Obrolan Sahur (4): Peran Keluarga dalam PembinaanTajwid Al-Quran

Inmas Aceh
Inmas Aceh
Author10 Juni 2016
Obrolan Sahur (4): Peran Keluarga dalam PembinaanTajwid Al-Quran

[Banda Aceh | Ruhama/RN]  Pimpinan Dayah Darul Hijrah, Kuta Malaka, Aceh Besar yang juga Wakil Sekretaris Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT) Aceh Ust. Muhammad Yasin Jumadi, Lc menjadi narasum beracara Obrolan Sahur hari keempat, Kamis (10/6) di RRI Banda Acehdalam program Kajian Keislaman yang dilaksanakan oleh oleh Bidang Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syari’ah Kanwil Kementerian Agama Provinsi Aceh bekerjasama dengan Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT). 

Dalam obrolan Sahur tersebut Ust. Yasin PeranKeluarga dalam Pembinaaan Tajwid Al-Qur’an, dalam penjelasannya iamenyampaikan bahwa Keluarga berperan besar dalammembina setiap anggota keluarganya bisa membaca Al-Quran dengan baik dan benarsesuai dengan kaidah ilmu tajwid.

Ini sangat penting sekali, karena hukum bisa membaca Al-Quran dengan baik dan benar adalah fardhu ‘ain. Wajib bagi setiap muslimbisa membaca Al-Quran dengan baik dan benar. Jika salah baca Al-Quran, maka iaberdosa. Hal ini karena empat hal: Pertama,karena bisabaca Al-Quran terkait dengan iman seseorang.

Allah Swt berfirman yang artinya, “Yaitu orang-orang yang Allah berikan Al-Quran, mereka mentilawahnya dengan sebenar-benarnya tilawah, merekalah yang beriman kepadaAl-Quran. Dan barangsiapa yang kufur terhadap Al-Quran merekalah orang-orang yang merugi.” (QS.Al-Baqarah: 121). 

Jadi, bisa baca Al-Quran adalah salah satu indikasi iman seseorang kepada Al-Quran. Sebaliknya, belum bisa membaca Al-Quranadalahmasalah besar, yaitu masalah iman. Jika anak-anak kita belum bisa baca Al-Quran ini adalah masalah besar, karena ini adalah masalah iman anak-anak kita.

Kedua, karena dalam kitab matan Muqaddimah Jazariyah, Imam Muhammad Ibnul Jazariy berkata yang artinya, “Sesungguhnya membaca Al-Quran dengan tajwid hukumnya harus. Barangsiapa yang baca Al-Quran tanpa tajwid ia berdosa. Karena Al-Quran Allah turunkan Al-Quran dengan tajwid. Dan demikianlah Al-Quran sampai kepada kita.”

Jadi Allah menurunkan Al-Quran satu paket dengan tajwid. Allah turunkan Al-Quran dengan panjang pendeknya, jika salah panjang pendeknya, Al-Quran tidak seperti itu. Allah menurunkan Al-Quran dengan dengungnya, jika salah bacaan dengung,Al-Quran tidak seperti itu.

Ketiga, karenajika salah baca Al-Quran maknanya bisaberubah jauh sekali. Misalnya, “Wa-iz qaala Muusaa,” artinya, “Ketika Nabi Musa berkata.” (قال) artinya berkata, dengan qa panjang dan la pendek. Tapi jikadibaca qa-nya pendek dan la-nya panjang (قَلَى) berubah artinya menjadi menggoreng.  Sehingga jika dibaca “Wa iz qalaa Muusaa” dengan qa yang pendek maka artinya berubah menjadi, “Ketika Nabi Musa menggoreng.”

Keempat, salah baca Al-Quran tidak salah makna tetap tidak boleh. Pada suatu hari, Abdullah Ibnu Mas’ud mendengar bacaan Quran seseorang. Orang tersebut membaca: 

 إِنَّمَاالصَّدَقَاتُلِلْفُقَرَاءِوَالْمَسَاكِينِ

dengan memendekkan bacaan “ra”. Padahal “ra” itu madwajib muttashil yang dibaca panjang 4 atau 5 harakat. Dibaca panjang atau pendek, maknanya tidak berubah, yaitu fuqara’ artinya orang-orang faqir. Tapi walau makna tidak berubah, Abdullah Ibnu Mas’ud berkata, “Rasulullah Saw tidak baca Al-Quran kepadaku seperti ini.”

Yang salah baca bertanya, “Bagaimana juga Rasulullah Saw. membacakannya kepadamu?” Ibnu Mas’ud membaca ayat tersebut dengan memanjangkan “ra”. Ini menunjukkan bahwa walau tidak berubah makna, tetap tidakboleh salah baca Al-Quran. Jika salah baca Al-Quran berdosa, bagaimana orang yang belum bisa baca Al-Quran?

Rasulullah Saw menjelaskan:

 عَنْعَائِشَةَقَالَتْقَالَرَسُولُاللَّهِصَلَّىاللَّهُعَلَيْهِوَسَلَّمَالْمَاهِرُبِالْقُرْآنِمَعَالسَّفَرَةِالْكِرَامِالْبَرَرَةِوَالَّذِييَقْرَأُالْقُرْآنَوَيَتَتَعْتَعُفِيهِوَهُوَعَلَيْهِشَاقٌّلَهُأَجْرَانِ(رَوَاهُمُسْلِم). 

Dari Aisyah r.a. berkata, Rasulullah Saw bersabda, “Orang yang mahir Al-Quran akan bersama para Rasul/Malaikat yang mulia lagi taat. Sementara orang yang membaca Quran masih terbata-bata,dan ia lelah membacanya, maka baginya dua pahala.” (HR.Muslim) Hadis ini menunjukkan orang yangsalah baca Al-Quran dapat dua pahala adalah jika orang tersebut masih mau membaca Al-Quran dan masih mau berlelah-lelah mempelajari Al-Quran. Wallahu a’lam. [ed: yyy]

Layanan
iduladha26
Tentang
Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh adalah unit vertikal Kementerian Agama di provinsi dan membawahi beberapa kantor kementerian agama di kabupaten dan kota.
Alamat
Jalan Tgk. Abu Lam U No. 9 Banda Aceh 23242
Bimbingan Masyarakat
Islam Hindu Kristen Katolik Buddha
Lainnya
Media Sosial
© 2026 Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh
Oleh : Humas Kanwil Aceh