Keluarga sakinah tidak dibangun karena pasangan selalu memiliki kesamaan, melainkan karena mampu mengelola perbedaan dengan baik. Keharmonisan juga tumbuh dari berbagai kebaikan sederhana yang dilakukan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.
Hal itu disampaikan Ketua Tim Bina KUA dan Keluarga Sakinah Kanwil Kementerian Agama Provinsi Aceh, Dr Khairuddin SAg MA, dalam Kajian Bulanan Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kanwil Kemenag Aceh bertema “Bersama dalam Kebaikan, Bertumbuh dalam Keharmonisan” di Aula Kanwil Kemenag Aceh, Senin, 8 Juni 2026. Kegiatan tersebut diikuti anggota DWP dan karyawati Kanwil Kemenag Aceh.
Khairuddin menjelaskan bahwa keluarga sakinah merupakan karunia Allah yang dibangun atas dasar ketaatan kepada-Nya. Menurutnya, mawaddah adalah cinta yang tumbuh karena ketertarikan, sedangkan rahmah merupakan kasih sayang yang tetap bertahan meski ketertarikan mengalami pasang surut.
“Keluarga yang harmonis tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan baik yang dilakukan secara konsisten,” ujarnya.
Ia mengatakan, membantu pasangan, mengucapkan terima kasih, menahan amarah, hingga memberikan senyuman merupakan bentuk ibadah yang menjadi pondasi keharmonisan keluarga.
Khairuddin juga mengingatkan agar pasangan tidak memaksakan satu sama lain untuk menjadi pribadi yang sama. Menurutnya, keharmonisan lahir dari kemampuan menghormati perbedaan dan melihat kelebihan pasangan.
“Jangan memaksakan pasangan menjadi seperti diri kita. Hormati perbedaan yang ada dan fokuslah pada kelebihannya, bukan pada kekurangannya,” katanya.
Selain itu, ia menekankan pentingnya komunikasi dalam keluarga melalui musyawarah, saling mendengarkan, dan mengendalikan emosi saat berdiskusi. Ia juga mengingatkan bahwa anak belajar dari perilaku orang tua sehingga keharmonisan keluarga menjadi pendidikan karakter terbaik bagi mereka.
“Bersama dalam kebaikan, saling menguatkan dalam ujian, dan bertumbuh dalam keharmonisan menuju keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah,” pungkasnya.[]












