Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Agama Kabupaten Aceh Tenggara bersama Forum Pemerhati Madrasah Inklusi (FPMI) Aceh Tenggara melakukan kunjungan untuk melihat secara langsung perkembangan serta proses pembelajaran peserta didik inklusi di ke MIN 2 Aceh Tenggara, Selasa, 8 September 2026.
Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya mendorong terwujudnya pendidikan yang ramah anak, inklusif, dan memberikan kesempatan yang sama kepada seluruh peserta didik untuk memperoleh layanan pendidikan sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik masing-masing.
Dalam kunjungannya Ketua DWP Kemenag Kabupaten Aceh Tenggara, Siti Zahriah SAg, meninjau secara langsung kegiatan pembelajaran di ruang kelas serta melihat bagaimana peserta didik inklusi mengikuti proses belajar bersama peserta didik lainnya. Ia juga mengamati pola pendampingan yang diberikan oleh guru dan pihak madrasah dalam mendukung perkembangan peserta didik inklusi.
MIN 2 Aceh Tenggara saat ini memberikan layanan pendidikan kepada 28 peserta didik inklusi. Keberadaan mereka menjadi perhatian bersama agar proses pembelajaran dapat berlangsung dalam suasana yang aman, nyaman, menyenangkan, dan tidak diskriminatif.
Ketua DWP Kemenag Aceh Tenggara juga mengapresiasi upaya MIN 2 Aceh Tenggara dalam memberikan ruang belajar yang dapat mengakomodasi keberagaman peserta didik. Menurutnya, pendidikan inklusi tidak hanya berbicara tentang penerimaan peserta didik berkebutuhan khusus di lingkungan madrasah, tetapi juga memastikan mereka mendapatkan pendampingan, perhatian, serta kesempatan berkembang secara optimal.
“Setiap anak memiliki potensi dan kelebihan masing-masing. Karena itu, kita harus memastikan tidak ada anak yang merasa berbeda atau tersisihkan dalam mendapatkan pendidikan. Madrasah harus menjadi tempat yang aman, nyaman, dan penuh kasih bagi seluruh peserta didik,” ujarnya.
Sementara itu, FPMI Aceh Tenggara turut memberikan perhatian terhadap pengembangan layanan bagi peserta didik inklusi di madrasah. Sinergi tersebut diharapkan dapat mendorong peningkatan pemahaman, pendampingan, serta pemenuhan kebutuhan peserta didik secara berkelanjutan.
Kunjungan ini diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan monitoring, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam membangun lingkungan pendidikan yang inklusif dan ramah anak di Kabupaten Aceh Tenggara.[]












