[Nisam | Nasril/Yakub] Kamis kita tunaikan awal puasa, 1 Ramadhan 1436 H (18/6). Sebelum masuki bulan Ramadhan, ada satu tradisi yang sering dilakukan oleh masyarakat Aceh dan berbeda dengan daerah lain yaitu tradisi meugang, di hari Rabu (17/6), dan kemarinnya.
Pagi-siang-sore itu, hampir seluruh masyarakat Aceh melakukan sebuah tradisi yang sudah ada sejak dulu yaitu meugang, biasanya pada hari tersebut masyarakat Aceh dapurnya berasap untuk memasak daging. Juga, jelang dua lebaran.
Namun ada juga yang bukan daging diganti dengan ayam, bebek dan lain-lainnya.
Tradisi meugang ini sudah ada sejak dulu turun temurun di Aceh. Seperti diungkapkan oleh salah seorang Antropolog Aceh Muhajir Al- Fairusi bahwa meugang ini adalah isyarat untuk kemakmuran. Meugang, dari kata makmu gang
“Makmu Gang (tiap gang, atau jurong di Aceh harus makmur di hari tersebut). Para Sultan Aceh, memastikan semua rakyatnya dapat makan daging, memastikan rakyatnya siap menyambut Ramadhan dengan makmu dan suka cita. Makmu Gang, Gang-gang dan jurong harus makmur dan sejahtera dengan laku filantropi Sultan Aceh.
“Hari ini (hana) Makmu Gang, karena para pejabat ramai ramai menonaktifkan seluler, ramai-ramai menghilang dari hadapan rakyat yang berharap makmu di tiap gang, dan jurong dengan setumpuk daging,” sindirnya.
Lanjutnya, “Baru kembali ke hadapan rakyat dengan wajah ‘saleh’ dan penuh filantropi-saat musim Pemilukada & Pilkada,” jelas Muhajir.
Selain itu ia juga menambahkan tentang kondisi masyarakat pada saat meugang. “Mulai hari ini dan esok di Aceh, daging bukan hanya sekedar ikan dan lauk, ia melampaui sekat sekat simbol kebudayaan. Setumpuk daging, ditafsirkan sebagai laku hormat, harga diri, dan tanggug jawab menantu laki-laki pada istri. Tabu dan aib memalukan, jika seorg menantu laki-laki tak menenteng setumpuk daging di hadapan mertua (Yah/Ma Tuan).
Jika hari-hari lain “sah” nenteng ikan dan telur, hari ini tradisi mengharuskan nenteng setumpuk daging. Hari meugang, setumpuk daging menjadi simbol sakral, dan harga diri seorang laki laki dihadapkan pada keluarga batih perempuan. Tradisi Meugang ini rasanya akan tabeu (tawar) kalau tidak ada pendampingnya, yaitu timphan.
Timphan kue tepung yang bentuknya memanjang tipis, yang berisi parutan kelapa atau asoe kaya, merupakan salah satu penganan kecil yang aslinya berasal dari Aceh, yang mengandung nilai filosif ke uletan kesabaran dan cita rasa khas yang menggoyangkan lidah.
Timphan yang berbalut daun pisang, walau cara buatnya tidak terlalu rumit tapi tidak semua orang bisa membuatnya, salah-salah bukan timphan jadinya, tapi tepung rebus atau lem, hahaha.
Kini timphan menjadi salah satu kesukaan masyarakat Aceh. Timphan ini juga bervariasi, ada timphan asoe kaya, isi kelapa, labu tanoh, dan lain-lainnya.
Untuk melengkapi suasana megang ini sehingga selain masak-masak daging di Aceh hari ini juga ada timphan, perbaikan gizi dalam menyambut dan berbuka di sore Ramadhan. Di awalnya mari meugang, dalam Ramadhan, mari pajoh timphan….
[nasril, penghulu kua nisam aceh utara/yakub inmas kanwil yang pernah meugang di nisam]











