[Karang Baru | Muhammad Sofyan] Allah SWT mewajibkan kita melakukan ibadah puasa di bulan Ramadhan, posisi kita di sini adlah sebagai orang yang beriman karena orang melakukan puasa itu meyakini dirinya orang yang beriman sedangkan orang yang tak melakukan ibadah puasa (tanpa 'uzur syar’i) bukan orang yang beriman. Proses untuk mencapai ketaqwaan adalah orang yang beriman.
Ucapan tersebut disampaikan oleh M. Dahlan, MA staf KUA Kec. Bendahara dalam Tausiyah singkatnya usai Shalat Zhuhur di Aula Al-Ikhwan Kankemenag Tamiang pada Rabu (16/7).Antara iman dan prosesnya menuju Taqwa itu sebanding atau sejalan. Orang yang taqwa itu orang yang benar-benar menjalankan perintah Allah dan benar-benar menjauhi larangannya.
Pendapat dari Abu Zamzami bahwa, “Taqwa yang paling sempurna adalah yang sangat memperhatikan (meninggalkan) hal-hal yang kecil yang belum jelas kehalalannya atau keharamannya (syubhat)."
Kalau kita perhatikan dalam QS Al-Zalzalah ayat 7-8 yang artinya “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya, dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar zarrah pun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula”, oleh karena itu jangan kita remehkan soalan yang kecil itu yang merupakan kebaikan karena lama-kelamaan akan mejadi besar demikian juga dengan hal-hal yang merupakan bibit kejahatan karena lama kelamaan akan menajadi besar dan menjadi musuh yang nyata.
"Dalam Al-Qur-an, Allah mengatakan musuh yang paling nyata bagi kita adalah syaithan dan musuh dalam diri kita yang paling besar adalah nafsu. Kenapa puasa Ramadhan ini sebenarnya sangat penting sekali untuk mengendalikan nafsu kita yang sering digunakan syaithan sebagai kendaraannya," ujar M. Dahlan mengakhiri Tausiyahnya. [yyy]












