Banda Aceh (Inmas)---Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh melalui Bidang Penerangan Agama Islam dan Zakat Wakaf (Penaiszawa) menggelar pembinaan ASN bagi seluruh Karyawan/i Kanwil di aula kantor setempat, Jum'at (18/2) bertepatan dengan 2 Ramadhan 1439 H.
Pembinaan tersebut sekaligus Kajian Ramadhan menghadirkan akademisi UIN Ar-Raniry Dr. H Fahmi Sofyan, MA.
Hadir pada kegiatan tersebut, Kakanwil Kemenag Aceh Drs H M Daud Pakeh, Kabag TU H Saifuddin SE, Para Kabid, Kasubbag dan Kasi di lingkungan Kanwil Kemenag Aceh.
Mengawali kajian tersebut, Fahmi Sofyan mengungkapkan cara bersyukur itu simpel saja.
"Bersyukur itu sederhana, kita terima sesuatu apa adanya, semua kita terima baik yang positif atau tidak, tidur saja juga nikmat, coba bayangkan bagaimana kalau kita tidak bisa tidur dalam waktu yang lama, semua itu adalah nikmat yang harus kita syukuri," ujar Fahmi Sofyan.
Pada kesempatan itu ia mengajak hadirin untuk yakin kepada Allah dengan sebenarnya.
"Yakinlah kepada Allah, yakin dengan hati, yakin lisan dan melakukan dengan tubuh misalnya bersedekah, berhaji, berzakat, melakukan berbagai kebajikan, maka kurang satu saja berarti kita belum begitu yakin," ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa Allah yakin dengan orang beriman. "Maka dianjurkan berpuasa hanya bagi orang yang beriman, karena orang beriman tidak protes. Orang beriman taat kepada Allah, tidak pernah protes kepada Allah, tidak ada yang protes datang puasa misalnya," jelas Fahmi.
Di awal ramdhan, semua langit terbuka dan iblis di belenggu. "Maka kita senanglah dengan ramadhan" sebutnya.
Dalam surat al-Baqarah ayat 183 yang menyebutkan tentang wajib berpuasa, Dr Fahmi mengatakan pada ayat tersebut untuk mengajak kita untuk imsak. "Puasa bermakna menahan atau imsak, menahan diri dari segala yang terlarang, menahan pandangan itu imsak mata, menahan mendengar hal yang tidak baik itu imsak telinga namanya, dan menahan diri dari makan adalah imsak perut," sebutnya.
Pada kesempatan itu, ia juga menguraikan tentang tiga golongan orang yang berpuasa sebagaimana disebutkan Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin.
Golongan pertama Shaumul 'Awaam atau puasanya orang awam.
"Golongan ini melaksanakan puasa berupa tidak makan, tidak minum dan tidak melakukan hubungan suami istri sejak subuh hingga maghrib," ujarnya.
Golongan kedua disebut Shaumul Khawaash atau puasa yang paripurna.
Golongan ini melaksanakan ibadah puasa bukan sekedar tidak makan, tidak minum dan tidak melakukan kegiatan hubungan suami istri (seperti golongan pertama), namun juga berpuasa seluruh anggota tubuhnya. Mata, telinga, lidah, tangan, kaki dan semua anggota badan yang lain berpuasa dari perbuatan yang tidak baik.
Golongan ketiga disebut Shaumul Kawaashil Khawaash.
Golongan ini dalam menjalankan ibadah puasa seperti golongan kedua, ditambah lagi pikiran dan hatinya juga ikut berpuasa. Pikiran senantiasa berzikir mengingat Allah, tidak diberi kesempatan berpikir yang negatif. Hatinya senantiasa bersyukur, menjauhi dari perasaan dongkol, tidak ikhlas, dan sebagainya
"Inilah puasanya para ambiya dan mursalin dan orang-orang saleh. Inilah ibadah puasa yang ideal karena mencakup puasa lahir batin. Inilah puasa yang sangat sempurna," tutup Fahmi Sofyan.[]









