[Kanwil | Muhammad Yakub Yahya] Curah hujan di Aceh, sepanjang November 2014, kian tinggi. Jalanan-gang dan lahan-pekarangan, belum seimbang untuk menampun debit air, dengan muatan selokan (got). Lueng/parit yang ada pun sumbat sebagian.
Ini perkiraan BMKG Aceh, bahwa hujan di sini dan di sana, hingga tahun depan, tetap tinggi. Dulu memang hujan hanya di bulan yang ada ber ber (September, Oktober, November, dan Desember), ‘hujan turun tampung ember’. Namun, kini di saat kita bilang sudah canggih, yang tak ada ber ber pun, tetap kita tampung ember.
Orang tua bilang, bila hujan usai Jumat, kabarnya akan berhenti di Jumat depan. Namun hujan bukan Jumat pun, kadang berhenti sepekan ke depan. Banjir dan longsor, jadi berita menjemukan.
Hujan sore Jumat (21/11) yang landa Kota Banda Aceh dan sekitarnya, derasnya masya Allah, yang merepotkan semua kalangan. Pedagang di Pasar Aceh atasi kebanjiran, yang sebagian barang di lantai bawah terendam, karena air di badan jalan masuki rukonya, dari depan dan belakang.
Gampong yang rendah seperti Peuniti, jika begini, genangan sudah ‘makanan pedas’ saat musim hujan. Namun kawasan yang tinggi pun, seperti Punge ‘Kapai Apong‘ Blang Cut, yang jarang air masuki rumah warga, kali ini harus ‘disukat’, rahmat Allah itu dikeluarkan.
Pejalan dengan mobil dan kereta mesti merangkak dalam genangan selutut di sebagain jalan, di tengah air hujan yang masih kencang. Kereta, milik PNS dan karyawan yang pulang kerja, sebagiannya mogok di tengah jalanan, mesinnya kebasahan, baik matic atau yang ada ‘engkolan’.
Nah, di Kanwil Kemenag Aceh, yang sebagian kawan lagi beres-beres untuk pindahan ke gedung baru, atau ada sisa kerjaan lainnya, harus bersabar hingg malam, menanti hujan reda. Hingga magrib, terlihat misal ada Kasubbag Umum Zulfahmi MH yang terus memantau segala kemungkinan. Ada yang memotret air, ‘mengukur berapa ketinggian?’
Airnya mengenangi seantero halaman, depan dan tengah. Sebagiannya (nyaris) masuki ruangan yang sebagiannya sudah dikosongkan, karena barang telah diibawa ke gedung baru. Ini artinya air hujan setingkat dengan lantai ruang lantai satu, tapi di gedung lama.
Lain lagi dengan kawan-rekan yang bekerja di lantai atas, gedung lama juga. Jika hujan kecil pun, jika semalaman, maka pagi besoknya, wajib siapkan ngepel, dan selalu awas! dengan rembesan air yang melantai, bersama ‘kabel api’ yang berserakan.
Apalagi jika hujan keterusan dan kederasannya seperti sore Jumat dan malamnya itu. Dinding dan barang yang bersentuhan dengan dinding sering lembab, dan bisa rusak sebagian.
Jadi, di lantai bawah, yang memang rendah, pada kebanjiran jika hujan; di lantai atas, karena banyak retak, pada bocor dan aliran air rembesan.
Moga di lantai tiga gedung baru, tidak sampai demikian, bukan? Salam hangat, meski hujan…. [inmas]
[foto: suasana gedung lama kanwil kemenag aceh, sebelum hujan jumat (21/11), diambil di atas gedung baru yang dipeusijuek kamis (20/11). foto: yakub inmas]











