Bireuen (Inmas)---Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh, Drs H M Daud Pakeh mengatakan sinergisitas antar berbagai lembaga perlu dibina untuk kemajuan pendidikan di Aceh.
Hal tersebut disampaikan Kakanwil ketika menjadi narasumber pada Seminar Ikatan Alumni Dayah Tauthiatuth Thullab Arongan (IKADA), Gampong Arongan Kecamatan Simpang Mamplam, Bireuen, Senin (7/1) malam.
"Untuk pengembangan dan kemajuan pendidikan di Aceh, selama ini Kemenag terus membangun sinergitas dan hubungan antar pelbagai lembaga, khususnya yang berkaitan dengan pendidikan," ucap Kakanwil.
Terkait hal tersebut, Kakanwil menjelaskan hubungan Kemenag dengan Dinas Pendidikan Dayah Aceh dan Dinas Pendidikan Aceh yang harmonis bertujuan untuk mewujudkan pendidikan Aceh yang lebih baik, "Kita berharap tercapainya Aceh yang sejahtera dan bermartabat di masa mendatang sesuai dengan visi misi pemerintah Aceh mewujudkan Aceh Caroeng," urai Kakanwil.
Lebih lanjut Kakanwil menyampaikan, seandainya Indonesia tidak dijajah oleh belanda maka sistem pendidikan indonesia yang ada hanya sistem dayah.
"Tidak bisa dinistakan, bahwa peran ustaz atau Tengku-tengku kita bersama santri, baik di Aceh dan nasional begitu besar terhadap perjuangan kemerdekaan dalam melawan penjajah," tambahnya.
Selain itu, Kakanwil mengajak seluruh elemen untuk memperkuat dan menumbuhkan eksistensi pondok pesantren.
"Secara keilmuan, kita punya potensi besar dalam menguasai ilmu nahu saraf, tapi terdapat kelemahan dalam berbahasa arab aktif," sebut Kakanwil.
Kemudian, Kakanwil juga menyatakan tentang legalitas dayah.
"Dayah tidak perlu berubah, tapi kita perlu mengikuti perkembangan dan penyesuaian diri, silahkan ikut yang dikembangkan dan aturan dari Kementerian Agama, supaya legalitas lembaga terdaftar dan diakui negara, dengan demikian alumni juga punya legalitas," ungkap Kakanwil.
Seminar ini dihadiri oleh para alumni yang tergabung dalam IKADA dengan mengangkat tema, 'Alumni dayah antara harapan dan tantangan.'
Dayah Tauthiatut Thullab didirikan oleh Tgk H Sofyan Mahdi atau yang akrab disapa Abon Arongan pada tanggal 21 April 1971.
Saat ini Dayah Tauthiatut Thullab memiliki 1.401 santri dan santriwati. Dayah ini telah banyak melahirkan generasi-generasi penerus yang lulusannya banyak mendirikan cabang-cabang Dayah yang telah tersebar luas di seluruh Aceh.[]















