Tiga peneliti muda MTsN 1 Model Banda Aceh mengembangkan INONG TANGGUH, inovasi pendidikan kebencanaan berbasis kearifan lokal Aceh untuk memberdayakan remaja perempuan agar lebih tangguh, mandiri, dan sigap menghadapi situasi darurat. Penelitian ini diangkat dalam bidang Sustainable Development Goals (SDGs) pada ajang Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) Riset 2026, Rabu, 28 Oktober 2026.
Penelitian bertajuk “INONG TANGGUH: Pembelajaran Mendalam Berbasis Kearifan Lokal Aceh untuk Pemberdayaan Remaja Perempuan melalui Kesiapsiagaan Bencana” ini dikembangkan oleh Muhammad Daiyan Jalal Ifansyah, Moehammad Zidan Ar-Rayyan, dan Muhammad Yusuf Alfarabi, dengan bimbingan Nurmahni Harahap MPd dan Halimatus Sakdiah Hasibuan SPt.
Kepala MTsN 1 Model Banda Aceh, Dr Hj Ummiyani SAg MPd CPLA, mengapresiasi penelitian tersebut karena tidak hanya berorientasi pada prestasi, tetapi juga menawarkan solusi atas persoalan nyata di masyarakat.
“Sebagai kepala madrasah, saya mendukung penuh penelitian INONG TANGGUH karena memiliki nilai edukasi dan manfaat nyata bagi peserta didik, khususnya dalam membangun kesiapsiagaan menghadapi bencana. Kami akan terus mendorong lahirnya karya inovatif siswa yang berprestasi sekaligus memberikan kontribusi bagi masyarakat,” ujar Ummiyani.
Berangkat dari tingginya risiko bencana di Aceh, termasuk pengalaman tsunami 2004, INONG TANGGUH memadukan pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) dengan kearifan lokal Smong, tradisi pengetahuan masyarakat Simeulue untuk mengenali tanda-tanda tsunami dan menyelamatkan diri.
Penelitian ini melibatkan siswi kelas VII dan VIII melalui pelatihan selama tujuh hari yang mencakup kesiapsiagaan menghadapi lima jenis bencana: gempa bumi, tsunami, banjir, kebakaran, dan angin kencang. Materi meliputi pengenalan risiko, perlindungan diri, jalur evakuasi, titik kumpul, hingga pengambilan keputusan saat darurat. Tim juga menyusun Buku Saku INONG TANGGUH sebagai panduan pembelajaran dan penyelamatan diri.
Menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model ADDIE serta pendekatan kuantitatif dan kualitatif (mixed methods), tim mengumpulkan data melalui tes, kuesioner, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Wawancara melibatkan berbagai pemangku kepentingan, antara lain Basarnas, BPBA, BPBD Kota Banda Aceh, DP3AP2KB Kota Banda Aceh, Kankemenag Kota Banda Aceh, akademisi, peneliti kebencanaan, kepala madrasah, guru, dan wali murid.
Hasil analisis wawancara menunjukkan perlunya penguatan pendidikan kesiapsiagaan bencana di madrasah melalui pembelajaran berkelanjutan, pemahaman jalur evakuasi, simulasi rutin, serta keterlibatan aktif peserta didik dalam pengurangan risiko bencana.
Ummiyani menegaskan bahwa pendidikan kebencanaan penting untuk membentuk karakter, kemandirian, dan kepedulian sosial peserta didik. Ia berharap INONG TANGGUH dapat dikembangkan lebih lanjut dan menginspirasi penguatan budaya siaga bencana di madrasah, sekaligus mendorong remaja perempuan semakin mandiri, tangguh, dan percaya diri menghadapi keadaan darurat.
Inovasi ini mendukung empat tujuan pembangunan berkelanjutan, yakni SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, SDG 5 tentang Kesetaraan Gender, SDG 11 tentang Kota dan Permukiman Berkelanjutan, serta SDG 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim.
Melalui INONG TANGGUH, para peneliti muda MTsN 1 Banda Aceh menunjukkan bahwa kearifan lokal dapat menjadi fondasi pendidikan kebencanaan yang relevan bagi generasi muda sekaligus memperkuat budaya sadar bencana di Aceh.











