Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh melalui Bidang Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren menggelar Rapat Koordinasi Penguatan Transformasi Digital Pesantren dan Lembaga Pendidikan Keagamaan Islam Tahun 2026 di Aula Permata Hati Hotel Banda Aceh, Rabu 22 Juli 2026. Kegiatan yang diikuti 94 peserta dari unsur Penyelenggara dan Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) se-Aceh ini akan berlangsung hingga Jumat 24 Juli 2026
Ketua panitia, Dr H Rakhmad Mulyana MSi dalam laporannya menyampaikan bahwa rapat koordinasi tersebut menjadi forum konsolidasi untuk menyelaraskan kebijakan bidang perizinan dan bantuan pesantren sesuai amanat Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren. Selain itu, kegiatan ini juga diarahkan untuk memperkuat langkah antisipatif terhadap berbagai isu strategis yang berkembang di lingkungan pesantren, sekaligus menyamakan persepsi jajaran PD Pontren dalam mendukung peningkatan tata kelola pesantren di Aceh.
Dalam sambutannya, Kabid Pd Pontren, Dr H Muntasyir SAg MA menegaskan bahwa transformasi dan penguatan tata kelola pesantren harus tetap berpijak pada jati diri pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam.
Muntasyir menyebutkan, saat ini terdapat 2.003 pondok pesantren di Aceh yang menjadi kekuatan besar dalam pembangunan sumber daya manusia berbasis nilai-nilai keislaman. Menurutnya, identitas utama pesantren tetap terletak pada tradisi pembelajaran kitab kuning. Karena itu, pesantren terpadu maupun lembaga pendidikan yang mengusung konsep pesantren didorong untuk tetap menguatkan pembelajaran kitab kuning sebagai ciri khas pendidikan kepesantrenan.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga eksistensi pesantren sebagai lembaga pendidikan yang berkontribusi dalam membangun karakter bangsa sekaligus memperkokoh nilai-nilai kebangsaan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Mewakil Kakanwil Kemenag Aceh, Plt Kabag TU Kanwil Kemenag Aceh, Dr Hj Aida Rina Elisiva BAcc MM menekankan bahwa transformasi digital bukan dimaksudkan mengubah identitas pesantren, melainkan memperkuat eksistensinya di tengah perkembangan teknologi. Menurutnya, salah satu tantangan utama yang masih dihadapi pesantren adalah pengelolaan data dan informasi yang akurat, terintegrasi, dan mudah diakses sebagai dasar penyusunan kebijakan.
Selain itu, Aida Rina juga berbagi pengalaman saat menempuh pendidikan di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Ia menyampaikan bahwa banyak institusi pendidikan Islam di kawasan Asia berkembang berkat kontribusi akademisi Indonesia, yang menunjukkan bahwa tradisi keilmuan Islam Indonesia memiliki pengaruh yang kuat di tingkat internasional.
"Ini menjadi bukti bahwa kita memiliki modal besar. Banyak masyarakat dari luar negeri datang untuk belajar kepada ulama dan lembaga pendidikan Islam di Indonesia. Karena itu, dayah harus terus eksis dan mampu menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan jati dirinya," katanya.
Rapat koordinasi ini dijadwalkan menghadirkan sejumlah narasumber dari Direktorat Pesantren Kementerian Agama RI. Pada hari terakhir, Kakanwil Kemenag Aceh, Drs H Azhari MSi juga akan memberikan materi terkait arah kebijakan penguatan pendidikan pesantren di Aceh. []











