[Kanwil | Yakub] Dalam sambutan Buka Puasa Bersama, di hadapan keluarga besar Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh dan undangan, Kakanwil Drs HM Daud Pakeh, ulangi lagi komitmen jajarannya, terhadap Lima Nilai Budaya Kerja Kemenag, yang tahun lalu dicetuskan Menteri Agama RI.
Acara tahunan di halaman tengah Kanwil sore Senin (6/7) itu, alhamdulillaah sukses digelar. Tamu undangan dari keluarga besar Kanwil dan mitra kerja pun, satu persatu hadir, serta disambut Kakanwil, Kabag TU H Habib Badaruddin SSos, para Kabid (Drs H Hamdan MA, Drs H Bukhari MA, H Abrar Zym SAg, Drs H Herman MSc, dan Drs H Saifuddin AR, serta Drs H Efendi MSi), serta dijamu dan disambut oleh jajarannya, sejak di gedung lama Kanwil, dekat pintu masuk.
Di antara tetamu, antara lain ada mantan Kakanwil Depag Drs H A Rahman TB Lt, pejabat MS (Mahkamah Syar’iyah) Aceh, pejabat Disdik Aceh, Kaban Arpus Aceh Drs H Anas M Adam MPd, Kadis SI (Syariat Islam) Aceh Prof DR Syahrizal Abbas MA, Ketua MPU Aceh Drs Tgk H Ghazali Mohd Syam, Ketua MAA H Badruzzaman MHum, Kepala UPT Asrama Haji Drs H Taufiq Abdullah, Kepala Balai Diklat Keagamaan Aceh Drs H Zulhelmi A Rahman MAg, jajaran Kejati Aceh, jajaran LPMP Aceh, para Kakankemenag/Kasi, jajaran Kobar-GB,PGRI, Ormas/OKP, RM, dan puluhan insan pers. Juga ada Pak Drs Ziaudddin, pejabat lama Kanwil.
“Mantan Kakanwil Drs H Ibnu Sa’dan MPd, sedang di Langsa, dan beliau kirim salam saja…,” ujar Kasubbag Inmas Kanwil Kemenag Aceh H Akhyar MAg, di sela-sela persiapan buka puasa bersama (ifthar jama’i).
Kakanwil sampaikan, dalam sambutan, di lobi tengah gedung baru, di hadapan jamaah sekalin, bahwa, “Sebagaimana kita maklumi, sejak tahun lalu, Kementerian Agama telah mendeklarasikan Lima Nilai Budaya Kerja Kementerian Agama. Kelimanya ialah Integritas yang berarti kita harus padukan segenap mentalitas dan sikap lahiriah kita. Integritas yang bermakna sinergitas antara hati, kata, dan kerja.”
Lanjutnya, “Profesionalitas ialah bekerja dengan keahlian dan kapasitas. Profesionalitas memuat filosofi kecakapan dan keterandalan. Profesionalitas bekerja dengan ilmu dan aturan. Juga kompeten dalam bekerja dengan hasil baik, serta selesai.
“Inovasi, yakni semangat untuk melanjutkan hal yang positif dari sesi sebelumnya. Inovasi tapi berani dalam mengambil tanggung jawab. Inovatif juga dengan tidak tertutup dalam meneriam ide konstruktif,” jelan Kakanwil.
“Tanggung Jawab misalnya, dalam mengerjakan pekerjaan dengan baik dan tepat waktu,” ajaknya.
Indikasi Keteladananan misalnya, akhlak terbaik, bukan akhlak jahat. Penuh keramahan, bukan wajah sombong. Jangan melayani karena ada iming ‘kasih duit’. Melayani sepenuh hati, bukan setengah hati. Bukan pula melayani dengan seadanya.
Jadi, lanjut Kakanwi, sebelum ajak jamaah, mari puasa dan buka puasa ala Nabi Muhammad SAW, “Di sini, mari kita internalisasikan kelima nilai itu, selama puasa, dan yang terpenting pascapuasa, sejak Syawal nanti. Ada hubungan erat Lima Nilai Budaya Kerja dengan puasa.
Pertama, Integritas, dalam pelaksanaan ibadah puasa, di mana kita yang berniat puasa, kita menjaga puasanya. Satu niat, satu tekad, satu lahiriah kita, yakni puasa.
Kedua Inovasi, dalam ibadah shiyam juga ada bisa berinovasi dengan menambahkan ibadah-ibadah sunat lainya, tidak hanya ibadah wajib.
Ketiga Tanggung Jawab, yang berpuasa punya tanggung jawab untuk memelihara diri dari hal-hal yang membatalkannya dan yang membatalkan pahala puasa.
Keempat Keteladanan, kita yang berpuasa wajib memiliki sifat ketaqwaan kepada Allah SWT.
Kelima Profesionalitas, dalam ibadah puasa, kita yang berpuasa akan menahan dirinya sejak imsak dan hanya berbuka setelah tiba waktunya, kita tak akan berbuka di tengah jalan (sebelum waktu berbuka) tanpa ‘uzur yang syar’i.
Akhirnya, lanjut Kakanwi, di sore 19 Ramadhan itu, “Momen buka puasa ini, kita rangkaikan dengan Nuzulul Quran 1436 H. Dalam Al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW, banyak perintah untuk menjaga penu dan pola makan sehat, dengan tidak mubazir dan berlebihan (tashrif).”
“Jika ingin sehat, mari kita jalani puasa ala Rasulullah. Kami mengajak, agar kita pelopori ‘kiat sehat berpuasa’, dan sehat pula seusainya,” ajaknya.
Dalam banyak kesempatan, selama puasa Kakanwil sering mengajak kita awali berbuka/sahur, atau menu pagi dengan yang manis, misalnya madu, kurma, bahkan habbatussauda’… [inmas’s]













