Di kaki Gunung Seulawah, dayah ini berdiri megah. Hawa pegunungan Seulimeum yang sejuk, membetahkan siapa saja untuk singgah ke sini. Hembusan angin dari percikan air sungai, dari selatan ke perkampungan dan pesantren, membuat kalbu yang mendiami dayah kian teduh dan tenang. Lumrah saja jika Anda yang sesekali singgah, akan merasakan nuansa kedamaian dalam lembaga pengajian ini.
Bersama perjalanan sejarah Aceh, dayah ini berkembang dengan cukup dinamis. Pergantian periode sejarah dari kerajaan, penjajahan, hingga kemerdekaan dan reformasi, serta pandemi, agaknya tidak membuat tempat pengajian ini kiprahnya redup. Suasana alamnya tetap tenang. Dan lingkungannya tetap tenteram.
Jika Anda dari Banda Aceh, menuju Seulimeum atau Jantho, di sisi kiri jalan (kira-kira di km 30-an), akan terlihat lembah hijau di pinggir aliran sungai. Krueng Aceh yang akan menuju Kota Banda Aceh. Setelah melewati sungai, tentu lewat jembatan beririgasi. Anda akan memasuki perkampungan yang dipadati dengan pohon kelapa. Di antara pepohonan inilah, kompleks dayah ini telah lama mendiami pertapakan lebih dari satu hektar.
Sampai ke komplek, sapaan nan bersahaja dari santri dayah akan menyambut Anda. Akan dipersilahkan menyaksikan bilik dan ruang dayah, kuburan Teungku Tanoh Abee, dan aktivitas santri. Juga akan dapat diperlihatkan kehebatan kitab-kitab klasik yang dipajang sejak lama.
Perpustakaan kuno Tanoh Abee, yang berada di Kabupaten Seulimeum Aceh Besar, sekitar satu jam perjalanan dari kota Banda Aceh. Di perpustakaan berusia 400 tahun ini banyak tersimpan manuskrip tentang Islam dari abad ke-16 hingga 19. Terdapat sekitar 3.000 naskah kuno yang masih utuh. Mulai dari kitab klasik karangan ulama Nuruddin Ar-Raniry, Hamzah Fansury, Teungku Syiah Kuala, sampai kepada surat dari kekhalifahan Turki Utsmani kepada Sultan Iskandar Muda.
Perpustakaan ini berada di dayah milik Teungku Chik Tanoh Abee. Sejarah pendirian Dayah ini sudah dimulai pada zaman kerajaan Aceh dipimpin oleh Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M). Seorang ulama dari Baghdad bernama Syeikh Fairus Al-Baghdady datang berdakwah ke tanah Aceh bersama tujuh orang saudaranya dan mendirikan dayah di kawasan Tanoh Abee.
Sejak itu secara turun temurun keturunan Syeikh Fairus meneruskan pengelolaan dayah dan membuat perpustakaan dengan cara menterjemahkan kitab-kitab rujukan Islam ke dalam bahasa Jawi. Bahkan pada masa generasi ke-6, yaitu Syeikh Abdul Wahab yang dikenal dengan Teungku Chik Tanoh Abee.
MENJELMA
Menurut pimpinan Dayah Tanoh Abee sebelumnya, almarhum Tgk H Dahlan Al Baghdady (1946-2006)--pimpinan Dayah Tanoh Abee saat itu-- sang ayahanda yang alim itu, sempat merampungkan ratusan kitab dalam masa singkat sekali. Ada kitab yang diselesaikan dalam jam, hari, dan tanggal yang persis sama. Padahal disusun di daerah yang berjauhan. Ini dapat dilacak dalam ujung bab penutup (epilog atau khatimah) di setiap kitab. Di sana tercantum tanggal dan bulan dari almanak hijriah.
Dan ini mungkin saja, jika kita menyimak keagungan dan kesucian ulama dulu. Kemuliaan (karamah) yang diberikan Allah, yang bisa menjelma dalam banyak sosok, di banyak tempat sekaligus. Sehingga jangan heran, jika ada cerita dari banyak orang suci yang bisa muncul di beberapa tempat, dalam satu waktu. Maka, lanjut Tgk Dahlan pada turis lokal, bahwa ketika kakeknya berada di Mekkah, di Aceh ada juga murid yang melihat sedang menulis kitab.
Nama Dayah Teungku Tanoh Abee memang cemerlang. Hingga kini banyak yang berguru di sini, bahkan dari luar Aceh. Menurut keterangan Tgk Dahlan, ulama besar yang mendirikan dayah di seluruh Aceh, seperti Babussalam Aceh Selatan, juga tercatat murid dari Teungku Tanoh Abee, dulu.
Beureukat Teungku di Tanoh Abee, beureukat guree di Samalanga, menjadi ujaran nostalgia para alumni dayah yang tersebar di mana-mana. Tentu saja syair ini sarat makna. Tanoh Abee di Aceh Besar dan Samalanga di Aceh Jeumpa, menunjukkan dua daerah yang tinggi ilmu para ulamanya, dan melahirkan ulama besar.
Di beragam tempat inilah, beberapa kitab dirangkaikan dengan indahnya. Jumlah kitab tua ini sekarang, sampai empat atau lima ribu unit. Tentu masih dapat disaksikan di rak-rak dan ruang almari pesantren. Deretan lemari yang penuh kitab tulisan tangan ini, masih bisa dibuka dan dibaca seizin pimpinan. Letaknya di anjungan dan rumah Aceh. Juga masih dalam komplek dayah, di sisi irigasi Krueng Aceh, tepat kawasan Seulimeum.
Seulimeum atau Seulimeum, dalam satu versi riwayat, diambil dari nama ‘sala-man’ (bahasa Arab). Alkisah, manakala Tgk Chik Awe Geutah ke Aceh Besar, berjumpa dan bersalaman dengan Tgk Tanoh Abee di kawasan yang sekarang ada pasar dan masjid, di tikungan jalan raya di Seulimeum itu. Tanoh Abee itu, istilah untuk tanah berdebu yang ‘disemaikan’ Teungku ke mata kafir Belanda, dan musnahlah mata kompeni Belanda di hutan sana.
HINGGA CARA GALI SUMUR
Tulisan tangan dari ulama besar ini mengalir deras di atas kertas yang sudah berumur tiga abad silam. Bab-bab dalam kitab klasik ini juga beragam; dari fiqh, sosial, ekonomi, pertanian, peperangan, dan politik. Ditulis sezaman dengan Hamzah Fansury, Abdurrauf As-Singkily, Syamsuddin As-Sumatrany, dan Nuruddin Ar-Raniry.
Barangkali demi menjaga nilai atau keotentikan kitab, Tgk Dahlan pernah menolak tawaran dari tamu Malaysia agar kitab klasik ini dicetak ulang saja, di negara jiran. Kayaknya pihak dayah ingin memelihara kitab warisan dalam format asli. Sehingga daun-daun kitab tetap dari kertas yang dijilid dan dijahit dengan benang. Juga isinya tetap kelihatan beragam warna, hitam dan merah misalnya.
Semasa ilmu pengetahuan sangat maju di Aceh, era kesultanan dulu. Ramai orang luar Aceh yang menimba ilmu ke sini. Di sini ada universitas yang nyaris setara dengan Universitas Fathimiyah di Kairo atau Universitas Nizhamiyah Baghdad. Perguruan tinggi ini ada di Baiturrahman. Nah saat lembaga pengetahuan ini hidup dan cemerlang, peran perpustakaan Teungku Tanoh Abee diperhitungkan juga.
Menurut deskripsi Tgk H Dahlan, begitu komplit ruang sains saat itu yang dianalisa mahasiswa, yang dimasukkan ke kurikulum kampus. Misalnya ada dalam silabus mata kuliah dalam fakultas pertanian itu, hal air, sumur, dan matahari. Orang Aceh yang mayoritas petani, paham betul tatacara menggali sumur. Mulai dari galian pertama, menyusun bebatuan di dinding sumur, hingga posisi matahari ketika sumur dibuat itu. Dan mereka akan memilih waktu menggali itu ketika kemarau. Sehingga kalau sumur kering, tho lah (kering) ia.
Generasi ke-9, Abu Dahlan Al-Fairusy Al-Baghdady meninggal pada 2006 yang lalu. Menurut ummi, istri Abu Dahlan kepada tim ini, tidak semua kitab kuno dirawat dan dipelihara sesuai wasiat dari Abu. Bahkan banyak kitab-kitab terdahulu yang ikut dikubur karena dikhawatirkan isinya tidak sanggup dicerna tanpa bimbingan yang baik.
MAKAM
Dalam komplek dayah juga terdapat makam Teungku Tanoh Abee. Pusaranya sangat sederhana. Terletak di sisi utara komplek. Di atas bentangan dua nisan yang dikelilingi papan kayu, tertutupi dengan kain putih. Para penziarah dibolehkan melihat makam, setelah membuka tabir dari papan. Dan tidak dibolehkan memotret makam mulia ini. Namun jamaah dibenarkan shalat di sisi makam ini.
Setiap bulan, di samping kuburan ini rutin bersemedi para santri. Untuk masa beberapa pekan. Semakin ramai dalam taman makam, jika Ramadhan tiba. Para ‘pertapa’ tidak boleh keluar--kecuali untuk keperluan mendadak--dalam masa yang ditentukan.
Arah timur komplek berdiri sebuah Rumoh Aceh yang masih baru. Seuramoe atas rumah, tempat tuan rumah dan santri tinggal dan mengaji. Jika Anda sesekali ke sini, jangan terlena dengan kecantikan santriwati dayah. Di samping alim, mereka memang cantik menawan dengan jilbab berkain batik. Sesekali mereka turun dan menjenguk para tamu ke bawah, dengan malu-malu.
Sedang di bawah rumah, sering dijadikan tempat menerima tamu. Ini juga tempat lemari kitab dan kantor dayah yang teduh. Penghargaan dan berbagai dokumen tampak banyak di dalam lemari ini. Anda dipastikan akan kagum menyaksikan semua isi dayah. Dan coba saja ke sini.
*Artikel ini pernah dipublikasikan di Majalah Santunan Edisi 2 Tahun 2021.










