[Banda Aceh | Muhammad Yakub Yahya] “Ada sahabat yang menginfakkan hartanya semua, ada yang separuh, dan ada yang di bawah itu. Sahabat berlomba dalam bersedekah, juga dalam amalan sosial lain, seperti antara Abu Bakar Ash-Shiddieq dan Umar bin Khattab ra,” kisah penceramah asal Sigli, dalam Kajian Jum’atan di Taman Sari (12/12).
Sambung Ust H Maimun Ali Lc MA, dengan bahasa Indonesia dan Aceh nan lugas, di hadapan jamaah dari pejabat, siswa, dan jajaran Kanwil Kemenag Aceh itu, “Jika kita yakin dengan balasan Allah, insya Allahh akan mengganti sedekah yang kita keluarkan dengan balasan berlipat, bahkan surga.”
“Sedangkan kita, asyik berlomba dalam karir duniawi. Jika kita ketemu, kita bicara dunia saja, apa job dan apa jabatan sekarang, mobil baru kapan diganti, dan berapa istri sudah?” sambung dan tanyanya, dalam Dakwah Umum di Taman Sari pertengahan Shafar 1436 H ini, yang juga disiarkan RRI dan radio lainnya.
Di samping itu, soal penyambutan Tahun Baru nanti, yang tak boleh diikuti oleh umat Islam, Ustadz yang kenakan baju merah itu, tanyai pula jamaah, “Siapa mau berinfaq setengah harta seperti sahabat?”
Jamaah diam, dan disambungnya lagi, “Jangan berkerut dahi, saya tak minta sedekah, saya hanya mau minta, jangan keluarkan dana sepeser pun untuk rayakan tahun baru. Jangan beli terompet dan kembang api, yang sejarahnya dari Nasrani yang sembah lambang, dan Majusi yang sembah api itu.”
Ceramah pun lancar hingga lewati pukul 10.00 WIB. Lancar saja, sebagaimana penceramah lainnya, sebelumnya tiap bulan…
Sebelumnya masuk undangan ke hp kami, untuk diumumkan ke jajaran Kanwil (dan Senam Jantung Sehat ditiadakan), “Kami mengundang semua warga dan 75% unsur SKPA Kota Banda Aceh,” jelas Walikota Banda Aceh, yang diwakili Kadis Syariat Islam H Mairul Hazami MSi.
Pekan lalu tampil DR Achyar Zein MAg (Alumni IAIN Ar-Raniry, Dosen IAIN Sumut), dan sebelumnya ada H Qasim Nurseha Lc MA (Penulis Buku, Alumni al-Azhar Cairo), sebagai penceramah dan pemandu doa, yang mengajak warga Aceh wariskan ilmu agama pada anaknya.
Katanya, toleransi antar agama, yang dibangun ada batasan yang harus dipahami, yang hanya untuk mu’amalah (di luar ‘aqidah), jangan sampai kita digiring ke kesyirikan dan ke kemurtadan.
Dan sebelumnya, kajian Jumat (24 Okt), sebelum 1 Muharram (Sabtu, 25 Okt) itu, diisi oleh Mayjen TNI DR H Areif Rahman MD, yang banyak dihadiri TNI/Polri.
Kajian juga pernah diisi oleh penceramah lokal dan nasional, ada juga akademisi UIN Ar-Raniry, seperti DR Muhammad Yasir Yusuf yang musim haji lalu, sebagai TPHI Aceh.
Tahun lalu, kajian juga pernah diisi oleh penceramah asal Meureudu (dulu Pidie), Tgk H Faisal Hasan Sufi yang lama di Arab dan telah melalangbuana ke mana-mana itu, mengupas soal “keislaman” dan “keselamatan”.
Namun…. dan, Ustadz H Maimun dalam kajiian akhir tahun (saat yang sama, kami menuju Serambi Indonesia untuk cetak majalah Santunan edisi 12/Desember 2014, dan di lapangan voli Kanwil sedang ada persiapan lomba menembak, bersama Kemenag, Perbakin, Fokbar, dan Pemkot) pun, tidak sempat akhiri doa, sebagaimana sebagian dai lainnya. Di atas panggung, atas mimbar di Taman Sari, mungkin karena letih, da’i asal Pidie itu pun, jatuh, bruuuuk...atas mimbar, oh! [inmas]













