Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Simeulue yang diwakili Kasubbag TU Ansaruddin, menghadiri acara Ibda' Kitab, Khatamul Kitab, dan Peusijuek Santri Baru Tahun Ajaran 2026/2027 di Dayah Raudhatul Ma'wa Al-Aziziyah, Desa Busung Indah, Kecamatan Teupah Tengah, Selasa, 28 Juli 2026.
Acara pada dayah yang dipimpin oleh Tgk Abi Muhammad Hanafi ini berlangsung khidmat dan dihadiri oleh perwakilan dari DSI, Pendidikan Dayah, Ketua Baitul Mal, jajaran dewan asatidz, tokoh masyarakat, serta wali santri yang mengantarkan putra-putrinya untuk menimba ilmu agama.
Dalam sambutannya, Ansaruddin memberikan apresiasi tinggi atas kiprah Dayah Raudhatul Ma'wa Al-Aziziyah dalam mencetak generasi penerus bangsa yang berakhlak mulia. Ia menekankan bahwa memasukkan anak ke dayah atau pesantren adalah langkah paling tepat di tengah disrupsi informasi dan tantangan moral era digital.
"Tradisi Ibda' Kitab ini bukan sekadar seremonial membuka halaman pertama sebuah buku. Ini adalah gerbang awal bagi para santri untuk menyambungkan sanad keilmuan yang jelas dan tidak terputus hingga ke Rasulullah SAW. Belajar dari guru yang mu'tabar akan menyelamatkan generasi kita dari pemahaman agama yang instan dan keliru," tegas Ansaruddin di hadapan para hadirin.
Lebih lanjut, Ansaruddin membagikan tiga kunci utama keberhasilan bagi santri baru, yakni meluruskan niat semata-mata karena Allah (tajdidun niat), mengutamakan adab di atas ilmu (al-adab fauqal ilmi), serta bersabar dalam menjalani masa riyadhah atau tirakat kehidupan pesantren.
"Barangsiapa yang tidak mau merasakan pahitnya belajar sesaat, ia harus bersiap merasakan hinanya kebodohan sepanjang hayat. Perjuangan antre mandi, tidur seadanya, dan jauh dari orang tua adalah proses penempaan jiwa yang kelak membesarkan kalian," pesannya kepada para santri.
Selain penguatan tradisi keilmuan pesantren, Ansaruddin juga menitipkan visi kebangsaan Kementerian Agama. Ia berharap lulusan dayah di Kabupaten Simeulue mampu menjadi agen moderasi beragama yang membawa pemahaman Islam wasathiyah (moderat) dan rahmatan lil 'alamin.
Para santri diharapkan tidak hanya menguasai ilmu tafaqquh fiddin (pemahaman agama), tetapi juga menanamkan jiwa nasionalisme yang kuat atau hubbul wathan minal iman (cinta tanah air adalah sebagian dari iman).
Kepada para wali santri yang hadir, Ansaruddin berpesan agar mereka menyerahkan pendidikan anak-anaknya sepenuhnya kepada pihak dayah dengan ikhlas. "Tugas anak adalah berjuang menuntut ilmu, sementara tugas orang tua di rumah adalah mendoakan di sepertiga malam agar ilmu mereka berkah dan bermanfaat," pungkasnya.
Acara ini ditutup dengan prosesi adat peusijuek (tepung tawar) sebagai bentuk doa keselamatan dan keberkahan bagi para santri baru yang akan memulai perjalanan spiritual dan intelektualnya di Dayah Raudhatul Ma'wa Al-Aziziyah.[]












