Sebanyak 50 Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) se-Kota Subulussalam mengikuti pembinaan implementasi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam pembelajaran PAI yang digelar Tim Bidang PAI Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh di Aula Kantor Kementerian Agama Kota Subulussalam, Kamis, 3 September 2026.
Kegiatan yang mengusung semangat transformasi digital pendidikan agama tersebut dibuka Kepala Seksi Pendidikan Islam Mustafa, didampingi para pengawas PAI dan staf Pendis. Dalam sambutannya, Mustafa menekankan pentingnya guru PAI beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa meninggalkan nilai-nilai keagamaan dalam proses pembelajaran.
Tim Bidang PAI Kanwil Kemenag Provinsi Aceh yang menjadi narasumber terdiri dari Tatang Laksamana, Ihsan Al Farisi, dan Iwan Mahatir. Tatang menjelaskan bahwa AI bukan untuk menggantikan peran guru, tetapi menjadi sarana kolaborasi untuk mendukung kualitas pembelajaran.
"AI sebagai sarana kolaborasi bukan pengganti guru. AI memudahkan pembuatan video animasi, poster, soal-soal, dan inovasi pembelajaran lainnya tentunya dengan memperhatikan rumus prompt yang baik, tips, etika, dan keamanan menggunakan AI," ujar Tatang.
Ia juga menyampaikan bahwa pemanfaatan AI dalam dunia pendidikan memiliki payung hukum, salah satunya Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2023 Pasal 2 ayat (3) huruf a.
Melalui pembinaan tersebut, para guru PAI diperkenalkan pada berbagai pemanfaatan AI untuk mendukung pembelajaran, seperti personalisasi materi, efisiensi penyusunan bahan ajar dan penilaian, pengembangan media interaktif, serta memperluas akses terhadap sumber belajar.
Usai menerima materi, para peserta langsung mempraktikkan penggunaan berbagai aplikasi AI untuk merancang media pembelajaran. Mulai dari menyusun prompt yang efektif hingga menghasilkan desain visual dan bahan ajar yang dapat digunakan dalam pembelajaran PAI.
Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal bagi guru PAI Kota Subulussalam untuk terus berinovasi menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan perkembangan teknologi, dengan tetap menjadikan nilai-nilai keislaman sebagai fondasi utama.[]













