Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh, Azhari, menegaskan pentingnya budaya menulis sebagai warisan intelektual yang lebih langgeng dibanding sekadar kemampuan berbicara. Hal itu disampaikannya saat meresmikan Pesantren Literasi di Pesantren Modern Al Zahrah, Gampong Beunyot Juli, Kabupaten Bireuen, Selasa, 28 April 2026.
“Orang yang menulis akan dikenang melalui karyanya. Sementara yang hanya berbicara, tanpa menulis, tidak akan bertahan lama,” ujar Azhari dalam sambutannya.
Ia berharap budaya literasi di kalangan santri terus berkembang, tidak hanya dalam bahasa Indonesia, Inggris, dan Arab, tetapi juga menjangkau bahasa lain seperti Mandarin. Menurutnya, penguasaan berbagai bahasa akan memperluas wawasan sekaligus memperkuat daya saing generasi muda.
Dalam kegiatan bertema Mengukir Aksara dalam Karya, Mencetak Generasi Literat di Serambi Mekkah, Azhari juga mendorong pengembangan literasi dalam berbagai bentuk karya, seperti puisi, pantun, hingga hikayat. Ia menekankan pentingnya penyediaan fasilitas pendukung seperti pojok baca dan rak literasi di setiap lembaga pendidikan.
“Budaya literasi harus ditopang dengan ruang dan sarana yang memadai, sebagaimana kita juga mendorong transformasi menuju madrasah digital,” katanya.
Sementara itu, Pimpinan Pesantren Modern Al Zahrah, M Fadhil Rami, menyampaikan apresiasi atas dukungan berbagai pihak, termasuk Kementerian Agama dan pemerintah daerah, dalam pengembangan literasi di pesantrennya.
“Kami membiasakan santri untuk menulis secara rutin setiap pekan, baik dalam bahasa Arab maupun bahasa Inggris. Ini bagian dari upaya membangun tradisi literasi yang kuat di lingkungan pesantren,” ujarnya.
Pesantren Al Zahrah sendiri telah menggalakkan program literasi sejak masa pandemi COVID-19. Berbagai capaian berhasil diraih, di antaranya melahirkan duta literasi nasional serta mencatatkan tiga rekor dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) dalam bidang literasi santri.
Kegiatan peresmian turut dihadiri unsur Dharma Wanita Persatuan Kanwil Kemenag Aceh, jajaran Bidang Pendidikan Madrasah, perwakilan Kantor Kemenag Bireuen, pemerintah daerah, serta komunitas literasi di Aceh.[]












