[Idi | Jamaluddin] Operator madrasah, demikian biasa dipanggil kepada orang yang ditugaskan menangani sejumlah aplikasi menyangkut keuangan madrasah, pendidikan dan lain halnya yang terkait dengan laporan satuan kerja. Tugas operator kini semakin berat dan komplek dengan munculnya berbagai macam aplikasi, sistem berbasis online dan laporan lainnya.
Bagi satuan kerja, khususnya madrasah yang berstatus Negeri, hingga saat ini sudah ada 12 (dua belas) aplikasi berjenis online dan lokal, diantaranya aplikasi SPM, Silabi, Simak BMN, Persediaan, Sakpa, Gpp, RKAKL, Adp madrasah, PP 39, NUPTK (Padamu Negeri), Emis, dan E-Mpa, ini belum termasuk laporan pembukuan bendahara. Dan hari ini, Senin (22/9), operator madrasah kembali mendapat tugas baru berupa sistem online SIM Sarpras (Sistem Informasi Manajemen Sarana Prasarana).
Kepala seksi Pendidikan Madrasah (Dikmad) Fadli,S.Ag ketika membuka sosialisasi SIM Sarpras tersebut mengharapkan kepada operator yang hadir untuk memahami dengan serius sistem tersebut, Ia juga mengharapkan agar ada pembagian tugas dengan pegawai di suatu madrasah hingga tercapainya hasil kerja yang memuaskan.
“Operator tidak boleh rangkap jabatan, idealnya 2 aplikasi, maksimal bisa 4 aplikasi, jangan semua pekerjaan dibebankan kepada satu orang saja,” tegasnya dihadapan operator yang hadir di aula Kankemenag Aceh Timur itu.
Mengenai statemen tersebut, hal ini ditanggapi beragam oleh sejumlah operator. Rahmah dari MIN Peureulak misalnya, ia sangat setuju dengan permintaan pak Kasi Dikmad itu, menurutnya tugas operator akan mudah jika ada pembagian tugas. “Setuju sekali, tapi gak tau mau bagi sama siapa,” ujarnya yang menandakan kekurangan personil di madrasahnya.
Hal senada disampaikan Nasri dari MIN Tanjung Tualang, kekurangan dan tidak ada tenaga kerja bagian administrasi di madrasah mengakibatkan pekerjaan operator menjadi rangkap, kenyataan ini sangat dilematis sehingga beban kerja semakin bertambah.
“Jika ingin berbagi pekerjaan dengan dewan guru, mengakibatkan tupoksi guru menjadi terganggu, belum lagi kebanyakan guru belum bisa menggunakan laptop,mau tidak mau harus kerja sendiri,” keluh Nasri yang sudah 3 tahun menjadi operator.
Kekurangan personil dan tugas operator yang komplek dan berat hampir dirasakan di semua madrasah, jika dulu terbantu oleh guru matematika yang dipercayakan membantu tugas-tugas menyangkut aplikasi itu, kini para guru tersebut sudah sertifikasi dan tidak bisa lagi rangkap jabatan sebagai operator, hal ini yang dirasakan operator baru yang kini bertugas di bagian Tata Usaha Madrasah tersebut.
Iskandar dari MIN Meunasah Teungoh Lhoknibong dan Fakhrurrazi dari MTsN Simpang Ulim misalnya, kini harus bekerja ekstra sendiri menyelesaikan segala aplikasi dan laporan terkait. “Agak repot pak, apalagi jika data yang diminta dalam waktu yang bersamaan, harus siap cepat, sementara kita sendiri yang kerja,” keluh Iskandar yang didampingi Fakhrurrazi itu.
Motto Ikhlas Beramal kini benar-benar dirasakan oleh operator madrasah tersebut, honor yang tidak sebanding dengan pekerjaan, membuat mereka harus bersabar dan diharuskan kuat melaksanakan segala tugas yang diemban, dengan niat ibadah mengharapkan pahala dari Allah, mudah-mudahan Allah membantu mereka, dan kita semua di jajaran Kementerian Agama, Amin... [yyy]












