[Banda Aceh | Yakub] “USBNPAI Hanyalah Sebuah Anak Tangga yan Harus Dilewati Sebelum Menempuh Ribuan Anak Tangga Lainnya”, tema panjang Sosialisasi PAI yang dibuka Ketua MPD (Majelis Pendidikan Daerah) Aceh Prof DR Warul Walidin Ak MA.
Dalam sesi paparan hari kedua (27/2), H Warul sampaikan apa yang disampaikannya dalam pembukaan (26/2).
Acara USBNPAI (Ujian Nasional Berstandar Nasional Pendidikan Agama Islam) 2015 digelar sejak 26-28 Februari. Dan ini kali ketiga, sejak tiga tahun lalu. PAI pun jadi penentu kelulusan, di Aceh dan Indonesia. USBBNPAI jadi prioritas.
Acara yang diikuti para Kakankemenag (ada yang diwakili Kasi PAIS) se Aceh, Kadis Pendidikan (ada yang diwakili Kabiddikmenum), asosiasi/organisai pendidikan, digelar Bidang PAI Kanwil Kemenag Aceh, di Grand Hotel Aceh.
Prof Warul sampaikan, bahwa hasil pertemua dengan para Kakanwil dan Kadis di Aula Kanwil bulan lalu, yang menelurkan kesepakatan, bahwa di Aceh tetap laksanakan K13 (Kurikulum 2013), telah disampaikan pada Gubernur, bahkan sudah dilaporkan ke Menag dan Mendikbud.
Warul lanjutkan di hadapan 60-an peserta itu, bahwa amanat qanun pendidikan di Aceh, PAI mesti jadi prioritas, PAI dan Aceh jadi model dan contoh bagi Indonesia. PAI adalah motor strategis, apalagi di dalamnya memuat kurikulum pendidikan berbasis kerakter.
“Dalam bahasa Presiden Jokowi, revolusi mental…” sindir Profesor, yang juga Dosen UIN Ar-Raniry.“Maka di Aceh PAI bukan dua jam, tapi lebih banyak. Fiqh tersendiri, Aqidah-Akhlaq tersendiri, SKI tersendiri, dan Bahasa Arab tersendiri, masing-masing 2 jam.” [inmas]











