[Embarkasi Aceh | Yakub] Kakankemenag Pidie, Drs H M Jakfar M Nur, sekilas kelihatan termasuk sosok yang tertua di antara Kakankemenag lain di Aceh. Mungkin pensiunnya pun dalam beberapa tahun ke depan. Namun semangat mudanya masih tampak.
Usia Drs H M Jakfar (yang tinggal di sebuah gampong yang banyak melinjo, di selatan arah kota Grong-Grong, Sigli), yang tahun lalu, juga jadi Petugas Kloter itu, bukan satu alasan untuk mengabaikan jamaahnya.
Meski angin malam, malam minggu (20 Sept), Kota Banda Aceh lumayan sejuk, meski dalam nyamuk, jelang keberangkatan ke Bandara SIM, bersama rombongan Kakanwil usai isya berjamaah, Pak Jakfar setia dan rela bersama para Kasi dan jajarannya, menanti jamaah Kloter 2.
Kloter yang zhuhur baru dilepaskan Bupati Pidie Sarjani Abdullah, yang pada malamnya sedang dinaiki satu per satu jamaah oleh petugas dari Aula Utama itu, harus segera ke Bandara, sebab take off pukul 22.00 WIB.
Untuk proses xray dan naik ke bus, butuh waktu hingga 1,5 jam. Artinya jika prosesnya dimulai pukul 18.15, maka pukul 19.45 bisa go berangkat ke bandara. Dalam masa itu, yang duluan naik ke bus, atau yang menanti di luar, terasa lama juga, apalagi sedang sakit (sampai 12 bus).
Soal sehat dan sakit, ini cerita lain dari Kakankemenag Pidie, yang guru madrasah itu. Bahwa, “Setiap mau Porseni saya sakit,” kisahnya saat rombongan Kakanwil menjenguknya jelang Porseni Kutacane, 2012.
“Saat Porseni Meulaboh 2011 saya juga sakit,” sambungnya.
“Namun saya kuat saat mendampingi jamaah haji sebagai Ketua Kloter 2013. Saya konsumsi air zamzam, dan banyak jalan. Ternyata saya tambah sehat, bahkan sepulang ke Sigli,” kisahnya di kali yang lain, saat Panitia Pelatihan Kehumasan dari Inmas gelar sebuah training di Wisma Safira Sigli. Cerita itu diulanginya, saat keluar makan juice dan mi, jelang tengah malam, ke tengah Kota Sigli.
Begitulah, semoga yang tua sehat, apalagi yang muda. Moga yang naik haji sehat, apalagi yang mengantar, dan menanti, meski dalam nyamuk asrama, bukan…? [inmas]













