(Karang Baru|Sofyan) – Tokoh Melayu yang juga merupakan anggota Komisi X DPR RI, Prof. Dr. Ir. Djohar Arifin Husin, menjadi pembicara utama dalam Diskusi Budaya (membual Budaye) bertajuk “Revitalisasi Budaya Melayu Mengembalikan Jati Diri yang Semakin Menjauh Untuk Lebih Bermartabat dan Bermarwah,” yang diadakan oleh Majelis Adat Budaya Melayu Tamiang (MABMETA) di Aula Al-Ikhwan Kan kemenag Aceh Tamiang, pada Rabu (20/7/2022).
“Di mane ranting dipatah, di sian aye di saok (di mana ranting dipatah, di situ air ditimba) | di mane bumi dipijak di sian langet dijunjong (di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung) | adat benarkah jase behibah (adat bernaskah jasa berhibah) | Tamiang Negeri Pucok Suloh (Tamiang Negeri yang didirikan oleh Raja bernama Pucok Suloh) | Pengaseh Pape Setie Mati (Negeri dengan berkasih-sayang walaupun dalam kemiskinan dan setia sampai mati), demikian pepatah dan moto yang dipaparkan dalam tajuk kegiatan tersebut.
Bupati Aceh Tamiang, H. Mursil, SH, MKn, dalam sambutannya sangat mengapresiasi panitia yang berhasil mengumpulkan peserta diskusi hingga mencapai 300 orang lebih.
Ia juga berharap kiranya dalam ulang tahun MABMETA yang ke-4 ini mampu menginterpretasikan adat budaya Tamiang dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Kabupaten Aceh Tamiang.
“Budaya kita sudah rusak saat ini, dalam pemilihan Datok Penghulu (Kepala Desa) saja sudah pakai suap-menyuap, apalagi anggota Legislatif dan Kepala Daerah,” ujarnya, “tapi saya tidak pakek suap-menyuap saat terpilih kemarin,” lanjutnya lagi.
Usai dibuka oleh Bupati Aceh Tamiang, acara dilanjutkan diskusi tentang adat budaya Tamiang dengan Pembicara pertama, Prof. Dr. Ir. Djohar Arifin Husin (anggota Komisi X DPR RI dan merupakan tokoh Melayu dari Langkat) dengan judul makalah “Jati Diri Melayu” dan Pembicara kedua, Ir. Muntasir Wan Diman (Penulis Buku “Tamiang Dalam Lintasan Sejarah) dengan judul “Adat Budaya Perkawinan.”














