CARI
Rekomendasi Keywords:
  • Azhari
  • Kakanwil
  • Hari Santri
  • Halal
  • Islam
  • Madrasah
  • Pesantren

Tujuh Hari Terisolasi: Kisah Syifa, Penyuluh Agama Islam Bertahan dari Banjir Aceh Tamiang

Foto Penulis
  • Penulis
  • Dilihat 1367
Rabu, 10 Desember 2025
Featured Image
Di hari ketiga Syifa naik ke atap rumah untuk melihat kondisi di luar

Hujan yang turun tanpa henti selama beberapa hari di Aceh Tamiang sejak 25 November lalu mengubah sore yang tenang menjadi ketegangan yang belum pernah dialami Syifa Urrahmi, Penyuluh Agama Islam Ahli Pertama di KUA Kecamatan Tenggulun, Kabupaten Aceh Tamiang.

 

Di hari yang ia kira akan berlalu seperti biasa, air tiba-tiba merangsek masuk ke Desa Simpang Kiri, tempat ia tinggal sebagai perantau.

 

Dalam hitungan jam, banjir meningkat drastis. Syifa dan warga lain menyelamatkan barang-barang seadanya ke lantai dua rumah kos yang akhirnya menjadi tempat pengungsian darurat.

 

“Kami naik sambil membawa apa yang bisa dibawa. Tidak ada waktu lagi. Begitu sampai di lantai dua, saya langsung sadar kami mungkin akan terjebak lama di sini,” kenangnya.

 

Ruangan sempit itu dihuni 18 orang, balita, bayi, dan lansia yang sedang sakit. Persediaan makanan sangat terbatas, hanya satu kompor gas, beberapa liter air bersih, dan secuil harapan.

 

Malam itu mereka menghabiskan waktu dalam kecemasan, menunggu air turun sembari mencoba bertahan. “Saya berusaha tetap tenang, tapi dalam hati saya sangat takut. Saya hanya bisa terus berdoa agar air tidak naik lagi,” kata Syifa.

 

Ketika pagi datang, kenyataan makin pahit. Air telah mencapai atap rumah warga. Hanya beberapa anak tangga lagi sebelum banjir memasuki ruangan pengungsian. Tak ada listrik, tak ada jaringan komunikasi, dan jalan menuju jalur nasional terputus oleh banjir dan longsor.

 

Di hari ketiga Syifa sempat naik ke atap rumah untuk melihat kondisi di luar. Ketinggian air masih seatap rumah. Syifa benar-benar pasrah.

 

Mereka benar-benar terisolasi. “Yang paling membuat saya terpukul adalah tidak bisa memberi kabar apa pun kepada keluarga. Saya membayangkan ibu saya pasti sangat panik,” ujarnya dengan suara lirih.

 

Kondisi fisik Syifa mulai melemah. Tiga hari di ruang pengap bersama banyak orang membuatnya jatuh sakit. Ia mengalami demam tinggi selama dua hari. Meskipun demikian, ia terus berusaha membantu warga lain.

 

“Saat itu saya berpikir, kalau saya menyerah, siapa lagi yang bisa membantu? Setidaknya saya harus tetap kuat di depan orang lain,” tuturnya.

 

Hari demi hari berlalu perlahan. Barulah pada hari ketujuh, Syifa melihat tanda-tanda kehidupan kembali: beberapa kendaraan mulai bisa melintas. Lalu, pada 4 Desember, abangnya datang menjemput, menembus jalan yang rusak parah dan penuh lumpur. 

 

Perjalanan pulang menjadi momen yang tak akan pernah ia lupakan. “Begitu melihat abang saya, saya langsung menangis. Rasanya seperti baru kembali dari mimpi buruk,” kata Syifa.

 

Namun pemandangan sepanjang jalan memukul batinnya. Rumah-rumah hancur, mobil-mobil tersangkut lumpur, warga mengungsi di tepi jalan. “Di banyak titik, Aceh terlihat seperti baru dilanda tsunami kecil. Saya benar-benar sedih melihatnya,” ungkapnya.

 

Kini Syifa menjalani hari-harinya dengan tekad yang jauh lebih kuat. Bagi dirinya, bencana itu bukan hanya ujian, tetapi juga pengingat tentang keteguhan, kesabaran, dan pentingnya saling membantu. “Allah memberi ujian bukan untuk melemahkan, tetapi untuk menguatkan,” ujarnya. Ia berharap seluruh masyarakat Aceh yang terdampak diberikan kekuatan dan kemudahan dalam pemulihan.

Tentang
Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh adalah unit vertikal Kementerian Agama di provinsi dan membawahi beberapa kantor kementerian agama di kabupaten dan kota.
Alamat
Jalan Tgk. Abu Lam U No. 9 Banda Aceh 23242
Lainnya
Media Sosial
© 2023 Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh
Oleh : Humas Kanwil Aceh