[Kanwil | Muhammad Yakub Yahya] Pagi itu, selagi kawan-kawan ada yang baru sampai (tiba), ada yang sedang teken (cilet), ada yang sudah kerja (update berita), ada yang teliti es ka, ada yang ikuti tivi berita ka pe ka, ada yang naik-turun tangga, ada yang cek pulsa, ada yang jaga finger print seraya menyapa, dan ada yang lap kaca.
Ada rekan yang sedang ngopi dan makan bada, dan yang masih ukur jalan (usai mengantar anak dan cucu mertua), ada rekan yang berdiri mematung, dekat mushalla Al-Ikhlas. Terdengarlah dialog sedahan daun, daun bunga, dengan serumpun bayang, bayangan daun hijau muda itu.
Mentari pagi belumlah hangat, menyapa di atas bahu-punggung daun. Di bawahnya rerumputan muda dan tanah kerikil kecil, merindukan bayang, agar rumput halus tidak lekas panas, hingga matahari pamitan di balik awan.
Angin pagi di Taman Sari masuk ke pekarangan, mengayun daun ke kanan kiri. Bayang terus bergeser ke timur daun bunga. Rumput di bawah merasa kikuk.
“Bergeser sedikit wahai daun, duhai bayang sayang, moga rumput di bawah aku tak kepanasan,” rayu bayang pada daun, memancing rasa.
“Oo… angin pagi, tiuplan lebih kuat, agar bayang aku merata ke seluruh bawahan,” balas bayang. Dengan tulusnya, angin pun mengeras, bayang pun bergoyang, lebih beritme dinamis.
“Terima kasih bayang, terima kasih angin,” sahut rumput di bawah.
Di atas juga, terdengar halus, haluuus nyaris tak terdengar, dialog selagi berbisik itu, bahkan bisikan masuk-naik ke balik kaca gedung baru Kanwil. Namun ada yang masih setia mendengar dendangannya.
Adalah Muallim, staf honorer di Bidang Pendidikan Madrasah, selain rajin tunaikan tugas pokok pada pengadministrasian di Bidangnya, juga sempat peduli dengan hak sesama makhluk, sang bunga tadi, di sebagian pagi. Dia tidak sendirian, tentunya.
Ditimbanya air di kamar mandi lantai dasar, samping ruang Pontren dan sebelah PAI (sebelum Bidang itu dipindahkan dulu). Dinaikkan air dalam ember yang beridameter 35 cm ke lantai dua, samping aula. Disiramnya pelan si daun itu.
Ia melangkah ke luar pagar teras aula, lantai atas. Sebelum ia tiba, terdengar lagi sapaan bunga, ‘hamba Allah sebentar-bentar ke kantin, sirami badan dengan dalih kehausan, kami pun juga rindu keseringan dibelai, ingin minum saban pagi, lebih pagi, sebelum rekan beranjak ke ruangan, atau ke warung di sebelahan.’
Lelaki lajang itu, memang sering curhat pada rekan yang setianya, tapi kini bunga yang curhat padanya, ‘Siramlah daku sebelum layu.’ Oh… []















