[Jambi | Mukhlisuddin/Yakub Inmas] Ada sejumlah keluhan yang kami rekam dalam perhelatan Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK) V di Kota Jambi. Apresiasi memang banyak juga, termasuk dari Menag RI saat membuka acara (3/9). Melihat partisipasi Pemda dan jajarannya, madrasah (siswa dan pramuka) dan warga, memang patut diberi apresiasi.
Di antara keluhan muncul karena pemondokan yang dipusatkan pada beberapa titik, tapi penunjang tidak memadai. Beberapa madrasah tempat penginapan terletak sekitar 2-4 km dari arena, Ponpes As’ad Jambi Seberang, Jambi. Di posko Aceh (MTsN Olak Kemang) saja, dikumpulkan 8 provinsi.
Untuk ke seberang, ke kota Jambi, harus memutar hampir 30-40 menit, jika lewat jembatan panjang di barat. Jika ke jembatan arah timur lebih jauh lagi, dan jalannya berlobang-lobang, seperti saat kontingen yang bawa barang datang, di hari pertama tiba di Jambi. Semua melewati Sungai Batang Hari yang terpanjang di Sumatera itu.
Ada keluhan kontingen yang menyangkut transportasi yang telah disediakan untuk tiap provinsi, tapi kadang tidak stand by di posko, tapi bukan dialami oleh kontingen Aceh. Di samping masalah MCK dan penerangan. Bahkan Kamis (4/9) mati lampu di beberapa wilayah Kota dan posko. Namun pelayanan kesehatan masih bagus, apalagi itu bersebelahan dengan ‘kamar Aceh’.
Berikut sejumlah kekurangan, catatan negatif dari MQKN V Jambi:
1. Kekurangan Fasilitas Air Bersih
2. Kekurangan Sarana MCK (peserta 8 provinsi disediakan 4 MCK)
3. Tidak tersedia media akses portal penilaian
4. Jadwal kegiatan yang amburadul
5. Tempat penginapan peserta yang tidak standar (25 orang menginap di suhu 30°C tanpa disediakan kipas angin).
Pun demikian, sejumlah kyai, peserta dan official MQKN menilai pelaksanaan MQKN V yang sedang berlangsung di Provinsi Jambi dinilai paling meriah dibandingkan pada pelaksanaan MQKN pada tahun-tahun sebelumnya.
Penilaian itu disampaikan salah seorang official asal Provinsi Papua H.Sulham Ma’mun di arena lomba Marhala Akhlak hari ini (4/9). Menurutnya, kemariahan itu jelas terlihat dari banyaknya peserta dan luasnya areal lokasi Popes Asad serta peran pemerintah dalam menyukseskan MQKN. “jika di banding pelaksanaan MQKN di sebelumnya di NTB saya lihat lebih meriah di sini,” ujarnya.
Dia mengakui, peran pemerintah dalam memajukan pondok pesantren sangat dibutuhkan dan semangat itu dimiliki Provinsi Jambi di mana Gubernurnya sangat perhatian pada pelaksanaan MQKN sehingga berjalan sukses.
Sementara itu peserta MQKN dari Sulawesi Barat Heriawan mengaku sudah dua kali mengikuti MQKN juga menilai jika pelaksanaan MQKN di Jambi sangat meriah. “Alhamdulillah, saya sudah dua kali mengikuti MQKN, saya menilai jika dibanding pelaksanaan MQKN sebelumnya, di jambi lebih meriah,” katanya. []













