Jangan Baca, Ini Rahasia Doa

Inmas Aceh
Inmas Aceh
Author10 Juli 2015
Jangan Baca, Ini Rahasia Doa

[Banda Aceh Muhammad Yakub Yahya  Ada dua pemuda, satu dari pesisir dan yang lain dari pedalaman. Kawan baik ini, sama-sama kuliah di satu kampus, di ibukota, beda konsentrasi, lain jurusan. Namun sama-sama dari kampung, meski tidak kampungan.

Mahasiswa yang satu kelihatan segar-segar selalu. Selalu bilang sehat wal’afiat jika ditanyai orang, dan selalu bersyukur. Seperti ia ada saja rezeki, meski bukan uang, dan ramai kawannya, meski tidak hafal namanya.

Dia optimis dan tularkan optimisme pada siapa pun. Seakan ia mudah saja hari-hari kuliahnya. Juga di tempat tinggalnya, dia ada sambilan dan ada saja kesibukannya. Dia ngaji, dia azan, ikut sosial dan jaga malam.

 Memang kuliahnya telat usai, tapi dia sudah ada jalinan jaringan di luar kampus. Nilainya tidak tinggi sekali, sebab dia yang penting bukan nilai, tapi ilmu. Usai disalami rektorat, ia kerja swasta, meski bukan PNS, dan usai lebaran tiga tahun lalu, ia nikah dengan idamannya, meski bukan dengan anak bangsawan, tapi kelihatan bahagia, dengan kijang tua. Usianya bertambah, putra-putrinya pun lahir.

Sementara kawan yang satu lagi, kelihatan selalu kurang, seakan perjumpaan dengannya, itu ajang mendengar keluhan, pesimistis dan memaksa kesan pada siapa pun, dia sangat banyak diuji Tuhan selalu, silih berganti.

Saat diwisuda dan salaman dengan dekanat, dia memang nyaris cum laude, sebab ia rajin membaca diktat, dan cuma dia hafal itu. Jalinannya kurang, dia cuma kuliah, warung, dan ke cost. Dari kost, ke ruang kuliah dan ke warung beli kuah. Temannya itu-itu saja, bosan bersamanya. Tak tahu kegiatan kampungnya, dan kampung domisilinya.

Usai ijazah dialmarikan, toga dilipat, dia tumpang keueng, merenung, ‘ke mana besok’. Dia melamar ke beberapa kementerian dan badan. Dia telat kawin, asyik cari PNS. Dia pasang target harus anak ‘orang berada’, dan calonnya sudah tak sabaran menanti, sarjana takut nikah. Dia hitung umur, usianya tidak mau mundur. 

“Apa yang membedakan kawan yang satu dengan kawan satu lagi?” tanya saya saat menjadi penceramah di Masjid Bulog Banda Aceh beberapa waktu lalu.

“Ini rahasia, tapi jangan bilang pada siapa pun,” jawab penceramah. 

Ternyata kawan yang satu rajin berdoa, sambil berusaha, dan ini yang penting: dia mendoakan dirinya dan saudaranya, keluarganya dan keluarga orang lain. Jika dia mau nilai akademik tinggi, dia doakan juga nilai tinggi untuk kawan sekampusnya yang lain. Kalau dia mau dimudahkan biaya nikah, dia doakan juga moga Allah mudahkan bagi kawannya. Dia pakai kata ‘lanaa’ (jamak), bukan ‘lii’ (saya).

Kini dia berdoa untuk saudaranya agar ada anak shalih, seiring dengan pintaannya agar dia dianugerahi anak shalih. Dia doakan ampun dosanya, dan dosa muslimin. Damai dia, moga damai pula negeri ini. Dia ingin masuk surga, bersama jamaah muslimin-muslimat.

Sedangkan kawan yang satu lagi, rajin berusaha, selebihnya curhat dan mengeluh. Jika dia berdoa dia, dia berdoa untuk dirinya. Jika mau nilai, dia minta untuk dirinya saja. Jika mau kerja dan kawin, dia mau cuma untuk dirinya. Dia ingin Allah masukkan surga untuknya saja. Dia berdoa untuk dirinya, ‘lii’ (untukku) saja. Dia pelit, sampai dalam doanya.

“Jika kita doakan buat saudara kita yang lain, malaikat Allah akan mendoakan kita,” isyarat sebuah atsar. Dan doa malaikat maqbul, doa kita belum tentu. Bahkan Allah akan memberi, bagi yang tilawah Kalam-Nya, bagi hamba yang tidak sempat meminta untuk dirinya (sibuk zikir dan hafal ayat suci), apa yang diminta orang lain.

Jadi, pertama, rahasia doa, doakan pula orang lain dalam bait-bait doa kita. Kedua, rajin baca Al-Quran, justru dengan pintaan itu pintaan tertinggi kita, yang Allah lebih tahu kebutuhan kita.         

Ketiga, jika seperti hari ini. Berdoalan ketika imam (khatib) naik mimbar untuk khutbah sampai dengan selesainya shalat Jumat.

Keempat, setelah shalat ‘ashar sampai dengan tenggelamnya matahari (maghrib), Jumat. 

Jika sedang turun hujan lebat, inipun kesempatan berdoa, apalagi lebat hujan di hari Jumat. Ini momentum yang kelima. Apalagi sedang puasa.

Keenam, berjamaah lebih memungkinkan diterima. Siapa sangka di antara yang mengaminkannya, ada ‘wali-Nya’ untuk sesaat itu.

Ketujuh, iringi dengan Asamaul Husna, dalam pintaan, misal mau lembut hati sebutkan ‘ya Lathiif’. 

Kedelapan, usai shalat lima waktu juga mustajabah. Apalagi kesembilan, doa kala tengah malam, di dini hari itu, paling baik.

Kesepuluh, jika puasa, jangan nonton tivi sedang berbuka, juga sahur, tapi berdoalah selagi nikmati menu berbuka, sebelum dan sesudahnya. Ini pun paling mustajabah, daripada omong dan nonton sinetron jin itu.

Jadi, begitulah di antara rahasia doa. Moga semua pintaan kita, hajat saya dan anda, dimustajabahkan Allah, dengan awali dan akhiri dengan tahmid… dan shalawat…. amin… []

[foto: jamaah buka puasa bersama jelang berbuka, di kanwil kemenag aceh, senin 6 juli]

Layanan
Tentang
Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh adalah unit vertikal Kementerian Agama di provinsi dan membawahi beberapa kantor kementerian agama di kabupaten dan kota.
Alamat
Jalan Tgk. Abu Lam U No. 9 Banda Aceh 23242
Bimbingan Masyarakat
Islam Hindu Kristen Katolik Buddha
Lainnya
Media Sosial
© 2026 Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh
Oleh : Humas Kanwil Aceh