Esensi Puasa Ramadhan Sebagai Keharmonisan Komunikasi dalam Keluarga dan Kehidupan Sosial

Inmas Aceh 04-05-2021 12:43

(aceh.kemenag.go.id/Inmas Aceh)

Salah satu cara dalam memahami bulan Ramadhan yaitu sebagai momentum keharmonisan komunikasi dalam keluarga dan juga dalam berkehidupan sosial. Komunikasi merupakan faktor yang sangat penting dalam membangun keharmonisan dalam hubungan antarmanusia, baik di lingkungan keluarga, tempat bekerja, maupun di masyarakat. Banyak konflik terjadi akibat miss komunikasi antara satu dengan yang lain. Dan solusinya untuk menyelesaikan masalah adalah melalui dialog atau komunikasi.


Hal tersebut dapat kita kaitkan dengan esensial dari puasa itu sendiri, sebagaimana sabda Rasulullah SAW bersabda, “Dua kebahagiaan yang didapatkan oleh orang yang puasa, yaitu kebahagiaan ketika berbuka, dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabb-Nya.”(HR Muslim).


Bukankah kita dapat merasakan ketika meneguk seteguk air dan tiga biji kurma ketika berbuka puasa mampu menghilangkan dahaga dan lapar sampai membasahi tenggorokan dan dapat mengecap manisnya kurma seiring manisnya iman kita dengan ibadah puasa, memang sangat nikmat dan membahagiakan dan hanya dapat dirasakan oleh orang-orang yang berpuasa. Perjuangan menahan lapar dan dahaga telah dimenangkan. Saat bergembira, saatnya berbuka puasa.


Esensi yang didapatkan dari berbuka puasa itu bukan hanya diisi dengan makan dan minum, tapi diwarnai juga dengan perbincangan antara anak dan orang tua, suami dan istri, disitulah letak komunikasi yang muncul saat berkumpul untuk berbuka.


Komunikasi yang baik dapat menciptakan kehangatan, yang selama ini punya konflik di antara anggota keluarga maka akan kembali mencair dengan komunikasi yang baik yang sama-sama telah membuang rasa egoisme pada diri masing-masing melalui tuntutan ibadah yang kita jalani yaitu berpuasa, puasa adalah sebagai proses pengembangan diri, baik orang tua maupun anak-anak juga dilatih untuk senantiasa jujur, berani bicara mengakui kesalahan dan meminta maaf.


Momen ini tentu akan semakin memperkuat keharmonisan dalam keluarga dan inilah yang disebut dengan jalinan komunikasi yang efektif setelah mengenyampingkan ego masing-masing yang kita sebut dengan melatih diri dalam menahan amarah dan nafsu.


Secara sosial, ibadah puasa mampu mendorong untuk menumbuhkan akhlak yang mulia. Berdasarkan sikap mental yang teruji yaitu sabar dan ikhlas. Saat bulan puasa tiba, disadari atau tidak, telah terjadi peningkatan komunikasi Psikososial, baik dengan Allah sebagai dzat yang tidak tersentuh sebagai pencipta dan ke sesama manusia. Hubungan psikologis berupa komunikasi dengan Allah akan meningkat pesat, karena puasa adalah bulan penuh berkah. Bertambahnya kualitas dan kuantitas ibadah di bulan puasa akan juga meningkatkan komunikasi sosial dengan sesama manusia baik keluarga, saudara dan tetangga di masyarakat.


Sikap sosial yang mesti terbentuk dari ibadah puasa yaitu, yang pertama, kedermawanan sebagai bentuk kepedulian yang muncul akibat dari panggilan hati betapa susahnya orang yang sedang merasakan hidup dalam kekurangan. Tentunya ini diwujudkan dalam bentuk tindakan yang sesuai dengan kondisi kemampuan untuk melakukan sedekah. Sampai Nabi pernah memberikan contoh berkaitan dengan kedermawanan di bulan Ramadhan


“Barang siapa memberikan hidangan berbuka puasa kepada orang yang berpuasa ia akan mendapatkan pahala orang tersebut tanpa sedikitpun mengurangi pahalanya (HR. At-Tirmidzi).

 

Yang kedua, selain memiliki manfaat spiritual juga mengidentifikasi seseorang meraih sehat mental karena telah hilang dalam jiwanya watak yang iri, dengki, benci, dendam, dan amarah. Manusia akan menampakkan wajah yang berseri-seri, ceria dan murah senyum, hal ini menandakan sehatnya jiwa.


Yang ketiga, manfaat puasa adalah berdampak pada sehat sosial. Yakni munculnya kemampuan seseorang untuk bersosialisasi, berkomunikasi dan berinteraksi secara harmonis, seimbang, serasi sesama umat manusia dengan balutan percikan cinta dan kasih sayang Ilahi dan akan menciptakan pola komunikasi sesorang bertambah baik. Bukan hanya dengan Sang Khaliq, juga dengan sesamanya.


Komunikasi yang buruk adalah salah satu sumber penyebab yang menimbulkan malapetaka dalam kehidupan, misalnya ucapan lisan, yang terkadang sulit menjaganya dari perkataan bohong atau kebencian yang menyakiti atau menyinggung perasaan orang lain dan bahkan menimbulkan permusuhan di antara mereka. Ancaman bagi orang yang tidak bisa menjaga lisannya dari perkataan benci dan kebohongan, sebagaimana pernah disampaikan Nabi dalam sebuah HaditsNya,


“Rubba shaimin laisa lahu min shiyamihi illal ju’a wal a’thsya (HR. Ibnu Majah)”. Banyak orang menjalankan puasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga. Puasa yang semestinya membentuk sikap dan perilaku manusia bertaqwa, justru memunculkan perseteruan yang menimbulkan ketidaktenangan dalam kehidupan bersama.


Suatu saat Baginda Nabi terlihat muka-Nya kurang nyaman pada sebuah kerumunan para Sahabat dan secara tiba-tiba Beliau mengatakan, ‘Demi Allah tidak sempurna iman seseorang. Kalimat ini disampaikan hingga tiga kali’, salah seorang dari Sahabat memberanikan diri bertanya, ‘Siapa yang dimaksudkan orang itu wahai Nabi’, Nabi menjawab, ‘orang yang membuat orang lain tetangganya tidak merasa aman karena sikap dan perilakunya’. Peristiwa ini dimaksudkan bahwa, beragama sesungguhnya bukan hanya mengejar besarnya ibadah individual untuk mengejar tingginya derajat di hadapan Allah semata.


Namun kualitas beribadah harus dibuktikan juga dalam kehidupan sosial dan bermasyarakat, hal ini dimaksudkan agar dapat dilihat seberapa besar kualitas akhlak seseorang. Bahkan tidak jarang perintah untuk membentuk kesempurnaan iman kepada Allah Swt dikaitkan dengan bagaimana perilaku sosial seseorang.


Ibadah puasa sebagai ibadah individual menjadi media untuk membentuk kualitas pribadi yang selanjutnya diimplementasikan dalam kehidupan sosial yang benar-benar nyata agar tercipta perubahan yang menuju kebersamaan. Inilah mengapa puasa Ramadhan diakhiri dengan kewajiban mengeluarkan zakat pribadi (zakat fitrah) yang diberikan kepada yang berhak, sehingga semuanya ikut merasakan kebahagiaan di hari yang fitri itu.

 

Sebagai penggalan penutup, puasa adalah latihan bagi setiap individu, puncak keberhasilannya adalah nilai pengalaman spiritual selama bulan Ramadhan yang terimplementasi kualitas akhlaknya pada 11 bulan berikutnya dan itulah sebenarnya pesan penting dari jiwa sosial yang berkarakter muttaqien sebagai orientasi diwajibkannya berpuasa bagi mereka yang beriman.

 Penulis : Hayatun Rahmah, SHI., M.I.Kom

(Staf Seksi Bimas Islam Kantor Kemanterian Agama Kota Langsa)

Kategori Kantor Kemenag Kabupaten/Kota
CONNECT & FOLLOW