Kearifan dalam berdakwah (Kajian Qs al-Nahl 125)

Inmas Aceh 29-11-2019 16:10

(aceh.kemenag.go.id/Inmas Aceh)

Oleh: Fauzi Saleh

(Dosen Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN AR-Raniry Banda Aceh)

Zaman sekarang ini, ilmu komunikasi menjadi bagian yang penting dan dipelajari oleh banyak manusia. Bahkan kesuksesan awal dalam berbagai lini kehidupan berangkat dari kemampuan dan kearifan dalam komunikasi yang dalam bahasa agama disebut dengan hikmah. Hikmah itu lebih tinggi nilainya daripada ilmu. Mengajak manusia yang diistilah dengan dakwah itu harus dilandasan nilai-nilai kearifan. Sesatu yang baik harus disampaikan pada waktu dan tempat yang baik pula. Kearifan inilah digambarkan dalam Qs al-Nahl: 125.

????? ???? ??????? ??????? ????????????? ??????????????? ??????????? ???????????? ????????? ???? ???????? ????? ??????? ???? ???????? ?????? ????? ???? ????????? ?????? ???????? ???????????????? (125)


Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang terbaik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. An-Nahl: 125)

Ayat ini menjelaskan tentanga ajakan berdakwah kepada agama Tuhan (Rabb) dan mentaati-Nya dengan cara al-hikmah, al-maw’idhah al-hasanah dan al-mujadalah. Tiga model dakwah ini menarik untuk dibahas. Dakwah ini bukanlah mengajak jasad, tapi ruh dan akal. 

Pertama, hikmah. Hikmah merupakan nikmat yang besar yang Allah berikan kepada orang yang khusus. Barangsiapa yang memperoleh hikmat sungguh ia telah mendapatkan anugerah yang luar biasa. Sebagian ulama berpandangan bahwa hikmah bermakna al-nubuwwah dan al-Quran.  Dakwah dengan hikmah bermakna mengedepan substansi, metodologi, etika dan esetetika yang terkandung dalam Al Quran (Tafsir Bahrul ‘Ulum). Hikmah juga bermakna sesuatu yang baik, disampaikan pada waktu yang cocok dan tempat yang tepat. Betapa banyak hal yang baik kemudia ditolak karena tidak mempertimbangkan kearifan tempat dan waktu. 

Hikmah juga bermakna tidak adanya pertentangan antara ucapan yang diutrakan dengan perbuatan dalam keseharian. Seorang da’i bisa menunjukkan kesesuaian antara da’wah bil hal dan da’wah bil aqwal. Da’wa bil hal merupakan komunikasi dakwah dengan anggota badan, tingkah laku dan perbuatan kita. Sementara da’wah bil aqwal merupakan ajakan dengan lisan.

Dalam ayat mengandung perintah kepada baginda Rasulullah saw dan juga kepada umatnya untuk menyampaikan dengan dengan al-maqalah al-muhkamah, ucapan yang tidak mengandung keraguan dan kebimbangan. Dakwah itu  memiliki substansi yang tepat dan haqq, tidak boleh mengandung syak. Ia tidak hanya sekedar kemampuan lisan tetapi keteguhan pendirian karena diiringi oleh pemahaman yang tertanam di dalam hati sanubari.

Kedua, Adapun mau’idhatul hasanah, bermakna nasehatilah mereka dengan ajaran Al-Quran. Ia juga bermakna dakwah berbasiskan ilmu dan kebenaran, bukan kekerasan. Mufasir yang lain mengatakan metode ini merupakan khitabat (ungkapan-ungkapan) yang memuaskan pendengarnya dengan ibarat yang bermanfaat dan dapat menghujam ke dalam jiwa.

Ketiga, jadal. Secara harfiah, jadal bermakna debat. Bagaimana memahamia bahwa berdebat dengan cara yang baik. Sebagian ulama mengatakan bahwa debat dengan menunjukkan hujjat (argumentasi) yang kuat. Argumentasi itu kemudian disampaikan dengan cara yang lembut. Ini menunjukkan bahwa berdebat atau berdisksui dalam hal-hal terkait dengan keilmuan itu dibolehkan dengan tujuan kebenaran, bukan ketenaran. Lafaz ahsan dalam ayat ini bermakna layyin wa rifq (kelembutan) dan wajah yang berseri. Tidak bermaksud untuk membuat orang malu atau maksud yang tidak baik, namun dakwah model ini semata-mata untuk mengajak audiens kembali berpikir jernih agar tebuka terhadap kebenaran. 

Kemampuan mengungkap kebenaran dengan argumentasi yang kuat dengan metode yang mempuni merupakan mujadalah yang dimaksudkan dalam dakwah sebagai diungkapkan dalam Tafsir al-Qusyairi

Memahami aspek audiens (mad’u), metode pertama digunakan untuk mengajak umat yang memang mereka sedang mencari kebenaran (ath-Thalibin lil Haqaiq) sebagai golongan khawas (istimewa) dari umat ini. Sementara metode kedua itu diarahkan kepada masyarakat awam. Metode yang ketiga dikhususkan kepada berhadap orang orang  yang mengingkari dan menolak kebenaran (al-mu’anidin).

Komunikasi dakwah mutlak diperlukan dalam menyampaikan kebenaran. Sesuatu yang benar disampaikan pada waktu yang tepat itu sungguh akan memberikan dampak luas dan menyentuh kehidupan. Namun, komunikasi dakwah yang minim ilmu dan hikmah tidak akan banyak menghasilkan buah dalam kehidupan, tetapi justeru akan berhadapan dengan pertentangan. Karen itulah kaidah komunikasi dalam Islam: li kulli maqalin maqamum wa li kulli maqamin maqalun. Setiap ucapan ada tempatnya dan setiap tempat ada ucapannya.

Semoga mampu mengimplementasikan kiat-kiat yang diajarkan Al Quran untuk menjadi manusia yang hakim (penuh hikmah), baik dalam niat, ucapan maupun perbuatan.  Amin.. []


Kategori Informasi dan Humas
CONNECT & FOLLOW