Harmonisasi Menag dan Kakanwil Kemenag Aceh

Kemenag Aceh 26-05-2017 10:55

** Catatan Saifullah, S.Hum.MA

Ketika membaca  tulisan yang berjudul “Relawan Tanpa (batas) Kasta,” yang dituliskan oleh Iranda Novandi di media lintasgayo.co, penulis sedikit berguman dalam hati ingin melahap habis isi tulisan tersebut, terlebih penulis mengenal nama yang menuliskan tulisan itu, walaupun tak bertemu dengan yang punya nama, ia penulis kenal melalui namadan tulisannya sebagai seorang wartawan senior Harian Analisa Banda Aceh.

Bagi Iranda Novandi tentu mempunyai sudut pandang atau ‘angle’ yang tepat untuk menuliskan tentang gempa di bumi Aceh yang menimpa Pidie Jaya, Bireuen dan sekitarnya. Iranda yang berprofesi sebagai wartawan dapat melihat sisi objektifitas dalam membahasakan opininya. Baik itu berupa kisah-kisah para korban atau para ‘pahlawan’ yang telibat langsung dan aktif membantu korban pasca bencana.

Aceh kembali berduka, musibah gempa bumi 6,5 SR mengguncang Aceh menyisakan duka dan pilu, setelah sebelumnya Aceh juga mengalami musibah maha dahsyat gempa dan tsunami 2004 lalu.

Satu persatu alinea penulis baca dan melihat beberapa foto yang menghiasi tulisan tersebut, hingga penulis meng-khatam tulisan itu sampai paragraf terakhir.

Sosok yang ada dalam cerita singkat tersebut, salah satunya adalah orang nomor satu di Kementerian Agama Aceh, Drs. H M Daud Pakeh, yang sejak hari kedua hingga hari ke enam masih bergelut dengan berbagai kegiatan di lokasi bencana, tepatnya di posko Kantor Kementrian Agama Kabupaten Pidie Jaya.

Betapa tidak, sebagai Kakanwil Aceh, beliau sedia menemani korban hingga minus sehari dalam seminggu di lokasi bencana, beliau juga menjadi relawan di posko kemenag. Menjadi bukti kuat kepedulian, kepekaan dan keprihatinanya terhadap korban gempa disana.

Kakanwil tidak sendirian disana, Kamis (22/12) pagi Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin ikut tinjau lokasi dan kondisi para korban bencana sekaligus menyerahkan bantuan 4,38 milyar. Kehadiran menag itu menjadi secercah harapan dan semangat baru bagi mereka dalam menyongsong hari esok. Demikian diberitakan oleh Inmas Kanwil Kemenag Aceh.

Menag bersama wakil Baznas turun ke lokasi didampingi kakanwil kemenag Aceh dan beberapa pejabat Aceh lain membangkitkan semangat baru bagi para korban dan keluarga yang sampai saat ini masih bertempat di barak pengungsian dan posko sementara.

Penulis menganggap kakanwil mempunyai interaksi yang baik dan harmonis dengan menag, sehingga sering menag berkunjung ke Aceh dengan rentetan waktu yang tidak berselang lama dalam beberapa event, diberbagai program besar menag selalu hadir beserta Kakanwil, penulis menyebutnya ‘Harmonisasi Menag dan Kakanwil Kemenag Aceh.

Sebelumnya, Menag juga hadir di Aceh sekaligus membuka acara Porseni ke-15 jajaran Kemenag se-Aceh di Takengon, menurut menag event Porseni yang dilaksanakan tersebut even ajang lokal, namun berkelas nasional. (Majalah Santunan, Edisi 2, 2016) .

Sang relawan selalu sigap dan siap siaga, tanpa mengenal waktu, tak mengenal lelah, tiada berkeluh kesah, tak kenal panas ataupun hujan, terpenting kita ada dan berkarya.

Sosok Kakanwil patut diteladani sebagai pemimpin yang siap bersama rakyat, kepiawaiannya dan kelihaian dalam memimpin telah teruji, mental dan  sikap bernyali, tidak main-main dalam memerintah dan terlihat beberapa program besar telah dan akan dilaksanakan dalam ruang lingkup Kanwil Kemenag Aceh.

Mungkin saja atas nama kehendak hati dan kakanwil sebagai ‘relawan’ pantas termasuk dalam golongan mereka yang berbuat atas nama kebaikan dan kemanusiaan demi kepentingan rakyat dan bangsa, tentang hal ini mantan presiden Amerika, John F Kennedy pernah mengatakan “Jangan tanyakan apa yang negeri berikan kepadamu, tapi tanyakan apa yang kamu berikan untuk negaramu”.

Apresiasi untuk Kakanwil Kemenag Aceh dalam membawa perubahan-perubahan dan mengikat hubungan lintas sektoral yang terbangun dengan baik, semoga ke depan menjadi lebih baik. Mudahan setiap kebaikan akan terbalas dengan kebaikan dari sang Khalik, Amin.

Hubungan Kakanwil Kemenag Aceh dengan Kadis Pendidikan Aceh

Dalam pidato kebudayaan, yang berlangsung di Taman Ismail Marzuki Jakarta, Kamis (10/11) malam, -- Kebetulan penulis hadir sebagai peserta pada kegiatan tersebut--Menag menyampaikan “Bagi bangsa ini, agama dan budaya adalah sejoli yang saling melengkapi. Keduanya ibarat kopi dan gula dalam secangkit kopi tubruk, bila kopi tanpa gula rasanya tidak pas. Gula tanpa kopi terlalu legit”.
Mengawali catatan tentang hubungan kakanwil Kemenag Aceh, Drs H M Daud Pakeh dan Kadis Pendidikan Aceh, Drs Hasanuddin Darjo, MM. Mereka bagaikan ‘kopi dan gula’, bila Kakanwil jadi kopi, maka Kadis menjadi gula, juga sebaliknya. Keduanya saling memenuhi dan saling melengkapi.
Hubungan seperti ini mesti dibangun dengan baik untuk menciptakan sinkronisasi dan relasi yang serasi dalam berbuat dan bertindak, serta untuk mengambil setiap kebijakan, terutama di bidang pendidikan demi anak-anak dan generasi Aceh tercinta.

Gubernur Aceh, dr H Zaini Abdullah saat ini non-aktif karena mencalonkan diri kembali sebagai Gubernur incumbent pernah menyinggung hubungan antara kedua pimpinan itu, dr Zaini menegaskan dukungan penuhnya atas kebersamaan dan sinergi yang telah dibangun antara kakanwil kemenag Aceh dan Kadis pendidikan Aceh. Gubernur berulang kali mengapresiasi kekompakan tersebut, pada saat membuka kegiatan resepsi Peringatan Hari Pendidikan Daerah bulan mei lalu.(Klikkabar.com).

Antara Kakanwil dan Kadis, keduanya tampak mesra dalam setiap kegiatan bersama, baik itu di lingkungan Pemda maupun di lingkungan Kemenag Aceh, mereka tidak saling mendahului, saling berbagi, sesuai regulasi, semangat relasi, iktikad terbukti, sesekali ada basa basi, penuh sensasi, motivasi dan inovasi, demi membangun negeri.Tampak bagaikan kolaborasi yang apik di atas panggung pementasan.

Demi kemajuan pendidikan Aceh khususnya, tanpa memilah antara sekolah umum dan sekolah agama kolaborasi ini perlu dijaga oleh siapa saja dalam wadah kebersamaan dan menyongsong visi misi bersama.

Peran Inmas Ibarat Listrik dalam Rumah Tangga Kanwil Kemenag Aceh

Humas mempunyai peran yang sangat sentral di kantor Wilayah Kementerian Agama Aceh, humas merupakan corong sebuah lembaga, bagaikan nadi dan nafas dari satu badan, tanpa humas badan pun mati.

Penulis mengibaratkan humas bagaikan ‘arus listrik’ dalam sebuah rumah, bayangkan apa jadinya rumah tanpa adanya listrik. Bila malam hari tiba, semua ruangan akan gelap, tidak ada aktivitas yang dapat dilakukan, di zaman yang serba modern dan canggih ini, listrik menjadi kebutuhan primer untuk alat-alat elektronik di rumah. Untuk memasak nasi pakai rice cooker, mesin sanyo, menyetrika, kulkas, televisi, mencuci dan lain-lain, semuanya butuh listrik.

Nah, saat ini Sub Bagian Informasi dan Humas (Inmas) dipimpin oleh H. Rusli, Lc.MSi. Semenjak kepemimpinannya bisa dibilang rating berita di website Kanwil Kemenag meningkat dengan kualitas yang mumpuni, hal ini tentu tidak terlepas dari kerjasama dan kesolidan semua tim yang bekerja di Inmas. Team workadalah keniscayaan yang mutlak harus dijaga dan pelihara dengan bijak untuk keberlanjutan kinerja serta menumbuhkan kepercayaan sesama disetiap ranah ruang dan waktu.

Inmas sebagai pewarta yang mewartakan, menginformasi, dan mensosialisasi semua kegiatan di lingkungan Kemenag Aceh juga menunjukkan hubungan yang baik dengan dunia pers, baik media cetak maupun media online, beberapa berita penting terus publis di beberapa media lokal dan nasional tersebut.

Atas kerjasama dan kemitraan yang baik dengan insan pers (lembaga dan perusahaan pers), Kakanwil pada Hari Amal Bakti (HAB) nanti berencana untuk memberikan penganugerahan kepada insan pers sebagai bentuk apresiasi hubungan baik yang terjalin selama ini.

Jadi, rumah tanpa listrik tidak berarti apa-apa, semua jadi gelap gulita. Kita juga mengetahui, bahwa yang menguasai dunia adalah mereka yang memiliki dan menguasai informasi. Hari ini, semua informasi tentang Kanwil Kemenag Aceh ada di Inmas. Inmas bertugas mengelola, membagi dan mentranfer informasi itu kepada masyarakat secara luas, intensitas dan kualitas mesti mempunyai mutu dan baik, informasi yang disampaikan mudah diserap. 

Sebesar apapun kegiatan di Kanwil tanpa adanya dokumentasi, informasi melalui pemberitaan dan liputan media, sungguh kegiatan itu akan bernilai kecil dan hilang dari rekam jejaknya. Arus listrik yang tidak stabil akan mengakibatkan lampu menjadi remang-remang, atau arus yang hidup mati juga akan menyebabkan rusaknya alat-alat elektronik dalam rumah.

Demikian juga, dengan makin tingginya tuntutan kinerja dan banyaknya program di tahun-tahun mendatang,Inmas seiring dengan fungsi, peran dan profesionalitasnya  juga perlu terus ditingkatkan untuk kemajuan dan lampu-lampu di Kanwil Kemenag Aceh makin lama akan menyala makin terang-benderang. []

** Penulis adalah Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Nisam Antara Kabupaten Aceh Utara

Kategori