[Embarkasi Aceh | Yakub] Dalam tausiah singkat di hadapan calon haji (calhaj) asal Aceh Utara, Bireuen, dan Pidie, Tu Suf (Tgk H Muhammad Yusuf Jeunieb) kisahkan beratnya Rukun Islam kelima, menunaikan ‘haji’. Tu Sop, meminta (bukan menasehati) jamaah yang akan berangkat, agar dalami beberapa filosofi haji, juga makna kesabaran atas ‘konflik’ sesama jamaah, dalam musim haji.
“Haji itu perjalanan jasmani dan rohani. Kita dituntut bertaqwa. Taqwa dengan ikhlaskan niat. Baju taqwa dibawa ke sana,” isyaratnya, pada hadirin yang senyap menyimak patah-patah kata, pimpinan satu dayah Jeunieb Bireuen itu.
Tu Sop yang sering ke Arab Saudi itu lanjutkan, “Biar tertinggal pakaian di sini, asal pakaian kesabaran ikut dibawa.”
Tamsilnya, diiringi senyuman jamaah, bahwa dengan haji, jangan sampai retak dan pecah kekeluargaan. Sebab ada yang bayar mahal-mahal naik pesawat, tapi sesampai di sana, bercerai!

Di hadapan Bupati Bireuen, yang merupakan pimpinan wilayahnya (Jeunieb), dan Wabup Pidie H Iriawan SE dan undangan lainnya, lanjut Teungku Yusuf, bahwa haji memang rawan konflik.
Tu Sup kutip potongan ayat, “alhajju asyhuurum ma’luumaat, faman faradha fil hajji, falaa rafatsa walaa fusuuqa walaa jidaala filhajj….” Hanya dalam haji, yang dilarang ‘jangan bicara kotor, jangan curang/durhaka, dan jangan berbantahan’. Ayat itu sebelum QS Al-Baqarah ayat 200 (doa thawaf, waminhum man yaquulu rabbanaa aatinaa fiddun-ya hasanah…)

Tidak ada seperti larangan itu dalam shalat, tidak ada ‘falaa rafatsa walaa fusuuqa walaa jidaala fish- shalah!’ Haji rawan konflik, sabar obatnya.
Temparamental jamaah diuji, kesabaran ditakar di sana. “Ada makanan, salah; tak ada makanan, salah. Telat dikasih makan, salah; cepat dikasih makan, salah. Sama-sama dikasih makan juga salah, kenapa bukan kloter kita yang duluan? serba salah jika tak sabar di sana,” cecarnya, berdasarkan pengalaman.

Pelepasan kali ini agak lama, tapi lebih berisi, karena taushiyah dan doanya lumayan panjang, tapi menyentuh qalbu. Kakanwil Kemenag Aceh Drs HM Daud Pakeh hadir bersama Kakankemenag Pidie Drs HM Djakfar M Nur, Kakankemenag Aceh Utara (diwakili Kasi PHU Drs Kasmidi), Kakankemenag Bireuen (diwakili Kasubbag TU Drs H Ismuar), Wabup Pidie H Iriawan SE, pejabat Sekdakab Aceh Utara, Bireuen, Pidie (asal JCH Kloter 7).

Ketua Kloter/ Tim Pemandu Haji Indonesia (TPHI) yang berjumlah 393 JCH ini, ialah Drs H Maiyusri (Kakankemenag Bireuen). Tim Pembimbing Ibadah Haji Indonesia (TPIHI) ialah DR H Syukri bin Muhammad Yusuf Lc MA.
Dipandu tim medis (dr Mayasofya Achmad Mahmud/dokter, Azwar Mustafa Yusuf dan Nursyidah Ilyas Hasbi sebagai paramedis).
“Pgs Kakankemenag insya Allah Pak Drs Ishak, Kasi Pakis,” jawab H Ismuar (yang jadi TPHI tahun lalu), saat admin tanya ‘siapa kakankemenagnya?’
Soal hati, Tu Sop yang beberapa kali ceramah di Halaman Masjid Raya Baiturrahman dan Kanwil itu, ajak jamaah jangan tertinggal hati di tanah air, sementara badan sudah di sana. Akhirnya, teringat kampung halaman, lalai ibadah. Pun demikian, “Semoga mabrur….” doa tiap kloter, juga dari Bupati dan Tu Sop. []
[foto2 yakub inmas]















