[Kanwil | Muhammad Yakub Yahya] Jelang keberangkatan JCH Aceh Jumat malam, lewat pukul 22.00 WIB (19 September). “Kita bangga dengan armada/pesawat untuk Aceh. Yang dipakai kali ini, pesawat terbaru produksi Perancis,” jelas pihak GIA/Garuda Indonesian Airways.
“Di Bandara SIM (Sultan Iskandar Muda) juga hampir 20 penerbangan jamaah sudah transit pesawat dari timur nusantara. Embarakasi Aceh terbaik kedua, setelah Halim Perdana Kusuma. Peringkat ketiga untuk Medan (Bandara Kuala Namu),” lanjut Pak Nano.
Seru juga nama ikan kayu, keumamah disinggung dalam rapat PPIH dan PPPIH 1435 H di Aula Arafah (15 September). Karena ini makanan khas, pihak kesehatan meminta prosedul makanan yang ke luar negeri, perlu ditempuh. Jangan nanti ada yang menyalahkan pihak bea cukai, dan pihak lainnya.
"Namun pihak keumamah sudah dan telah tempuh prosedur semuanya, moga hana masalah..." ujar pihak pengada keumamah, Sulaiman.
Menurut Kakanwil, keumamah ini, khas Aceh, kebanggaan Aceh. Sumbangsih Pemda Aceh untuk jamaah, ke luar negeri lagi. Jadi kita sepakat dengan bawaan keumamah. Namun prosedur lab dan kesehatan untuk keumamah perlu diuji dulu.
“Ini cenderamata atau bungong jaroe yang diberikan Pemda Aceh,” jelas pihak pengadaan keumamah. Penghargaan soal keumamah, raih apresiasi nomor 1 untuk Provinsi, di tingkat nasional, untuk UD Tuna ini.
Sementara itu, harapan dari jamaah, menurut Drs H Aiyub MA, soal pembekalan buat jamaah memang sudah bagus seperti selama ini, dan itu perlu dipertahankan. Yakni soal slide yang dipaparkan pada jamaah. Termasuk teknik saat jamaah di bandara dan dalam pesawat. Semua tayangan disajikan oleh pihak penerbangan GIA.
“Tapi bukan teori, tapi praktek….,” pinta Kakanwil, yang memimpin rapat di Aula Arafah. Maksudnya perlu penjelasan detil via slide soal penerbangan, bukan teori, untuk semua jamaah. [akhyar/khairul/amwar/fajriah/ahsan]












