Tafsir

Bukan Jatah Kita; Kajian Qs An-Nisa 32

Kontributor
Kontributor
Author•02 Oktober 2026
Bukan Jatah Kita; Kajian Qs An-Nisa 32
Prof Dr Fauzi Saleh Lc MA

Satu hal yang harus kita sadari bahwa Allah swt telah menjatahkan nikmat-Nya kepada hamba sesuai dengan kadar dan porsi kebutuhan masing-masing. Jatah ini merupakan ketetapan yang menjadi hak preogratif Allah swt. Allah Maha Tahu kebutuhan hamba meskipun manusia sangat besar keinginannya di luar kebutuhan. Andaikala Allah memberikan satu lembah emas, manusia mesti masih berkeinginan lembah lainnya. Demikianlah kelobaan dan ketamakan manusia.

Karena itu, porsi nikmat yang diberikan kepada hamba saat ini merupakan yang terbaik menurut Allah. Manusia tidak perlu merasa dengki terhadap nikmat yang dilimpahkan kepada orang lain. Kedengkian itu hanya menambah deretan kesengsaraan. Dengki itu secara sederhana adanya keinginan berpindah nikmat orang lain kepadanya atau hilang dari orang yang didengkinya itu. Muncul rasa dengki itu akibat tidak rela terhadap pemberian Allah kepada sesamanya. Kedengkian itu dapat 'memakan' kebaikan pelakunya bagaikan api memakan kayu bakar.

Posisi manusia dalam menghadapi nikmat Allah swt dideskripsikan dalam Qs. an-Nisa'/4: 32:

Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi Para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.

Ayat di atas menggunakan lafaz la tatamannaw yang secara harfiah bermakna "janganlah kamu berangan-angan". "Angan-angan" didefinisikan sebagai keinginan terhadap suatu nikmat yang menurut sunnatullah tidak mungkin tergapai. Kenikmatan tersebut menurut ar-Razi dapat dibagi tiga yaitu kenikmatan ruhani (as-sa'adah an-nafsaniyyah), kenikmatan jasmani (as-sa'adah al-badaniyyah) dan kenikmatan eksternal (as-sa'adah al-kharijiyyah). Kenikmatan ruhani mencakup: kecerdasan dan intuisi, dan pengetahuan. Kenikmatan jasmani termasuk kesehatan, kesegaran, kemampuan beraktifitas dan seterusnya. Sedangkan kenikmatan eksternal berupa keindahan, dan umur panjang dan seterusnya.

Terhadap nikmat ini semua, umat Islam dilarang untuk berangan memperoleh apa yang menjadi jatah orang lain. Angan yang dilarang Allah dalam konteks ini adalah (1) tama' (loba) terhadap anugerah yang ada pada orang lain (2) hasud (dengki) terhadap kebahagiaan yang diamanahkan Allah kepada sebagian manusia baik berupa harta, kedudukan, keilmuan dan seterusnya. Angan seperti ini mengantarkan manusia kepada kesengsaraan jiwa, kebrobrokan moral dan kehancuran agama. Kata Sayyid Tantawi, angan ini seolah tidak rela terhadap 'jatah' yang Allah berikan kepada sesama manusia padahal Allah Maha Tahu terhadap hal ihwal manusia itu sendiri.

Alasan kenapa angan itu dilarang berbasis pada alasan-alasan sebagai berikut:

Pertama, jatah yang diberikan Allah itu relevan dengan hikmah, tadbir (bimbingan) dan ilmu-Nya terhadap kemaslahatan hamba. Allah swt memberikan luas dan sempit rezeki tidak lepas dari kemaslahatan hamba itu sendiri sebagaimana firman-Nya:

Andaikata Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya, sungguh mereka akan berbuat melampau batas di atas muka bumi.

Kedua, nikmat itu diberikan sesuai dengan usaha dan kerja masing-masing sebagaimana terungkap dalam frasa ayat berikutnya. Dalam potongan tersebut, Allah swt memberikan bagian kepada kaum laki-laki dan perempuan yang berusaha.

Larangan berangan-angan dalam ayat ini sesuai dengan asbabun nuzul. Asbabun nuzul ayat ini terkait adanya keinginan satu pihak untuk memperoleh kenikmatan yang menjadi hak pihak lain. Mujahid mengatakan Ummu Salamah berkata: Ya Rasulullah, kaum lelaki ikut berperang sedangkan (kami tidak), mereka mendapatkan warisan dua kali lebih banyak, maka turunlah ayat ini.

Jatah yang telah ditetapkan itu sebenarnya sangat adil bagi diri manusia, hanya saja manusia tidak memahami keadilan dan hikmah dibaliknya. Bila perempuan mendapatkan warisan setengah dibandingkan laki-laki, maka itu tidak dipahami sebagai bentuk ketidakadilan. Perempuan itu nantinya akan mendapatkan bagian yang dari suami, ayah dan saudaranya. Di antaranya tanggungjawab laki-laki adalah memberikan porsi harta dan waktunya untuk kaum perempuan baik dalam posisi sebagai isteri, ibu maupun saudari perempuan.

Di penghujung ayat ini ada sebuah penekanan bahwa manusia tidak etis menentukan permintaannya, tetapi memohon kepada Allah agar diberikan karunia yang terbaik untuk hamba-Nya. Hal itu karena hamba tidak mengetahui mana maslahah dan mafsadah. Dalam sebuah hadits disebutkan sebagai berikut:

Abu an-Nu'aim dan Ibn Mardawaih meriwayatkan dari Ibn 'Abbas, ia berkata: Rasulullah saw bersabda: mohon kepada Allah karunia-Nya, karena Allah untuk diminta. Sesungguhnya hamba yang paling dicintai Allah adalah orang yang mencintai kemudahan.

Sebagai ibrah, kita masih mengenang bagaimana taatnya seorang Qarun. Ia seorang miskin yang ringan tangan. Pengabdian kepada masyarakat menjadi bagian mehidupannya dengan modal tenaga yang dimilikinya. Dengan keikhlasan dan kekuatan ibadah kepada Allah swt, Nabi Musa as berdoa agar Qarun diberikan kekayaan agar memudahkan dalam beribadah. Qarun memulai dengan dagang sederhana hingga Allah tambahkan harta benda sehingga dalam waktu yang relatif singkat ia menjadi orang yang kaya raya. Rupanya kekayaan bagi Qarun menjadi awal kemalangannya.

Nabi Musa as mengirim utusan untuk meminta zakat kepada Qarun. Utusan itu ditolak Qarun hingga Musa sendiri yang memintanya. Qarun malah mencaci Nabi Musa as dan menuduh hendak mengambil hartanya. Walhasil, Allah swt memberikan bencana gempa bumi yang sangat dahsyat. Qarun dengan segala hartanya ditelan bumi.

Di penghujung masa ini, manusia hanya memperhatikan bagaimana mengumpulkan harta banyak dengan berbagai cara dan kalau perlu merampas jatah orang lain. Kondisi seperti ini menjadi melazimi kehidupan ketika kiamat hendak tiba tanpa mempedulikan rezeki yang didapatkan itu berkah atau tidak. Rasulullah saw mendeskripsikan hal ini dalam sebuah hadits yang diriwayatkan al-Bukhari dalam shahihnya dari Abu Hurairah ra, ia berkata:

Nabi saw bersabda: kiamat itu tidak akan terjadi hingga ilmu itu dicabut, banyaknya gempa bumi, waktu semakin singkat, fitnah-fitnah bermunculan, pembunuhan semakin banyak hingga di antara kalian banyak mendapatkan harta dan melimpah.

Meraih keberkahan itu menurut Yahya ibn Musa al-Zahrani dengan cara di antaranya adalah pertama: fondasi takwa kepada Allah swt sebagaimana digambarkan dalam Qs. al-A'raf: 96,

Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.

Takwa dalam konteks ini menurut Ali ibn Thalib dapat dipahami sebagai:

Takwa itu beramal sesuai ajaran wahyu, takut kepada al-Jalil (Allah swt), ridha kepada yang sedikit dan bersiap untuk hari kemudian. 

Fondasi manusia yang bertakwa kepada Allah swt menjadi pilar penting dalam menggapai keberkahan, tanpa ada ketakwaan maka akan muncul penipuan, kedhaliman dan kemaksiatan yang tidak pernah reda.

Kedua, membaca Al-Qur'an. Ketiga, jujur dalam perdagangan. Keempat, jujur dalam perkongsian. Kelima, menjauhkan dari kefasikan (berbuat dosa besar yang diharamkan Allah swt). Keenam, mengamalkan nilai-nilai keislaman dengan tulus dan ikhlas. Ketujuh, bergegas di awal pagi melaksanakan berbagai kegiatan. Kedelapan, melaksanakan shalat istikharah (shalat dalam menentukan pilihan). Kesembilan, menyertai doa dalam setiap derap langkah. Kesepuluh, bertawakkal kepada Allah. Kesebelas, berbuat baik kepada orang tua dan bersilaturahmi. Keduabelas, makan sahur bagi yang berpuasa. Ketigabelas, memanfaatkan dunia untuk menggapai akhirat.

Semoga apa yang dijatahkan kepada menjadi rezeki yang berkah dan dapat mengantarkan kita kepada kebahagiaan duniawi dan ukhrawi. Amin.[]

*Fauzi Saleh - Dosen Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry Banda Aceh.Tulisan ini pernah diterbitkan di Majalah Santunan Edisi IV Tahun 2015.

FotograferHumas UIN Ar-Raniry
Layanan
Tentang
Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh adalah unit vertikal Kementerian Agama di provinsi dan membawahi beberapa kantor kementerian agama di kabupaten dan kota.
Alamat
Jalan Tgk. Abu Lam U No. 9 Banda Aceh 23242
Bimbingan Masyarakat
Islam Hindu Kristen Katolik Buddha
Lainnya
Media Sosial
© 2026 Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh
Oleh : Humas Kanwil Aceh