Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia Tahun 2026 ke-81, Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan melaksanakan Upacara Ziarah Makam Pahlawan di Kompleks Makam Teuku Cut Ali, Kecamatan Kluet Selatan pada Sabtu, 15 Agustus 2026.
Upacara ziarah dipimpin langsung oleh Bupati Aceh Selatan, H Mirwan MS SE MSos dan diikuti oleh unsur Forkopimda, jajaran Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan, serta sejumlah instansi terkait.
Rangkaian kegiatan diawali dengan upacara penghormatan kepada para pahlawan yang telah gugur dalam perjuangan mempertahankan tanah air. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan peletakan karangan bunga sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan atas jasa para pejuang.
Dalam kesempatan tersebut, doa untuk para pahlawan disampaikan oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Selatan yang dalam hal ini diwakili oleh Kepala Seksi Pendidikan Madrasah, H Dailami Hasmar SAg.
Dalam doanya, H Dailami Hasmar mengajak seluruh peserta untuk menjadikan momentum ziarah makam sebagai sarana mengenang sekaligus menghormati jasa para pahlawan yang telah berkorban demi kemerdekaan bangsa.
“Semoga Allah SWT menerima seluruh amal perjuangan mereka, menempatkan para syuhada di tempat yang mulia di sisi-Nya, serta memberikan kita kekuatan untuk melanjutkan perjuangan dengan mengisi kemerdekaan melalui pengabdian terbaik kepada masyarakat, bangsa, dan negara.”
Usai pelaksanaan ziarah di Kompleks Makam Teuku Cut Ali, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Kompleks Makam Panglima Raja Lelo. Di lokasi tersebut, rangkaian penghormatan kembali dilakukan dengan peletakan karangan bunga.
Mengenang Perjuangan Teuku Cut Ali dan Panglima Raja Lelo
Mengenang kembali sejarah perjuangan para pahlawan Aceh Selatan, khususnya Teuku Cut Ali dan Panglima Raja Lelo, dua sosok pejuang yang memiliki peran penting dalam perlawanan terhadap penjajahan Belanda di wilayah Aceh Selatan.
Merujuk pada situs Disbudpar Aceh, Teuku Cut Ali dilahirkan di Desa Kuta Baro, Kecamatan Trumon, Kabupaten Aceh Selatan, pada tahun 1795. Sejak usia 18 tahun, ia telah terlibat dalam perjuangan melawan Belanda. Pada usia 20 tahun, Teuku Cut Ali dipercaya menjadi Panglima Sagoe.
Pada Juni 1826, Teuku Cut Ali bersama para pejuang Muslim kembali melancarkan serangan terhadap pasukan Belanda di sekitar Gampong Ie Mirah, Kecamatan Pasie Raja. Dalam pertempuran tersebut, Teuku Cut Ali didampingi oleh Tgk. Banta Saidi, yang lebih dikenal dengan nama Panglima Raja Lelo, seorang panglima perang di wilayah Kluet.
Pertempuran berlangsung sengit dan menimbulkan korban di kedua belah pihak. Teuku Cut Ali akhirnya gugur sebagai syahid setelah terkena serangan Kapten Paris. Melihat Teuku Cut Ali gugur, Raja Lelo melakukan serangan balik dan berhasil melumpuhkan Kapten Paris.
Jasad Teuku Cut Ali kemudian dibawa ke Desa Suaq Bakong, Kecamatan Kluet Selatan, Kabupaten Aceh Selatan, dan dimakamkan di tempat tersebut. Sementara itu, Raja Lelo bersama para pejuang Muslim lainnya terus melanjutkan perjuangan menghadapi pasukan Belanda.
Panglima Raja Lelo, yang memiliki nama asli Banta Saidi, lahir pada 1 Agustus 1780. Ia dikenal sebagai salah seorang pemimpin perlawanan bersenjata di wilayah Aceh Selatan, khususnya di kawasan Kluet dan Pasie Raja. Dalam perjuangannya, Raja Lelo menerapkan taktik perang gerilya yang membuat pasukan Belanda kewalahan.
Sementara itu, sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan perjuangan, nama Teuku Cut Ali kini diabadikan sebagai nama bandar udara di Kecamatan Pasi Raja, Kabupaten Aceh Selatan.












