Buku Dayah Karya Dosen STAIN Malikussaleh Dibedah di Kemenag Aceh

Inmas Aceh
Inmas Aceh
Author27 Oktober 2014
Buku Dayah Karya Dosen STAIN Malikussaleh Dibedah di Kemenag Aceh

[Banda Aceh | Teuku Zulkhairi/Yakub]  Buku “Dayah, Menapaki Jejak Pendidikan Endatu” karya Saifuddin Dhuhri, MA, dosen STAIN Malikussaleh dibedah di Kanwil Kemenag Aceh, Senin, 27/10.  Aceh akan maju jika dayah sudah maju, inti buku yang dibedah dan hasil dari bedah buku awal tahun ini.

Hadir sebagai pembedah yaitu Drs. Sahlan M.Diah dari Badan Dayah Aceh, H. Abrar Zym, S.Ag kepala Bidang Pondok Pesantren Kanwil Kemenag Aceh, Tgk Mustafa Husen sekretaris Ikatan Penulis Santri Aceh (IPSA) dan H. Umar Rafsanjanji, Lc, MA alumnus Dayah Labuhanhaji Aceh Selatan serta dimoderatori oleh Mizaj Iskandar, Lc, LLM dari Ikatan ALumni Timur Tengah (IKAT) Aceh.

Para pembedah memberikan apresiasi, masukan serta kritikan terhadap buku tersebut dari segi metodologi maupun cover.

Saifuddin Dhuhri, saat menanggapi sejumlah masukan dan krtikan dari pembedah mengatakan, peradaban Aceh yang gemilang itu lahir dari rahim dayah. Karena Dayah adalah sebuah lembaga pendidikan Aceh yang pertama, asli hasil produk intelektual Aceh.

Pendidikan ini bersifat dinamis, berubah-ubah sesuai dengan kebutuhan masyarakat, perkembangan situasi sosial dan respon terhadap penindasan seperti penjajahan  yang merupakan phase awal dan keemasan Aceh.

Menurut Saifuddin, Belanda saat itu menyadari hal ini, maka mereka menyimpulkan bahwa jika dayah dapat dikuasai, maka Aceh akan mampu dijajah. Untuk itu mereka mengeluarkan stattblad (semacam undang-undang) 550, guna untuk melakukan rekayasa sosial terhadap kurikulum dayah, peran ulama dan fungsi seni Aceh

Sementara itu, kondisi dayah saat ini, menurut Saifuddin Dhuhri, harus dilihat dari perspektif sejarah, yaitu sebuah kondisi dari hasil negoisasi ulama Aceh dengan penindasan Belanda dengan Stattblad 550, menghadapi tekanan pemerintah pusat karena DI/TII, dan juga karena pertimbangan kelanjutan ulama dan pendidikan agama Islam di Aceh.

Saifuddin menambahkan, peradaban Aceh tidak akan mungkin hadir kembali kecuali melalui pendidikan dayah, karena dayah adalah satu-satu pendidikan asli Aceh yang kehadirannya adalah warisan kejayaan peradaban dahulu dan wujudnya menjadi kesadaran kolektif masyarakat banyak saat ini.

“Dengan kata lain, jika dayah maju dan gemilang maka Aceh pun akan maju dan gemilang”, ujar Saifuddin yang menamatkan gelar sarjana di Universitas Al-Azhar dan S2 di Maroko ini.

Sementara itu,  Teuku Zulkhairi,MA, ketua panitia bedah buku yang juga pegawai di Kementerian Agama Provinsi Aceh mengatakan, pihaknya menyelenggarakan acara bedah buku ini agar masukan-masukan dari buku ini langsung didengar oleh stakeholder yang mengurus dayah seperti Badan Dayah dan Bidang Pondok Pesantren Kementerian Agama Aceh.

“Jadi, kita memfasilitasi kegiatan bedah buku ini dengan harapan agar terbangun sebuah komunikasi dan relasi yang baik antara kaum intelektual dan pemikir dengan instansi pemerintah sehingga mereka bisa merumuskan kebijakan pembangunan. Harus kita akui, instansi- instansi pemerintah membutuhkan ide-ide dan masukan dari kaum intelektual dan pemikir agar bisa menyusun program-program kegiatan pembangunan agar sesuai dengan tuntutan zaman dan sesuai dengan kebutuhan kekinian”, ujar Zulkhairi. [y]

Layanan
Tentang
Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh adalah unit vertikal Kementerian Agama di provinsi dan membawahi beberapa kantor kementerian agama di kabupaten dan kota.
Alamat
Jalan Tgk. Abu Lam U No. 9 Banda Aceh 23242
Bimbingan Masyarakat
Islam Hindu Kristen Katolik Buddha
Lainnya
Media Sosial
© 2026 Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh
Oleh : Humas Kanwil Aceh