Internet, Digital amnesia, dan Anti Sosial

Kankemenag Sabang 04-07-2019 18:19

(aceh.kemenag.go.id/Kankemenag Sabang)

Sekarang ini masyarakat tentu tidak asing dengan internet. Ia adalah kanal kehidupan masyarakat modern. Ada yang aneh ketika satu hari tanpa internet. Seperti kita ketahui, internet adalah akronim dari kata Interconnected Networking. Interconnected adalah saling berhubungan, dan Networking adalah jejaring (Cambridge, 2019). Internet merupakan jaringan komputer yang luas dan besar, yang menghubungkan seluruh komputer di dunia yang berisikan data yang statis, dinamis ataupun interaktif (Purwanto, 2007). Dengan demikian data yang sudah diunggah di internet bukan lagi milik personal akan tetapi sudah milik masyarakat dunia pada umumnya.

Aceh merupakan salah satu wilayah yang memiliki partisipasi tinggi akan internet. Berdasarkan hasil riset oleh Asosiasi Penyelenggaraan Jasa Internet Indonesia (APJII) di tahun 2017 menemukan bahwa pengguna aktif internet untuk daerah Aceh berjumlah 1,2 juta user. Mengingat jumlah penduduk Aceh saat ini diperkirakan adalah 5,9 juta jiwa (BPS, 2017). Dari data tersebut bisa disimpulkan internet sudah menjangkau hingga ke pelosok daerah Aceh.

Semakin meningkatnya jumlah pengguna internet di Aceh, menjadi kabar baik bagi proses perubahan masyarakat yang lebih modern. Kini komunikasi bisa menggunakan internet sebagai media sosialnya, baik itu di facebook, twitter, quora atau lainnya. Ini sangat membantu untuk berinteraksi dengan mereka yang secara geografis begitu jauh. Selanjutnya, bagi para pelajar, bisa dengan mudah mendowload bahan pembelajaran secara gratis di internet. Ataupun menonton video kajian keagamaan guna menambah wawasan, pengetahuan dan spirit religiositas.

Akan tetapi, internet yang merupakan alat penggerak peradaban, manusia memiliki dua dinamika yang berseberangan. Tujuan internet adalah untuk mempermudah kehidupan manusia. Sesuatu yang dahulu sepertinya sulit untuk dilakukan, hari ini dengan internet seolah menjadi mudah. Namun, sadar atau tidak dibalik kemudahan yang diberikan internet ada dua buah perangkap besar yang dipasang dibaliknya.

Pertama, digital amnesia. Kapan terakhir kali kita mengingat nomor seseorang? Masih ingatkah akan kode pos desa tempat kita menetap? Sebagian orang berfikir mengingat hal demikian adalah pekerjaan yang tidak berfaedah. Untuk apa kita mengingat hal tersebut? Semua data yang ditanyakan tersebut ada di internet. Adalah kita terlalu mengandalkan internet untuk bertahan hidup, walaupun dalam hal-hal kecil seperti di atas.

Ketergantungan seperti inilah yang dinamakan digital amnesia. Berdasarkan penelitian lembaga riset yang di bawahi oleh kapersky di tahun 2015 menemukan bahwa orang-orang mengalami kesulitan untuk mengingat kembali informasi sederhana. Ini terjadi semenjak kita sangat percaya akan gadget kita. Atas dasar inilah kapersky memberikan istilah digital amnesia bagi kita yang mengalami hal tersebut.

Khusus pada anak -anak usia sekolah, hal ini bisa mencegah pertumbuhan pada otak mereka. Dengan ketergantungan pada gadget yang begitu tinggi, hal ini dapat mengancam pertumbuhan otak anak. Ketika otak anak tidak dibiasakan untuk berfikir, maka akan membuat otaknya menyusut. Sehingga memegaruhi kemampuan mengingat anak. Efek lainnya, anak akan sulit mengorganisir sesuatu dan sukar untuk mengambil keputusan kompleks di masa mendatang. Selain anak, orang dewasa juga menghadapi dampak negatif dari paparan gadget yang berlebihan. Namun, karena otak anak masih berkembang, maka dampaknya lebih buruk bagi mereka.

Kedua, anti sosial. Sebuah penelitian ditulis oleh Trevor Haynes (2018) dengan judul Dopamine, Smartphones & You: A battle for your time yang dipublikasikan universitas harvard di tahun 2018 menemukan bahwa keterlibatan manusia pada media sosial di internet melahirkan hormon dopamin. Sebuah hormon kebahagian yang dibuat secara alami di dalam tubuh (Cambridge, 2019). Ia adalah sensasi menyenangkan di dalam otak manusia yang biasanya diasosiasikan dengan makanan ataupun uang (Sinek, 2016).

Hormon dopamin datang dari jumlah “like” atau “comment” dalam akun medsos internet tadi. Ketika kita memposting sebuah foto di akun medsos, rasanya menyenangkan ketika foto tersebut mendapatkan respon dari banyak orang. Ketika pertumbuhan “like” dan “comment” mengalami penurunan kita merasa tidak percaya diri.

Sebagai perbandingan, salah satu sumber dopamin lainnya ada pada rokok. Akan tetapi pada kasus rokok ia memiliki batasan usia pemakai. Tapi kita tidak memiliki batasan usia minimal untuk penggunaan medsos internet. Lihatlah di sekeliling kita, banyak anak madrasah yang memiliki akun medsos. Artinya semua memiliki akses yang sama untuk homon dopamin jenis ini.

 Di titik ini, masyarakat tidak lagi bergantung pada orang lain, mereka hanya butuh internet. Inilah yang mendasari sikap apatis. Semuanya sudah ada di internet hingga tidak ingin membangun hubungan sosial dengan masyarakat nyata.

Saat ini penting untuk bersikap bijak dalam menggunakan internet. Jangan biarkan sesuatu yang buruk dari internet menutupi segala kelebihannya. Kita upayakan intensitas pemanfaatan internet yang tinggi tidak menggiring para pengguna, khususnya anak ke dampak negatif. Perlu pengawasan dan pendampingan dari orang tua dan pihak madrasah. Dengan harapan anak terhindar dari dampak digital amnesia, anti sosial dan dampak buruk lainnya.

Ditulis oleh: Rizal Fahmi, S.Pd.I

Penulis adalah staf Bimas Kemenag Kota Sabang dan Tenaga Pengajar di Dayah Modern Ulum.  

Kategori Lain-lain
CONNECT & FOLLOW