN Woyla Barat, Nurhayani, yang akrab disapa “Mak Woyla”, mengatakan studi tiru tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya memperkuat program pendidikan di Woyla Raya.
“Kami datang ke sini ingin mengadopsi praktik-praktik baik yang dilakukan MAN 1 Aceh Barat. Insya Allah, kami akan segera membuka dua kelas yang sama, Kelas Internasional dan Kelas Kedinasan di wilayah kami,” ujarnya.
Ia menambahkan, pihaknya bersama Kepala SMAN Woyla Induk, Ahmad Shadikin, berkomitmen membangun jejaring pendidikan di Woyla Raya agar peserta didik di wilayah tersebut memiliki kesempatan yang semakin luas untuk mengembangkan kompetensi dan meraih prestasi.
Kedua sekolah tersebut juga memiliki pengalaman dalam membawa nama Aceh Barat ke tingkat internasional melalui keikutsertaan siswa dalam ajang Olimpiade Siswa Internasional di Terengganu, Malaysia.
Kakankemenag Aceh Barat berharap kolaborasi tersebut tidak berhenti pada kegiatan studi tiru, tetapi dilanjutkan dengan komunikasi dan pertukaran pengalaman secara berkelanjutan.
“Kami berharap kunjungan ini menjadi awal dari kolaborasi yang lebih luas. Ketika satuan pendidikan saling berbagi pengalaman dan praktik baik, yang mendapatkan manfaat pada akhirnya adalah peserta didik,” tutur Khairul Azhar.
Ia juga berharap MAN 1 Aceh Barat terus memperkuat inovasi yang telah dikembangkan sehingga mampu menjadi salah satu penggerak peningkatan mutu pendidikan madrasah di Aceh Barat.
Studi tiru tersebut menjadi bukti bahwa harapan yang disampaikan Kakanwil Kemenag Aceh saat meresmikan Kelas Internasional MAN 1 Aceh Barat mulai menemukan bentuk nyata. Program yang diharapkan berkah dan bermanfaat itu kini tidak hanya menjadi inovasi bagi madrasah, tetapi juga menjadi inspirasi bagi satuan pendidikan lain untuk membangun generasi Aceh Barat yang lebih siap berkompetisi di tingkat nasional dan internasional.













