[Peureulak | Jamaluddin] Banjir yang melanda Kabupaten Aceh Timur menyebabkan aktifitas pendidikan dan perkantoran terganggu, tak hanya kediaman penduduk, kantor bahkan madrasah juga tergenang banjir, seperti halnya terlihat di MIN Peureulak, Selasa (23/12). Madrasah yang berada di jantung kota Peureulak itu kini sepi dari aktifitas belajar mengajar.
Menurut Kepala MIN Peureulak, Kegiatan pembelajaran terganggu bukan karena banjir di madrasah namun lebih karena banjir yang melanda perkampungan. “Hujan yang turun terus menerus ditambah pasangnya air laut membuat Krueng Peureulak meluap, banyak murid dan guru yang rumahnya terendam banjir, Pusat kota juga banjir sehingga menyulitkan akses ke madrasah,” ujar H.Syarifuudin,S.PdI yang rumahnya juga ikut terendam.
Syarifuddin menambahkan, hampir mayoritas guru yang mengajar di MIN Peureulak terkena musibah banjir, bahkan 2 guru yang rumahnya berdekatan dengan madrasah air mengenangi sebatas dada orang dewasa. “Zulaikha,S.Pd.I dan H.Yusuf,S.Pd.I keduanya guru MIN Peureulak beralamat di desa Lhok dalam,” beber kepala Madrasah menyebutkan 2 guru dimaksud.
Selain itu, air yang mengenai jalan utama menuju madrasah juga menjadi penyebab terganggunya proses belajar mengajar, sejumlah guru yang ingin mengajar tidak bisa melewati akses di Jalan Medan-Banda Aceh tersebut karena air yang sangat deras dan tinggi. “Sepeda motor tidak bisa lewat, harus menggunakan alat bantu seperti becak, sampan atau rakit,” urai Kepala Madrasah.
Masih menurut Syairifuddin, akibat musibah banjir yang melanda kecamatan Peureulak, banyak warga yang mengungsi ke tempat yang lebih aman, seperti halnya di MIN Peureulak, karena madrasah yang yang terletak di pinggir Jalan Medan-Banda Aceh itu hanya mengenangi halaman madrasah. “Ada 2 lokal yang dipakai pengungsi, mereka warga tetangga madrasah yang rumahnya kebanjiran,” ungkapnya.
“Ya Allah jadikanlah hujan ini hujan yang membawa manfaat, jadikanlah banjir ini banjir yang membawa rahmat,” tutup Syarifuddin dalam doanya.















