Pemimpin itu Amanah, Bukan Sekedar Menebar Janji

Kemenag Aceh 14-05-2017 18:07

Oleh: Drs. H. M. Daud Pakeh ***

Dalam kurun waktu yang sudah sangat dekat, masyarakat Aceh akan kembali melaksanakan pemilihan pemimpin Daerah (PILKADA) baik pada tingkat Provinsi maupun Kab/Kota untuk periode 5 tahun mendatang.

Tentunya menjadi harapan kita bersama, bahwa siapapun yang terpilih adalah orang yang benar-benar amanah dan memiliki jiwa sebagai negarawan dan ia bukan sekedar politisi. Karena jelas ada perbedaan antara negarawan dan politisi. Sebagaimana dikemukakan oleh James Freeman Clarke (1810-1888), penulis dan pakar teologi asal Amerika, bahwa seorang negarawan itu lebih berpikir tentang bagaimana nasib generasi mendatang, sementara politisi hanya berpikir bagaimana memenangkan pemilu yang akan datang.

Di atas itu semua, hal yang sesungguhnya paling penting adalah semoga pemilu demi pemilu, pilkada demi pilkada yang telah dan akan selalu kita laksanakan, jangan sampai menjadi pemicu perpecahan dan rusaknya tatanan persatuan dan persaudaraan di tengah-tengah masyarakat.

Islam menganjurkan kita untuk berpikir tentang pentingnya jam’iyah (kebersamaan/persatuan) ketimbang hanya memikirkan kepentingan jama’ah (kelompok) saja.

Siyasah atau politik dalam Islam memiliki tujuan yang mulia, seperti disampaikan oleh Imam Mawardi dalam Kitabnya Al-Ahkam As-Sulthaniyah, "Kepemimpinan adalah posisinya sebagai pengganti Nabi dalam menjaga agama dan mengatur dunia. Mengangkat pemimpin umat hukumnya adalah wajib secara ijma".

Dari teks Imam Al-Mawardi ini, jelas tujuan politik dan mengangkat pemimpin dalam Islam adalah untuk menjaga kemurnian Agama dan mengatur dunia untuk kemaslahatan umat. Bukan sebaliknya, dimana politik dan perbedaan dijadikan sebagai sumber perpecahan.

Hari ini kita begitu sulit menemukan orang-orang yang memiliki jiwa kenegaraan, ada pendapat yang mengatakan mungkin karena usia dunia kita yang semakin menua, sehingga seolah-olah tak kuasa lagi melahirkan pemimpin-pemimpin besar (great leader) dan berintegritas seperti pada masa-masa silam.

Kenyataan ini juga pernah dikritisi oleh Jeremie Kubicek, seorang pakar teori kepemimpinan dari London, Inggris, melalui bukunya yang kontroversial (2011), berjudul: “Leadership is Dead” (Kepemimpinan Telah Mati). Ia nyatakan dalam bukunya tersebut, bahwa pemimpin sekarang lebih banyak menuntut (getting), bukan memberi (giving); lebih banyak menikmati, ketimbang melayani; dan lebih banyak mengumbar janji, dari pada memberi bukti, padahal ini tentunya sangat bertentangan dengan makna dan hakikat kepemimpinan itu sendiri.

Ada beberapa sikap seorang pemimpin ideal dalam khazanah Islam, Pertama Pemimpin adalah Pelayan Masyarakat, hal ini sebagaimana diterangkan oleh Syaikh al-Khathib al-Baghdady dalam kitabnya “Tarikhu Baghdad” (10/187): bahwa diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a., Nabi SAW pernah bersabda:“Seorang pemimpin adalah “pelayan” bagi masyarakat atau orang yang dipimpinnya.”

Kedua Mimiliki Sifat Makinun, Aminun, Hafizhun, dan ‘Alimun, Hal ini sebagaimana penjelasan Allah dalam Al-Quran dalam surat Yusuf yang Artinya: “Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi amanah pada posisi kami. Yusuf berkata: Jadikan aku bendaharawan negara (Mesir) sesungguhnya aku adalah orang-orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.” (QS. Yusuf: 54 – 55).

Dari ayat ini, ada empat hal yang membuat kepemimpinan Nabi Yusuf menjadi pemimpin ideal: Pertama, makinun, yaitu memiliki kedudukan. Sehingga beliau dihormati, beliau dapat melaksanakan tugasnya tanpa ada yang menghalangi. Kedua, aminun, yaitu amanah. Memiliki rasa takut kepada Allah sehingga tidak mungkin mengkianati rakyatnya. Ketiga, hafidhun, artinya mampu menjaga. Memiliki ketelitian, bukan orang yang teledor dan bukan orang yang menggampangkan masalah. Dan keempat, ‘alim, yaitu memiliki ilmu. Paham bagaimana cara mengatur pemerintahan dengan benar, mengetahui skala prioritas bagi negaranya, dan sebagainya.

Sebagai rakyat kita sering menuntut para pemimpin atau pejabat pemerintah agar menjadi pemimpin yang amanah, harus jujur, bijak dan adil, membela kepentingan rakyat, bertaqwa dan berbagai tuntutan lainnya. Namun pernahkah kita berfikir sebaliknya, menuntut diri kita sendiri sebagai rakyat, jika kita menerapkan sistim keseimbangan pada saat kita menuntut pemimpin harus baik, kita juga menuntut rakyat untuk menjadi baik juga.

Ketika masyarakat memperbaiki dirinya, istiqamah menjalankan kebaikan, Allah Swt. akan memperbaiki mereka dengan cara Allah teguhkan para pemimpin  yang memperhatikan kepentingan mereka, sebagai ganjaran atas kebaikan yang mereka lakukan.

Sebaliknya ketika rakyat banyak melakukan kezaliman, kerusakan, maka Allah akan menunjukkan pemimpin yang zalim tengah-tengah mereka. Pemimpin yang menindas rakyat dan tidak memihak kepada rakyat, sebagai hukuman atas kezaliman yang dilakukan oleh masyarakat itu sendiri.

Ketiga, Mengambil Kebijakan Untuk Kemaslahatan Umat, Hal ini sesuai dengan salah satu Qaidah Kulliyyah (norma hukum universal) “Kebijakan pemimpin harus bertujuan untuk mewujudkan kemaslahatan bagi masyarakat.”. Sehingga, setiap prilaku dan kebijakan pemimpin wajib diorientasikan untuk kemashlahatan bangsa dan masyarakat, bukan kemashlahatan diri maupun kelompoknya semata.Senada dengan makna kaidah di atas, dalam kitab Asybah wa an-Nazhair, Imam As-Suyuthi berkata, bahwa Imam as-Syafi’i menyatakan, “Posisi seorang pemimpin atas rakyatnya adalah seperti posisi seorang wali terhadap anak yatim.

Hal ini berarti bahwa kebijakan seorang pemimpin harus benar-benar pro rakyat, bertujuan untuk kemajuan dan kemakmuran rakyat. Hal ini juga berarti pemimpin harus benar-benar peduli terhadap hal-hal yang bisa merusak masyarakat, baik secara aqidah, akhlak, ekonomi, sosial, dan sisi-sisi lainnya.

Keempat, Peduli, Bekerja, dan Memiliki Rasa Kasih Sayang. Sikap-sikap yang mulia ini adalah sifat tauldan dari kepemimpinan Rasulullah Saw.  sebagaimana disebutkan dalam al-Quran: “Sungguh telah datang kepada kalian seorang Rasul dari kalangan kalian sendiri; begitu berat dirasakan olehnya penderitaan kalian; ia sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagi kalian; dan ia amat mengasihi dan menyayangi orang-orang mukmin.” (QS. at-Taubah: 128).

Dari ayat ini, ada tiga sikap moral kepemimpinan Rasulullah Saw. yang perlu dicermati dan diteladani oleh setiap pemimpin. Pertama, ‘azizun alaihi ma ‘anittum (artinya, amat berat dirasakan oleh Nabi apa yang menjadi beban penderitaan umat yang dipimpinnya). Dalam istilah lain, sikap ini disebut sense of crisis, yaitu rasa peka atas kesulitan rakyat yang ditunjukkan dengan kemampuan berempati dan simpati kepada pihak-pihak yang kurang beruntung. Secara kejiwaan, empati berarti kemampuan memahami dan merasakan kesulitan orang lain. Rasa empati pada gilirannya akan mendorong lahirnya sikap simpati, yaitu ketulusan memberi bantuan, baik moral maupun material, untuk meringankan penderitaan orang yang mengalami kesulitan.

Kedua, harishun `alaikum (artinya, Nabi sangat mendambakan agar umat yang dipimpinnya benar-benar memiliki iman yang kuat dan keselamatan dunia dan akhirat). Dalam istilah lain, sikap ini disebut sense of achievement, yaitu semangat dan perjuangan yang sungguh-sungguh, agar seluruh masyarakat yang dipimpinannya dapat meraih kemajuan, kemakmuran, dan kesejahteraan.

Ketiga, ra’ufun rahim (artinya, sikap mengasihi dan menyayangi). Allah Swt. adalah Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Demikian pula Rasulullah SAW, juga merupakan manusia yang sangat pengasih dan penyayang. Maka sudah seharusnya bagi setiap mukmin, terutama mereka yang dipercaya menjadi pemimpin, meneruskan kasih sayang Allah dan Rasul-Nya itu dengan cara mencintai dan mengasihi orang lain, khususnya masyarakat yang dipimpinnya.

Karena kasih sayang (rahmat) adalah pangkal dari segala kebaikan. Tanpa kasih sayang, sangat sulit dibayangkan seseorang bisa berbuat baik. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw. dalam hadis Shahih, yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari Abdullah bin ‘Amru: “Sayangilah orang-orang yang ada di bumi, maka yang di langit pun akan menyayangi kalian.” (HR. Al-Bukhari).

Seorang mujaddid (ulama pembaharu) abad modern, Sayyid Muhammad Rasyid Ridha (penulis kitab tafsiral-Manar, murid dari Syaikh Muhammad Abduh, sekaligus pengembang pemikiran Syaikh Jamaluddin al-Afghani yang sangat terkenal dengan pertanyaannya yang monumental: “limaadza ta-akhara al-muslimuun wa taqaddama ghairuhum” (mengapa kaum muslim begitu terbelakang, sedangkan umat lain sedemikian maju?), ia menegaskan: bahwa ketiga sikap moral di atas (sense of crisis, sense of achievement, dan kasih sayang) adalah wajib dimiliki oleh seorang pemimpin. Karena tanpa ketiga sikap moral tersebut, seorang pemimpin bisa dipastikan tidak akan bekerja untuk kepentingan rakyatnya, melainkan hanya untuk kepentingan dirinya sendiri, keluarga, dan kelompoknya semata.

Semoga Allah SWT menganugerahkan kepada kita para pemimpin yang amanah, yang betul-betul memahami hakikat tugas dan kewajibannnya sebagai khaadimul ummah (pelayan masyarakat). Amin ya Rabbal ‘alamin.
Yang terakhir, ingatlah, setiap kepemimpinan adalah amanah. Dan setiap amanah pasti akan diminta pertanggungjawaban di hadapan Allah Swt. kelak di akhirat. []

*** Penulis adalah Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh


Kategori