Haji dan Persaudaraan Islam

Inmas Aceh
Inmas Aceh
Author07 Juli 2022
Haji dan Persaudaraan Islam

Makkah (Makkah)--Di antara tujuan disyaratkan ibadah haji adalah sebagai ajang berkumpulnya umat Islam di seluruh dunia dalam jumlah yang besar, waktu, tempat, pakaian, serta ibadah yang sama. Yang paling penting adalah memenuhi panggilan atau seruan yang sama pula yaitu kalimat talbiah: 

Labbaikallahumma labbaik, labbaika la syarikalaka labbaik, innal hamda wannikmata laka walmulk, la syarikalak (aku penuhi panggilanMu ya Allah, aku penuhi panggilanMu tidak ada sekutu bagiMu, aku penuhi panggilanmu, sesungguhnya segala puji, nikmat hanya milikMu yang memiliki kerajaan, tiada sekutu bagimu). 

Amalan haji memiliki keistimewaan yang luar biasa, yaitu dapat mempersatukan seluruh umat dengan tidak memandang warna kulit, status sosial, dan negara asal.  Semua bersatu hanya karena ikatan tauhidullah (aqidah yang satu), sesuai dengan firman Allah dalam surah al Anbiya ayat 92, "Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku".

Filosofi pakaian ihram

Ketika jamaah haji telah niat ihram, maka pakaian biasa ditanggalkan, diganti dengan pakaian ihram yang terdiri dari dua helai kain. Satu berfungsi menutup aurat dan satu lagi sebagai pelindung diri.  Ketika siang menjadi hijab sengatan matahari, ketika malam menjelang kain ihram pelindungan dari kedinginan yang menjelma. Ihram disunnahkan berwarna putih. 

Meskipun seseorang kaya raya, dengan harta yang melimpah ruah, maka ketika ihram kain sutra yang mahal harus ditanggalkan, yang ia pakai sama dengan si miskin papa dua helai kain. Artinya tiada perbedaan antara si kaya dan si miskin di mata Allah Swt. 

Kain ihram mengingatkan kita, suatu hari kita menghadap Ilahi Rabbi, yang kita pakai adalah kain kafan mirip ihram berwarna putih. Sejatinya para jamaah haji yang berada Arafah, Muzdalifah dan Mina dalam melaksanakan puncak ibadah haji,  kita yang menyaksikan dan mendoakan mereka mengambil pelajaran, bahwa semua kita akan menghadap Allah Swt, tanpa membawa kemewahan, tapi hanya kain kafan dan amal ibadah yang kita kerjakan selama hidup di atas dunia ini. 

Warna putih kain ihram melambangkan kesucian dan kesederhanaan. Ketika kita memakai ihram, hilanglah kesombongan dan keangkuhan dalam diri kita, karena sesungguhnya yang paling berhak atas kesombongan itu hanyalah Allah Swt. Rasulullah saw, meskipun jabatan yang disandang ketika itu adalah yang tertinggi, namun penampilannya tetap sederhana, bahkan ketika seseorang bertanya, “Kalau kami mau ketemumu wahai Rasul dimana?” Spontan beliau menjawab, “Carilah aku di mana orang miskin dan anak yatim berada, maka aku akan sering di sana.” Sungguh pribadi yang luhur. 

Pakaian juga melambangkan perbedaan  dalam organisasi misalnya, ada warna ini dan itu yang mengisyaratkan perbedaan organisasi masing-masing, serta membedakan platform organisasi tersebut. Pada tataran pejabat sangat kentara lagi perbedaan lewat uniform yang dipakai. Sering kali perbedaan memunculkan pertikaian, bahkan kehancuran. 

Pakaian ihram yang digunakan menegaskan ukhuwah dan persaudaraan dalam Islam yang luar biasa, lintas batas, tanpa memandang asal usul dari negara mana, status sosial, dan warna kulit. 

Pelaksanaan ibadah haji yang dihadiri lebih satu  juta umat mengukuhkan persaudaraan sejati. Di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi berkumpul, berbaur saudara seaqidah. Ketika takbiratul ihram dan lantunan takbir sang imam semua mengikutinya, meskipun berbeda mazhab dalam shalat.  Semua tunduk dan patuh terhadap komando sang imam.  Tidak mempersoalkan hal-hal furuiyah (cabang) atau khilafiyah. Semua menuju satu titik: ka’bah, baitullah. 

Puncak haji adalah wukuf di Arafah.  Semua saudara seaqidah bergerak ke sana. Pakaian putih seragam telah melambang keikhlasan dan  persaudaraan tanpa pamrih, semua tulus karena Allah Swt.

Kekompakan dan persaudaraan dalam pelaksanaan ibadah haji satu komando dalam taqarrub kepada Allah Swt ini  haruslah diimplementasi dalam hidup dan kehidupan umat Islam. [H. Akhyar Mohd. Ali, Karom BTJ 01 di Makkah/yyy]

Layanan
Tentang
Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh adalah unit vertikal Kementerian Agama di provinsi dan membawahi beberapa kantor kementerian agama di kabupaten dan kota.
Alamat
Jalan Tgk. Abu Lam U No. 9 Banda Aceh 23242
Bimbingan Masyarakat
Islam Hindu Kristen Katolik Buddha
Lainnya
Media Sosial
© 2026 Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh
Oleh : Humas Kanwil Aceh