[Banda Aceh | Yakub] Selain ajakan agar jajaran Kemenag segera dan sering-sering gunakan kemenag.go.id, Tim Pinmas (Pusat Informasi dan Humas) Kemenag RI, juga ajak jajaran Kemenag.
Tim itu, terdiri dari Kapuspinmas Kemenag RI Rudi Subiyantoro, Staf Khusus Menag RI Hadi Rahman, praktisi TIK Pinmas Kemenag Rusdi Anwar dan Ahmad Gufran. Ikut juga Dewan Pers, calon Menteri Kabnet Jokowi, Nezar.
Ajak Pinmas, untuk kirim data dan semacamnya, sebaiknya tidak lewat gmail atau yahoo misalnya, karena dengan jalanr itu, sama dengan membantu ‘mereka’ di luar negeri untuk dapatkan data kita secara cuma-cuma, tanpa bayar, dari Indonesia (juga Kemenag).
Kita tahu server yahoo ada di AS, Australia, atau Hongkong misalnya. “Data sensitif, bisa dicuri mereka,” gambar pakar TIK Kemenag Ghufran dan Rusdi, dalam acara silaturrahmi dan sosialisasi bersama Kanwil Kemenag Aceh dan jajarannya, termasuk Kakankemenag.
Disinggung pula, pentingnya kirim mengirim data sebagaimana Permenpan Nomor 6/2014, dalam acara di aula, yang juga ada dialog (tanya jawab) dari Kabid Urais Binsyar Drs H Hamdan MA, Kakankemenag Aceh Timur Drs Marzuki Anshari MA, Kasi Kepenghuluan Bidang Urais Binsyar Drs Suriadinata, itu.
Suriadinata sebutkan jumlah KUA di Aceh ialah 261, dan 318 jumlah Penghulu se Aceh. Dan bersama tanyaan Kakankemenag dan Kabid disahuti Tim.
Menurut Tim Pinmas, bahwa sesegera sampaikan informasi yang benar, dan bagaimana yang tidak benar, disampaikan pula oleh Kanwil/Kankemena/Satker, kita sampaikan pula pada publik, lewat media.
“Kita sesalkan jika sering ketelatan klarifikasi, atas berita yang duluan berkembang, yang keliru. Kita perlu cepat responsif dengan isu, ke depannya,” ajak Nezar Patria, mantan Ketua AJI, Ketua Dewan Pers dan Redaktur Vivanews.
“Ini strategi komunikasi, yang harus dipelajari dan dibangun pimpinan,” sindir Dewan Pers, Nezar Patria, dalam acara bersama Kakanwil Kemenag Aceh Drs HM Daud Pakeh dan jajarannya dalam sosialisasi di Aula Kanwi, Sabtu (13/6), jelang penutupan Pentas PAI.
“Bad news is good news, itu doktrin lama. ‘Media kuning’ pula yang utamakan sensasionaltas. Kita simak, jika terlanjur di-publish, justru berita online lebih cepat merespon, daripada media cetak,” katanya.
“Ternyata yang paling banyak dibaca ialah yang good news. Tak selalu bad news. Justru good news sering yang banyak dibaca dan tanggapi. Namun, kita kekurangan narasi mengeskpos yang good itu. Jangan terlalu banyak statistik, narasi, dan angka-angka, dan news“ menurut Nezar, Anggota Dewan Pers dari unsur wartawan itu.
Saat ini ia yang tinggal juga di Banda Aceh, menjabat sebagai redaktur pelaksana VIVA.co.id. Nezar, mulai menjadi wartawan saat bergabung di Majalah DR (1999-2000), kemudian berlanjut di Majalah TEMPO hingga 2008. Alumnus Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta (1997), dengan fokus studi filsafat politik, dan meraih gelar MSc untuk politik dan sejarah internasional di London School of Economics (LSE), Universitas London, Inggris (2007).
Putra Aceh itu, jadi pemenang Journalism for Tolerance Prize yang digelar International Federation of Journalist (IFJ) di Manila, Filipina, untuk liputan investigasi kerusuhan Mei 1998 yang dimuat di Majalah TEMPO. Terpilih sebagai Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia periode 2008-2011.
Disebutkan juga oleh Nezar (anggota tim misi pembebasan wartawan RCTI Feri Santoro di Aceh yang disandera Gerakan Aceh Merdeka (2004). Tercatat sebagai editor jurnal pemikiran sosial dan ekonomi Prisma (LP3ES), serta menulis sejumlah buku antara lain “Negara dan Hegemoni Menurut Antonio Gramsci” (1999, bersama Andi Arief). Artikelnya bersama Agus Sudibyo, “The Television Industry in Post Authoritarian Indonesia” dimuat di Journal of Contemporary Asia, Oxford, Inggris (2013) itu, bahwa Bad news sebenarnya tidak layak diberitakan bisa itu tidak penting yang berpeluang mempengaruhi kehidupan orang banyak, atau kejadian yang mempunyai akibat terhadap kehidupan pembaca.
Bad news juga menjadi tidak berarti bila tak menyangkut orang, benda atau tempat yang terkenal atau sangat dikenal oleh pembaca, dan lain sebagainya. Diakui, bad news is good news masih dipegang oleh sebagian jurnalis.
Namun sebenarnya dalam konteks kekinian, setidaknya di media tertentu, paradigma itu tak lagi diterapkan. Adalah orang yang dulunya pemimpim redaksi di media massa, yang selalu mengingatkan ‘anak buahnya’ untuk tidak menganut paradigma kuno.
Lebih dari itu kebijakan redaksi menyeimbangkan antara bad news dan good news. Maka kita mengapresiasi setiap prestasi perorangan/instansi/lembaga/negara, dengan tetap mengawasi sepak terjang mereka yang terlibat dalam merumuskan dan menelorkan kebijakan publik, serta sejauh mana pelaksanaannya.
Sepeti kabar kami Sabtu lalu, silaturrahmi Kapuspinmas Kemenag RI Rudi Subiyantoro, Staf Khusus Menag RI Hadi Rahman, praktisi TIK Pinmas Kemenag Rusdi Anwar dan Ghufran, dan Dewan Pers Nezar Patria, bersama Kakanwil Kemenag Aceh Drs HM Daud Pakeh dan jajarannya dalam sosialisasi di Aula Kanwil, Sabtu itu memaparkan sejumlah data baru soal Aceh dan Kemenag.
Dalam hal ini Kakanwil ajak dan sampaikan, bahwa bagi jajarannya, terutama Kakankemenag ada sosialisasi di UPT Asrama Haji soal jabatan bagi pejabat, Ahad (14/6).
Sementara Hadi Rahman, Staf Khusus Menag bicara soal ketelatan informasi oleh sebagian Kemenag. Misal katanya, “Jangan ada jajaran Kanwi tak tahu bahwa BPIH turun.
Lanjutnya, sambil mengabarkan alasan misi Menteri Agama Drs H Lukman Hakim Saifuddin, “Kita ingin menurunkan kegagalan sekolah. Ada yang terus sekolah, hingga doktoral dan usai itu tak tahu mau kerja apa. Jika kerja pun, beratasankan tamatan SD. Sementara ada yang mencari makan saja susah. Kita singkronisasikan kebutuhan untuk sekolah dan kebutuhan untuk hidup.”
Dalam paparan lain, lanjut Rudis pakar TIK Pinmas, “Memang ada kurang lebih ketergantungan kita pada komputer. Kami di Pusat ada di layanan Banjas (Barang dan Jasa) dan LPSE (Layanan Pengadaan Secara Elektronik). Jika mati lampu sekejak saja, akibatnya fatl dan kita mengannggur.”
“Agar ujung tombak, bukan hanya Pinmas, atau Inmas. Tapi semua Satker jadi juru bicara. Masyarakat tahu, kebutuahan kita apa, sedang apa sih yang sedang dilakukan Kemenag. Misal PP tentang nikah gratis di KUA itu…,” lanjutnya.
Bahwa di Kemenag bukan mencari kaya, tapi mengabdi. “Mencari kebahagian ke Kemenag, cari kekayaan di Kemnag, itu salah.Pengabdian di Kemenag, itu baru benar,” kata Hadi dan Rusdi.
“Jangan tutup pintu pada publik. Jika ada masalah, juga duduk, konsen meyelesaikan maslah, bukan mempublikasikan masalah. Dengan terbuka justru akan memudahkan menanganinya. Jika dari kecil potensi masalah kita buka dan tangani, insya Allah akan cepat usai,” katanya.
Kita ingin mengubah persepsi dari yang buruk, ke persepsi yang baik, dengan fungsi komuniakasi. Yang antipati jadi simpati, yang malas berurusan dengan Kemenag, akan senang. [foto yakub inmas’s]










