Android di Genggaman, Kompetensi di Tangan
Catatan: Mahbub Fauzie(Penghulu Ahli Madya KUA Atu Lintang, Aceh Tengah)
Di tengah cepatnya perkembangan zaman dan digitalisasi kehidupan, perangkat Android kini sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita, termasuk bagi ASN Kementerian Agama.
Sayangnya, tidak semua dari kita memanfaatkannya secara maksimal untuk tujuan yang produktif. Padahal, jika dimanfaatkan dengan baik, Android dapat menjadi media pengembangan kompetensi yang sangat efektif, terutama bagi ASN yang memegang jabatan fungsional.
Kementerian Agama memiliki banyak jabatan fungsional strategis seperti penghulu, penyuluh agama, guru madrasah, dan lainnya. Semua posisi ini memiliki satu kesamaan: mereka adalah garda terdepan pelayanan masyarakat.
Penghulu, misalnya, tidak hanya menjalankan tugas pencatatan dan pelaksanaan pernikahan, tetapi juga menjadi konsultan keluarga, mediator, penyuluhan dan layanan konsultasi hukum Islam, hingga pembina moderasi beragama.
Tugas yang semakin kompleks ini menuntut peningkatan kapasitas dan wawasan yang terus-menerus. Untuk itulah hadir berbagai platform pelatihan daring seperti MOOC Pintar Kemenag, SPAN Kemenag, dan LMS lainnya yang dapat diakses langsung melalui Android.
Kehadiran platform ini adalah bentuk komitmen Kementerian Agama dalam mendorong pengembangan kompetensi yang adaptif dan berkelanjutan.
Sebagai contoh, melalui MOOC Pintar Kemenag, ASN dapat mengikuti berbagai pelatihan berbasis kebutuhan jabatan masing-masing. Penghulu bisa memperdalam wawasan terkait hukum perkawinan, mediasi keluarga, hingga transformasi digital layanan KUA.
Penyuluh agama dapat memperkaya pendekatan dakwahnya melalui pelatihan komunikasi publik dan strategi penyuluhan berbasis digital. Guru madrasah pun dapat memperbaharui metode pembelajaran yang sesuai dengan Kurikulum Merdeka, dan di lingkungan Kemenag diperkenalkan Kurikulum Cinta.
Namun, semua peluang ini kembali kepada niat dan kesadaran pribadi. Tidak jarang kita temui bahwa Android lebih banyak digunakan untuk keperluan hiburan, game online, atau scrolling media sosial tanpa arah. Padahal, waktu yang sama bisa kita alihkan untuk mengikuti satu modul pelatihan, mendengarkan podcast keilmuan, atau membaca e-book keagamaan.
Sebagai ASN, kita adalah wajah negara sekaligus cerminan pelayanan umat. Peningkatan kompetensi bukan semata demi kenaikan pangkat atau angka kredit, tetapi bagian dari amanah moral untuk memberikan layanan terbaik kepada masyarakat.
Oleh karena itu, mari kita ubah cara pandang terhadap Android. Jadikan alat ini sebagai media pengembangan diri, bukan sekadar sarana hiburan. Mari manfaatkan MOOC Pintar Kemenag dan platform pembelajaran lainnya sebagai “kelas berjalan” yang setiap hari bisa kita akses, kapan saja, di mana saja.
Dengan komitmen belajar yang terus tumbuh, insyaAllah kita dapat menjadi ASN yang tidak hanya kompeten, tetapi juga adaptif, inovatif, dan berdampak nyata bagi umat.
Wallahul muwafiq ilaa aqwamith thariq.
Paya Dedep, Jagong Jeget 18/8/2025