[Singkil | Muhammad Yakub Yahya] Usai hadiri peletakan batu pertama pembangunan pabrik dan jembatan oleh Gubernur Aceh (dr H Zaini Abdullah), Kepala Kankemenag Aceh Singkil sempat berbagi ide segar dengan kami dari Inmas Kanwil Kemenag Aceh (29/9).
Kakankemenag Drs Salihin Mizal, yang baru beberapa hari balik dari Banda Aceh dalam rangka mengantar 7 JCH asal Aceh Singkil, ajak lembaga Kemenag adalah semacam renstra (rencana strategis), yang bisa diimplementasikan, diukur, dan dievaluasi per 5 tahun.
“Renstra amat perlu untuk kelanjutan, sustinabel, dan kontinuitas program. Misal untuk 5 tahun ke depan, perlu 500 guru disertifikasi. Jadi dibagi per tahunnya berapa, dan dievaluasi setelah itu. Jika ada apa kendala yang menghambatnya,” ajak Kakankemenag asal Aceh Selatan, sembari menunjuk ruang kerja yang akan direhab itu.
“Atau misal lain, berapa madrasah yang perlu dinegerikan dalam 2014-2019, dan tahun ini madrasah mana, lalu dievaluasi mana aspek yang menghambatnya, mana faktor yang mempercepatnya,” lanjutnya dalam suasana hujan amat deras, angin Samudera Indonesia.
Lanjut Salihin, Kepala Kankemenag di Bumi As-Singkily, yang menggantikan Drs H Herman MSc itu, “Jangan sampai saat Kanwil atau Kakankemenag diganti kepala oleh yang lain, lain lagi arah dan skala prioritasnya.”
Saat makan siang di Awak Awai, timur Kankemenag, didampingi Kasi Bimas, H Marwan Z, dan Kepala MAN Singkil, Halimsyah MA, dalam sesi diskusi nonresmi, yang ikut kami (Yakub, Fadhlan, dan Juanda), yang sedang memonitrong dan membantu memonitoring data, pembicaraan berlanjut, dari soal ragam curhat masyarakat pada (Kepala) Kankemenag, mutu tulisan di media, sosok pemimpin yang membuka diri dan ide besar yang patut kita kasih apresiasi, Raqan (Ranangan Qanun) Syariat, perbedaan Stafi’i dan Mazhab Syafiiyah, perbedaan tuntunan Rasulullah dan hadits Rasulullah, hingga kebanggaan kita yang mengabdi di Kemenag.
Menurutnya, kita bangga mengabdi di Kemenag. Meski saya misalnya, alumni SMA, tapi masyarakat harus kita layani dalam semua sisi kebutuhan. Kesan dan penempatan masyarakat terhadap kita pada posisi penting membuat kita, di Kemenag, dengan latar apa pun mesti bersyukur, sekaligus mengasah optimalisasi diri….[]















