Angan dalam bahasa Arab disebut "al-amal" yang berarti penantian. Secara terminologi, Al-Qurthubi mendefinisikannya sebagai kelobaan dan kecintaan terhadap dunia dan melupakan akhirat. Al-Manawi mengatakan bahwa angan itu sebagai prediksi meraih sesuatu yang secara adat mustahil digapainya. Adapun panjang angan-angan (thulul amal): keinginan yang secara continue untuk mencintai dunia dan melupakan kehidupan akhirat.
Ada dua istilah lain yang memiliki makna dekat dengan al-amal (angan), adalah tama' dan raja'. Tama' menurut al-Manawi adalah keinginan untuk memperoleh sesuatu dalam waktu dekat. Sementara al-amal merupakan keinginan memperoleh dalam interval waktu yang jauh. Penghubung antara dua terma ini disebut dengan ar-raja' di mana keinginan menggapai sesuatu tetapi diiringi dengan kecemasan gagal.
Ibn Hajar memandang positif terhadap angan-angan itu, karena ia merupakan rahasia yang tersirat untuk mendorong manusia berbuat sesuatu dalam hidupnya. Sisi yang tercela menurutnya adalah angan-angan secara kontinyu yang menyebabkan ia tidak mempersiapkan diri terhadap akhirat.
Firman Allah swt dalam Qs. Al-Baqarah/2: 96:
Dan sungguh-sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia) bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberiumur seribu tahun. Padahal, umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya dari siksa. Allah Maha mengetahui apa yang mereka kerjakan.
Dalam ayat di atas, Allah swt menjelaskan tentang orang-orang Yahudi berangan-angan agar hidup lebih lama di dalam dunia ini dan paling takut mati. Mati bagi mereka merupakan musibah besar karena mereka sadar akan kejahatannya selama ini yang berdampak pada azab dahsyat di hari kiamat kelak. Lebih dari itu, Yahudi lebih khawatir terhadap hari kiamat karena mereka yakin adanya pembalasan tetapi mereka tidak mempersiapkannya dengan baik. Sementara orang musyrik memang tidak meyakininya dari awal sehingga secara psikologis tidak memiliki beban sebesar orang-orang Yahudi. Ada juga yang mengatakan mereka yang menginginkan kehidupan yang lebih lama lagi adalah Majusi, yakni orang-orang yang menyembah api.
Bila ditelusuri lebih jauh kenapa mereka menginginkan kehidupan dunia yang lebih lama, maka jawabannya adalah mereka yang tidak mengharapkan adanya kebangkitan kelak. Mereka meyakini adanya azab yang ditimpakan karena kelalaian dan kelengahannya. Ilmu yang mereka miliki tidak mendorong untuk beramal dan mengabdi kepada Allah swt.
Dorongan Berangan-angan
Apa yang mendorong seseorang untuk berangan-angan? Imam al-Ghazali menyebutkan bahwa panjang angan-angan itu disebabkan dua hal, pertama, kejahilan dan kedua, cinta dunia. Cinta dunia yang dimaksud adalah memperturut hawa nafsu dengan kelezatan duniawi. Klimaksnya adalah tidak ingin berpisah dengan dunia yang fana. Dampak dari itu, ia tidak memikirkan tentang kematian yang merupakan instrument pemisah antara dirinya dengan kelezatan duniawi. Setiap orang yang membenci sesuatu mendorong ia untuk menjauh daripadanya.
Kejahilan sebagai penyebab thulul amal di atas yakni sikap manusia yang terus merasa dirinya selalu muda dan merasa itu jauh dari kematian. Andaikata orang yang lengah ini memahami bahwa kematian itu tidak mengenal waktu khusus kapan menjemputnya, apakah masih muda atau sudah tua, musim semi, dingin, gugur atau musim panas, kala siang atau malam, maka ia akan segera bersiap-siap menghadapinya. Kejahilan terhadap persoalan dan kecintaannya terhadap dunia mendorong untuk panjang angan-angan dan lengah akan dekatnya dengan detik-detik kematian.
Penawar terhadap thulul amal ini adalah hendaknya seseorang mampu menganalogikan dirinya dengan orang lain yang menghadapi kematian. Artinya yang dihadapi orang lain juga akhirnya akan dihadapinya. Ketika ia mengusung jenazah orang lain dan memasukkan ke liang lahat, pada saat lain, hal tersebut juga berlaku pada dirinya. Pemahaman hal ihwal ghaib ini membantu dirinya untuk berpikir jernih dan memahami hikmat di balik kehidupan yang fana ini.
Kalau cinta dunia itu sebagai suatu penyakit maka penyembuhannya tidak lain mengeluarkan penyakit ini yang telah menimpa sebagian orang masa lalu dan masa sekarang. Pengobatannya dengan cara meyakini adanya hari akhirat yang di sana akan berhadapan dengan azab yang dahsyat atau sebaliknya nikmat yang mempesona. Keyakinan akan unsur ini akan menghilangkan kecintaan terhadap dunia dan menghapuskan sinyal cinta terhadap hal-hal yang sangat kecil itu.
Adapun tingkatan thulul amal panjang angan ini ternyata sangat beragam. Sebagian berangan agar kehidupan ini abadi sebagaimana diungkapkan dalam Qs. Al-Baqarah/2: 96. Sebagian yang lain ingin kecintaan dunia hingga waktu tua yang menjadi penghujung kehidupan yang diperkirannya. Ada pula berangan untuk kecintaan dunia hingga setahun. Dia menghabiskan masa-masa ini dengan menikmati betul pernak-pernik dunia, dan meng-anggap bahwa ia tidak akan dapat memperoleh di tahun mendatang. Ia mempersiapkan di musim panas untuk kepentingan di musim dingin. Pada musim dingin, ia mempersiapkan untuk musim panas. Bila kebutuhannya sudah terpenuhi, maka barulah ia melakukan ibadah. Ada pula yang mempersiapkan diri untuk semusim saja. Ia tidak akan menyiapkan pakaian dingin pada musim panas atau sebaliknya.
Alim, laam, raa. (surah) ini adalah (sebagian dari) ayat-ayat al-Kitab (yang sempurna). Yaitu (ayat-ayat) al-Qur'an yang memberi penjelasan. Orang-orang yang kafir itu sering kali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim. Biarkanlah mereka (di dunia ini) maka dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka).
Angan-angan manusia tidak pernah ada batasnya. Angan terhadap kekayaan umpamanya, bila dia diberikan sejumlah harta, pasti ia masih mengharapkan lipatannya agar semakin bertambah dan bertambah. Rasulullah saw bersabda:
Andai anak Adam diberi emas satu lembah, ia ingin mendapat dua lembah. Tidak ada yang dapat membungkam mulutnya selain tanah, dan Allah mengabulkan taubat hamba-Nya yang bertaubat.
Dalam riwayat yang lain, Rasulullah saw bersabda:
Dari Abu Hurairah ra, beliau berkata: aku mendengar Rasulullah saw bersabda: senantiasa orang tua itu (masih merasa) muda pada dua (keadaan): cinta dunia dan panjang angan-angan (HR. Al-Bukhari).
Secara implisit, hadits di atas memberikan pemahaman bahwa orang tidak akan merasa tua bila sudah terpatri dalam hatinya rasa cinta dunia dan panjang angan-angan. Cinta dunia biasanya dalam bentuk membangun kenikmatan dunia dengan rumah yang mewah, permaisuri yang cantik jelita dan seterusnya. Sementara panjang angan-angan itu berarti masih ada seribu satu rencana yang akan dia laksanakan agar sempurna menikmati dunia ini.
Ali ra berkata: sesungguhnya yang sangat aku khawatirkan kepada kalian adalah menuruti hawa nafsu dan berpanjang angan-angan. Menurut hawa nafsu akan berbuntut pada menghalangi kebenaran. Sementara panjang angan-angan itu menyebabkan lupa akhirat. Ingatlah, dunia itu akan ditinggalkan.
Ibn Mas'ud berkata: Janganlah di antara kalian merasa masa hidup itu panjangan dan angan-angan melalaikan kamu. Sesungguhnya sesuatu yang akan datang itu amat dekat dan sesuatu yang jauh tidak akan mendekat.
Salman Al-Farisi berkata: ada tiga hal yang mengagumkanku hingga aku tertawa: orang yang mengangankan dunia sementara kematian selalu mencarinya, orang lengah padahal ia selalu dipantau (oleh Allah) dan orang yang selalu tertawa padaha ia tidak mengetahui apakan Tuhan semesta alam benci atau rela padanya.
Dampak panjang angan-angan itu di antaranya adalah melupakan kehidupan abadi di akhirat yang penuh dengan nikmat abadi bagi yang taat kepadanya dan azab yang dahsyat bagi pelaku maksiat, tidak mampu menahan nafsu sehingga lengah mengamalkan ibadah, sering terpukau dengan kenikmatan lahiriah duniawiyyah yang segera akan sirna, menyebabkan 'keras'nya hati, mendorong melakukan kemaksiatan dan menjauhkan dari ketaatan dan tidak segan-segan untuk memakan hak orang lain (Nadhrat an-Na'im fi Makarim Akhlaq Ar-Rasul, t.th.).
Semoga kita dapat menghindari thulul amal (panjang angan-angan) karena itu merupakan suatu penyakit yang akan mencederai masa.[]
*Fauzi Saleh - Dosen Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry Banda Aceh.Tulisan ini pernah diterbitkan di Majalah Santunan Edisi III Tahun 2015.











