[Kanwil | Yakub] Setelah sempat diam beberapa bulan, pelaksanaan komplek Kanwil dilanjutkan. “Sebenarnya kami di lapangan terus bergerak, pemilik tanah yang telah panenan terus ikuti perkembangan Kanwil, dan kami sering berkomunikasi dan rapat-rapat. Kami terbeban juga jika lama-lama,” jelas Geuchik Gampong Kaluet, di sisi selatan Jalan Soekarno Hatta Aceh Besar itu.
“Kita ingin perumahan ini segara terwujud. Menunggu itu sangat melelahkan,” jawab Kabag TU dalam rapat (Selasa, 19 Mei) yang diikuti calon penghuni rumah Komplek Kanwil yang dimoderasikan Khudari (kini di Kankemenag Kota Lhokseumawe), dan Yenny Yusnita (Staf Subbag Ortala dan Kepegawaian).
Menurutnya, sebagian calon telah menyetor sebagian dari total dana kebutuhan, dan mayoritas calon penghuni telah lunasi panjar awal. “Dan semua telah kami kasih ke Pak Geuchik,” jelas Yenny.
“Semua panjar telah kami kasih ke pemilik lahan, ada kwitansinya,” jawab Pak Geuchik Kaluet, Kecamatan Ingin Jaya, yang bertetangga dengan Kecamatan Darul Imarah, yang ada SPBU dan Rumah Wali Nanggroe itu.
Di awal rapat, Kabag TU Kanwil Kementerian Agama Aceh, H Habib Badaruddin, sampaikan bahwa memang ada hambatan sedikit, misalnya saat pergantian Kakanwil. “Namun Kakanwil baru sudah setuju,” jelasnya, yang diputuskan di akhir rapat, bahwa inti rapat tercapai yakni kata ‘maju’ atau bukan mundur, atau tak ada anggota yang mengambang.
Salah satu peserta, dari Bidang Penmad, sempat menanyakan perbedaan perkiraan sejak awal perencanaan hingga saat masa ‘diam’ dalam pembangunan itu, sehingga sebagian kawan merasa bingung. Namun akhirnya penjelasan didapati, bahwa di antara peserta rapat memang tak semua dapat informasi yang utuh (contohnya jika ada perubahan anggaran untuk lain-lainnya di komplek), sebab mungkin ada yang tidak rutin ikuti rapat, ini misalnya.
Sehingg Zubir, Staf di Bidan Penaiszawa sempat ulangi, bahwa tekesan ada yang mengundurkan diri. Menurutnya, bukan mundur tapi tak menyanggupi jika berubah dengan rencana awal, kecuali teknis pelaksanaan diperjelas dan dikasih pilihan-pilihan nanti, timbunan telah ada, dan saat fondasi rumah berdiri.
Lalu Khudari yang sebelumnya aktif di LPSE, dan memang terus membantu komunikasi dengan developer, desainer, dan lainnya, bahwa ada perubahan harga, pagu yang diajukan ke bank, ini misalnya alasan penaikan harga dari rancangan awal. Katanya, lebih baik lebih mengambil di bank daripada kurang yang kita ambil di bank. Kita harus juga menanggung jalan bersama, dan lainnya.
Prinsipnya, menurut Kasubbag Inmas, komitmen Kanwil miliki komplek harus tetap, harus jadi. Jangan ungkit masa lalu. Perkuat pengurus di Banda Aceh. Kita mau juga political will Kakanwil tertulis.
Memang usai qur-ah (undi kapling), ada kabar yang progresnya bagus. “Sampai saat ini, telah dilakukan pengukuran lahan dan kapling,” kata Muhammad Khudhari SE, pembawa acara qur`ah (diundi) bakal rumah komplek Kanwil Kemenag Aceh (12 Januari lalu).
Lalu, usai panen, ada penimbunan, jika musim hujan reda atau padi dipanen warga. Saat itu, pada peserta, lanjut Khudhari, yang juga aktif di LPSE (Layanan Pengadaan Secara Elektronik) di Kanwil itu sampaikan, “Terima kasih kawan konsultan yang membantu gambar rumah dan desain, master plan pun telah ada.” Hadir juga dalam acara ‘masa depan’ itu, kala itu, Bapak Geuchik Gampong Kaluet Kec. Ingin Jaya, Aceh Besar. Ada juga pihak konsultan, yang jelaskan proses penimbunan.
Dalam rapat semangat awal diulangi, rumah bagus dan sehemat mungkin. Saat rapat lalu juga dimotivasi peserta, “Kita mengharapkan rumah semurah mungkin, dengan mutu sebaik mungkin,” sambut Kakanwil Kemenag Aceh Drs H Ibnu Sa’dan MPd di Aula Kanwil, yang juga hadir saat itu, Kabag TU H Habib Badaruddin, calon-calon penghuni sekitar 50-an, dan bahkan rekan dari Aceh Besar dan Bireuen.
Bagaimana bisa, “Harga kaki lima, kualitas bintang lima,” tamsil Kakanwil saat itu, seraya mengatakan, “Program ini sukses dengan kebersamaan, dan rumah ini bisa dimiliki oleh yang sudah kawin dan lajang (PNS Kanwil). Dan silakan miliki rumah meski belum berkeluarga, siapa tahu nanti ada yang gelar walimah perdana di komplek nanti….”Usai qur’ah memang ada yang dapat di depan, dan ada yang di pojok, semua dalam komplek, semua tetanggaan…
“Lebar jalan utama 7 meter. Sangat luas untuk perumahan. Jalan-jalan masuk lima meter (jalan lingkungan). Perlu komitmen, jangan jual kepada pihak lan, nanti,” di antara saran Khudhari.
Sebelumnya Oktober 2014 (enam-tujuh bulan lalu), diumumkan oleh panitia, “Anda karyawan Kanwil Kementerian Agama, yang sudah medaftar dalam bulan Oktober lalu, dan telah melengkapi persyaratan untuk kepemilikan rumah pada bakal Komplek Perumahan Kanwil (termasuk tanda tangan suami/istri) dan perjanjian bermaterai itu, dan setoran awal (tanda jadi), moga rapat Jumat (22/5) lebih mencerahkan…
Bakalan komplek ‘Ikhlas Beramal’ ialah di Gampong Kaluet, masuk 500 m selatan Jalan (arah timur Rumah Wali Nanggroe). “Alhamdulillah jalan menuju komplek sudah diaspal, meski belum sepenuhnya sampai ke depan bakal komplek,” ujarnya saat lalu itu.
Saat itu disampaikan, “Dari kita untuk kita, tak ada yang ambil untung. Apakah kita bangun bersama-sama. Mahal dan kualitas belum terjamin, jika dengan developer.”Koordinator Pengadaan Rumah Kanwil, Khudari SE, bahkan mengawali sesi dialog dengan kata, “Menggapai mimpi menjadi kenyataan.”
Jadi, Koordinir rumah kita, bukan developer luar, bukan pembangun luar, tapi kita di dalam, dan prinsipnya, dari kita untuk kita. Kabag TU H Habib Badaruddin SSos, tutup rapat kala itu… “Alhamdulillah, ka rhab jelas,” pamit kawan sambil turun aula, rapat 1 Sya’ban 1436 H itu. [inmas aceh]















