[Kanwil | Yakub] Diawali dengan hafalan (tahfizh) Kalam Ilahi, oleh Ananda Zakiyul Maula (mewakili Kota Lhokseumawe), dua acara sukses digelar, di Aula Kanwil Kemenag Aceh.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh Drs HM Daud Pakeh melepaskan kontingen Pekan Olah Raga dan Seni Madrasah Diniyah Takmiliyah Nasional (Porsadinnas) II ke Tangerang, Banten, Selasa (17/11).
“Insya Allah kontingen berangkat ke Banten, Rabu. Kontingen dibina sejak kemarin dan hari ini (16-17/11), insya Allah besok berangkat,” lapor Ketua Kontingen H Amien Chusaini, dan dijelaskan Kakanwil selanjutnya, bahwa biasa Kakanwil ikut bersama peserta, tapi mengingat masih ada agenda di Aceh, maka yang mendampingi Kabag TU dulu, dan Kakanwil menyusul.
Namun sebelum pelepasan santri itu, Kakanwil (yang baru membuka Rakor KUB di Grand Nanggroe dan menjadi pemateri dalam Rakor Kepala MI se Aceh di Asrama Haji), juga melantik Pengurus Wilayah Forum Komunikasi Madrasah Diniyah Takmilliyah Aceh, Masa Bakti 2014-2019.
Ketua yang dilantik ialah Azhari SE dan Sekretaris M Gade SPd, beserta jajarannya. Pembacaan SK, oleh H Muhammad Haifizh SSos, selaku salah satu pengurus FKDT, dan MC acara di aula itu, Firdawani SAg, staf di Bidang PD Pontren.
Kakanwil sampaikan selamat dan harapan bagi forum yang dilantik, dan pada kontingen. Namun sebelum itu, panitia sampaikan laporan singkat.

Usai Ananda ‘khatamkan’ separuh isi QS Al-Muthaffifin (yang bicara soal kecurangan, pendusta, sijjin dan ‘illiyyin), Ketua Panitia/Ketua Kontingen Drs H M Amien Chusaini, sampaikan laporannya. “Forum Komunikasi Madrasah Diniyah Takmilliyah Aceh ini sebagai mitra Kanwil, di bawah Bidang PD Pontren, dan bertujuan jalin hubungan dan tingkatkan perkembangan Madrasah Diniyah Takmiliyah di Aceh,” ujar Ustadz Amien.
“Bedakan madrasah takmiliyah dan pesantren, jaga kekhasannya, karena keduanya memang berbeda pola,” ajak Kakanwil, seraya merinci perkembangan madrasah takmiliyah di nusantara prakemerdekaan, dan pascanya. Juga di Aceh, juga di Sigli, dengan alumninya yang kelak jadi birokrat, pejabat, pengusaha, dan militer.
Kakanwil rincikan peran Diniyah di Padang Panjang, kisah Abu Daud Beureueh dengan Diniyah Blang Paseh-nya. Kakanwil semangati peserta akan kisah tokoh nasional dan lokal, alumni diniyah. Almarhum Prof Ali Hasjmi, Prof Ibrahim Husein, Ibrahim Risyad, DR Hasan Tiro, dan lainnya, sedikit dari deretan yang dididik dari diniyah takmiliyah, yang berpola beda dengan pesantren, yang belajarnya di bangku itu.
Dalam sejarah, kisah ayahanda Prof Buya Hamka, heroiknya Tgk H Hamid Samalanga (ayahnya Prof Humam dan DR Farhan Hamid) itu, selalu dikaitkan dengan lembaga madin ini.
Lalu, Kakanwil ajak peserta, di ‘provinsi Ratu Atut dan Rano Karno’ sana, senantiasa jaga pola makan, kesehatan, dan tampil penuh semangat. “Jangan takut, semua itu kawan kita dari Indonesia juga, dan jaga nama baik Aceh. Mereka kenal Aceh dengan Syariat Islam,” sambungnya.
Pelantikan Pengurus Wilayah Forum Komunikasi Madrasah Diniyah Takmilliyah Aceh, Masa Bakti 2014-2019, dan pelepasan delegasi Pekan Olah Raga dan Seni Madrasah Diniyah Takmiliyah ke Banten, diikuti sebagian panitia dan ofisial. Sebab beberapa ada yang masih di lokasi pembekalan, di Hotel Oasis Lueng Bata.
‘Kafilah’ yang berangkat besok (18/11), diperkuat personil 25 orang: 11 peserta, 5 pelatih, dan 9 ofisial. Tema acara, jelas Ust Amien (qari) itu, “Jalin Silaturrahmi dan Raih Prestasi”.
Pada Sabtu (21/11) aneka perlombaan, dan malamnya ditutup dengan resmi. Sebelum pulang, anak Aceh akan dibawa ke luar arena untuk rekreasi, mungkin ke Taman Mini, sebelum pada 23 November kembali ke Banda Aceh.

Sebelum kembali ke Asrama Haji, untuk acara bersama Kepala MI se Aceh, Kakanwil, bersama Kabid PD Pontren H Abrar Zym SAg, para Kasi, kontingen, dan pengurus forum itu, saksikan tiga penampilan peserta yang akan salah satu pesantren di Tangerang, yang dibuka Presiden pada 20 November itu.
Pertama Saiful Husein (mewakili Aceh Tamiang), yang bawakan pidato bahasa Indonesia, dengan bumbu-bumbu guyonnya. Kakanwil salami, dan foto bersama peserta. Selanjutnya Defri Ihsan Hasyem (mewakili Kota Subulussalam), bawakan puisi islami. Ditutup oleh M Firza (mewakili Kota Lhokseumawe), lanjutkan pidato bahasa Arab.
Kakanwil singgung pula harapan ke depan dengan adanya pramuka santri dayah, pramuka madrasah diniyah, dipadukan misalnya dengan Porseni, yang mungkin saja ajang di Idi, mungkin juga di Takengon. []




















