Rabu, 28 Desember 2016, 12:21

Membangun Literasi di Madrasah

Oleh: Drs. Taharuddin **

Pengertian Literasi
Literasi berasal dari Bahasa Inggris literacy yang berarti kemampuan baca-tulis, melek huruf. Literasi dipandang sebagai keterpaduan kemampuan membaca dan menulis. Literasi dalam konteks yang lebih khusus dimaksud sebagai membudayakan ilmu.Literasi bermakna kesempatan untuk membaca dan menulis, berbicara tentang buku, memproduksi karya tulis dan saling membaca karya orang lain.
Istilah "literasi" berasal dari bahasa Latin literatus, yang berarti "a learned person" atau orang yang belajar. Pada abad pertengahan, seorang literatus adalah orang yang dapat membaca, menulis dan bercakap-cakap dalam bahasa Latin.

Wells (1987) mengklasifikasikan 4 (empat) tingkatan literasi (literate), yakni: 1) tingkat performative (hanya mampu membaca dan menulis) 2) tingkat functional (mampu menggunakan literasi untuk keperluan hidupskill for survival) 3) tingkat informational (mampu menggunakan literasi untuk keperluan-keperluan yang lebih luas dari sekedar functional, seperti untuk peningkatan akses dan jejaring); dan 4) tingkat epitemik (mampu menggunakan literasi untuk melakukan perubahan yang dipertimbangkan atau transformasi). Termasuk dalam tingkat epitemik adalah keingintahuan (curiosity) dan kesadaran (inclusion).

Program Literasi fungsian adalah program untuk mengembangkan keupayaan warga belajar (community study) dalam menguasai dan menggunakan keterampilan menulis, membaca, mengira, berfikir, mengamati, mendengar, dan berbicara yang berorientasi pada kehidupan sehari-hari dan persekitaran warga belajar.

Jika setiap anak memperoleh pendidikan, artusan juta orang akan terangkat daru jurang kemiskinan. Sebuah ungkapn yang dialamatkan untuk mengembaangkan budaya baca. Penddidikan dengan budaya membaca diharapkan menghasilkan membaca/menghasilkan budaya yang arif dan luhur. Dalam Islam lafal iqra mengandung makna dorongan untuk membaca untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Bacalah! Semua ilmu berawal dari membaca. Membaca adalah gerbang menuju kemuliaan.

Bangsa kita telah gagal menjadikan membaca sebagai budaya sebagaimana bangsa-bangsa maju lainnya. Ini merupakan ancaman yang serius atau global threat. Rendahnya reading literacy membuat redahnya daya saing bangsa dalam persaingan global.

Dalam Islam, motivasi kegiatan jurnalistik tidak hanya untuk sekedar menyampaikan berita. Tetapi lebh penting lagi motivasi untuk menyampaikan kebenaran. Kegiatan jurnalistik termotivasi maju sebagai dampak dari motivasi Islam kepada umatnya untuk belajar membaca dan menulis serta berilmu.

Secara lugawi, kata clara 'a berarti menghimpun. Jadi, membaca ialah menghimpun (menyambung) huruf-huruf dan kata-kata antara satu dan yang lain dalam bacaan. Menurut konsep teologi Islam, al-Quran sejak dini menganjurkan umat agar senantiasa giat dalam bidang pendidikan dengan terus menambah ilmu pengetahuan dengan banyak membaca dan melakukan penyelidikan.
Di lingkungan sekolah/madrasah, membangun literasi terkait dengan kapasitas guru dan siswa. Dari mereka diharapkan timbul produktifitas yang dapat menjadi literaratur bagi orang lain.

Kekaryaan Guru

Dalam membangun literasi peran guru sangat penting. Mereka mendorong diri dan orang lain (siswa) untuk memproduk dan berkarya. Produk literasi guru selain untuk kepentingan khazanah keilmuan juga untuk menambah perbendaharaan kekaryaannya. Namun ada beberapa stigma yang dialamatkan pada kreatifitas guru siswa ini. Terutama pada kalangan guru, Prof A Chaidar (Guru Besar Bahasa di Universitas Pendidikan Indonesia) rajin menyoroti persoalan lemahnya budaya literasi masyarakat Indonesia, khususnya di kalangan akademisi.

Bayangkan saja, literasi membaca anak Indonesia menduduki posisi ketiga dari bawah dari 41 negara peserta Programme for International Student Assesment (PISA), sedangkan dalam literasi sains Indonesia menempati posisi satu tingkat di atasnya (Hayat, 2003).

Ini bermakna bahwa tingkat literasi anak masih rendah disebabkan oleh kapasitas guru yang lemah. Padahal medium bagi guru sekarang ini sangat berpeluang dengan apa yang disebut Penelitian Tindakan Kelas. Kegiatan penelitian bisa dijadikan karya ilmiah baik untuk mencapai angka kredit maupun kepentingan publikasi dan sumbangsih untuk pengembangan kualitas pendiidkan. Ragam kerja dan karya guru harus semata-mata dipersembahkan untuk kemajuan siswanya.

Dengan menulis akan memberikan manfaat dan hikmah yang sangat besar bagi guru, diantaranya adalah 1) dengan menulis guru bisa mengekspresikan diri dengan menuangkan ide-ide yang dipunyainya, 2) dengan menulis guru dapat memberi opini dan teori yang sebenarnya bika dipertanggungjawabkan, 3) dengan menulis dapat menghibur orang banyak, 4) dengan menulis dapat mencerahkan jiwa, dan bahkan 5) dengan menulis ilmu akan bertambah secara terus menerus. Untuk menghasilkan karya yang terbaik para guru dituntut untuk membaca buku lebih banyak.

Menulis memiliki kelebihan tersendiri dibandingkan dengan membaca, menyimak dan mendengar. Pengalaman beberapa penulis bahwa dalam menulis memberi manfaat seperti 1) badan menjadi sehat dan perasaan lega, 2) tata kelola pikiran menjadi lebih baik karena dengan menulis melatih untuk berpikir secara sistematis. Dalam era tekhnologi sekarang, meulis dapat menyebarkan informasi dalam sedtik itu juga sehingga dapat terbaca oleh ribuan orang dalam waktu yang sama. Diperlukan kinerja guru untuk memudahkan siswa belajar. Tugas guru itu to simply complex things menyajikan materi ajar yang rumit menjadi sederhana dan mudah dipahami murid.

Kekaryaan Siswa

1. Mengembangkan potensi anak
Untuk menumbuhkan kekaryaan anak dalam literasi ada beberpa yang mesti diperhatikan, antara lain adalah mengembangkan potensi peserta didik. Seperti pernah dicetuskan dalam wadah Komunitas Pencil. Sebuah wadah untuk mendukung lahirnya penulis-penulis cilik yang potensial dibentuk Komunitas Pencil (Penulis Cilik Indonesia). Komunitas ini sebagai wadah untuk berkumpul dan bertukar pengalaman seputar dunia kepenulisan. Komunitas sini diharapkan dapat membawa iklim literasi bagi penulis anak. Pada saat pertemuan, anak-anak bisa membacakan karya mereka sendiri secara bergantian dan guru memberikan komentar.

Untuk dasar mengembangkan potensi anak didik seharusnya dimulai dari hal-hal yang ringan dan menyenangkan. Tumbuhkan semangat mencipta dan berkarya yang dimulai dari hal-hal kecil yang bersifat non literasi sperti pemanfaatan bahan kardus, bahan pipa dan lain-lain. Lalu hasil karya itu dipajangkan.

2. Peran Kurikulum 2013
Pengembangan literasi juga dapat dinilai dari peran Kurikulum 2013 kalau pelaksanaan guru berjalan prima. Dalam kompetensi inti bernilai ketrampilan (KI-4), di sana ada peluang-peluang untuk pengembangan literasi. Apalagi dalam menjalankan pembelajaran dengan memanfaatkan seminar-seminar kecil dari konsep scientificapproach. Dalam konsep mengkomunikasikan sesungguhnya siswa diarahkan untuk menulis kembali dengan meramu dalam kesatuan yang utuh antara pengasosian temuan data.
Penilaian keterampilan diperoleh melalui penilaian kinerja yang terdiri atas: Nilai Kinerja, Nilai Proyek dan Nilai Portofolio. Lamgkah ini sebagai force untuk mendesak agar peserta didik melakukan produktifitas.

3. Jenis Karya Tulis Kesukaan Siswa
Pustakawan bangga jika melihat ada beberapa buku yang ditatanya dibaca dengan asyik oleh serombongan besar siswa, saat jam istirahat atau jam perpustakaan. Pustakawan juga bangga jika melihat ada beberapa buku yang lusuh akibat seringnya buku itu dibaca atau menjadi buku favorit siswa. Kesukaan siswa pada buku-buku patut juga menjadi perhatian. Apalagi kalau buku-buku itu karya siswa. Makin menarik karena ada keingin-tahuan temannya untuk mencari tahu apa yang ditulis sang kawan.

Kesukaan pada buku-buku perlu ditumbuhkan untuk menghasilkan produk yang sama. Kalau minat kepada sastra itu tumbuh karena dorongan menekuni pelajaran sastra di sekolah, dapat disimpulkan bahwa; 1) pengajar sastra telah berhasil, tidak hanya menanamkan pengertian dan pengetahuan sastra pada siswa, tetai penajar telah berhasil menanamkan apresiasi sastra pada siswa dan menggugah minatnya pada bidang ini. Kedua, mungkin karena memiliki bakat khusus dan ditunjang oleh ketekunannya sendiiri, seorang siswa telah menggauli sastra sangat mendalam, melebihi potensi siswa lain.

Minat dalam sastra muncul karena datang dari hasrat siswa sendiri yang didorong oleh kesukaan pada pelajaran sastra di sekolah; oleh kemauan di antara siswa, karena banyak membaca karya sastra puisi, cerpen, roman (novel), dan sebagainya.

Salah satu jawaban mengapa banyak orang menjadi sastrawan adalah karena kegemarannya membaca, selain karena bakat dan lingkungan. Kesukaan membaca mengantar sastrawan itu ke dunia menulis.

4. Media-media Pajangan
Langkah yang mesti ditempuh para guru adalah memamerkan karya siswa di depan kelas. Orang senang melihat diri mereka melalui karya-karyanya. Yang menyedihkan, ketika siswa naik dari tingkat sekolah dasar ke sekolah menengah, karya-karya siswa tidak lagi banyak dipamerkan. Para pendidik di semua tingkatan sekolah seharusnya mencoba untuk memperlihatkan dan memamerkan karay-karya siswa secara teratur di ruang kelas, di aula, dalam kotak pajangan, di atas kuda-kuda, spanduk, atau di mana pun yang mereka bisa.

Kegiatan pameran dapat dilakukan oleh seorang seniman untuk mengomunikasikan hasil karyanya kepada orang lain, tetapi pameran dapat pula dilakukan oleh para siswa sekolah yang bertujuan mengomunikasikan hasil karyanya kepada orang lain untuk dinikmati, dinilai, maupun dikritik. Penyelenggaraan pameran dapat dilakukan di dalam kelas maupun di luar kelas, seperti galeri dan gedung pertemuan.

Manfaat penyelenggaraan pameran bagi para siswa, antara lain siswa dapat mengenal, membandingkan, dan menilai karya temannya. Selain itu juga dapat meningkatkan apresiasi terhadap karya seni dan melatih para siswa bekerja secara gotong royong (tim).

Hasil karya siswa dapat berupa berbagai hal antara lain: 1) karya seni, lukis, gambar yang dibuat siswa, 2) Artikel, tulisan di majalah dan jurnal, 3) Laporan proyek riset siswa, baik baik sendiri maupun dalam kelompok, dan 4) dan lain sebagainya.

Karya siswa dihargai sebagai kemampuan. Sikap siswa dalam proses belajar juga dihargai. Misalnya,momen setelah mengambil rapor, orang tua dipersilakan untuk melihat karya-karya anak-anaknya melalui pameran karya siswa. Mengapa pameran seperti itu pentimg diselenggarakan? Alasannya adalah memberi pemahaman kepada orang tua bahwa kemampuan anak tidak hanya sebatas pada nilai-nilai rapor. Karya anak juga merupakan kemampuan mereka.

5. Kokurikuler
Kegiatan di sekitar sekolah meliputi antara lain kegiatan Intrakurikuluer, kokurikuler dan Ekstrakurikuler. Kegiatan Intrakurikuler adalah kegiatan belajar mengajar yang dilakukan di sekolah sesuai dengan kurikulum yang berlaku. kegiatan kokurikuler adalah kegiatan yang dilakukan di luar jam pelajaran biasa, yang bertujuan agar siswa lebih memperdalam dan lebih mengahyati apa yang akan dipelajari dalam kegiatan intrakurikuler. Kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan di luar jam pelajaran biasa dan juga dilakukan waktu libur sekolah.

Untuk menunjang literasi perancangan kegiatan kokurikuler sangat menjanjikan untuk dapat terlaksana kegiatan membaca dan menulis. Kegiatan ini dapat disiasati para guru untuk menumbuhkannya melalui: mempelajari buku-buku tertentu, melakukan penelitian, membuat makalah atau klipping, majalah dinding, pelajaran ketrampilan dengan tujuan memperdalam materi pelajaran.

6. Penguatan Perpustakaan Sekolah
Empat elemen dalam meningkatkan kapasistas kerja nyata pendidikan membaca dan perpustakaan yaitu dengan (1) penguatan kapasitas dan pelayanan sebuah taman bacaan; (2) program raihan dan terobosan untuk mengambil hati anak-anak dan remaja pinggiran agar gemar dengan proses pencarian, pengumpulan, sortir dan pemilihan buku-buku bacaan yang bermutu yang sesuai dengan konteks kebutuhan pendidikan anak-anak, remaja dan warga masyarakat pinggiran, (3) program komputerisasi dengan membangun sebuh database buku bacaan perpustkaan yang bermutu, pelatihan komputer yang teratur bagi anak-anak dan remaja, dan bahkan latihan menggunakan internet; (4) Program ekspresi dengan pelatihan untuk mengungkapkan hasil bacaan dan eksplorasi anak dan rema dalam ilmu pengetahan dalam bentuk pembuatan majalah dinding, koran anak dan remaja pinggirann, buletin, lomba dongeng, lomba baca puisi dan lain sebagainya.

Usaha Stakeholder mendorong kekaryaan Guru dan Siswa

1. Best Practise Expo Madrasah
Expo berarti pameran internasional. Expo singkatan untuk eksibisi. Banyak istilah digunakan untuk menyatakan pameran internasional. Yang paling banyak digunkan adalah World Expo, Universal Exhibition danWorlss Fair.

Dalam performance Expo Madrasah di Aceh, telah melahirkan dorongan-dorongan untuk berkarya. Dorongan itu ditimbulkan dalam sebuah petunjuk teknis agar para insan madrasah mempersiapkan bahan untuk dipajang dan dijual. Lebih dari itu sebagai ajang saling tukar informasi antar madrasah. Apa yang telah diproduk oleh sesuatu madrasah dapat merangsang untuk tumbuh berkembang pada madrasah lain. Kenyataan dari performance ini ternyata telah mendorong para guru dan siswa untuk menulis dan kemudian dicetak untuk dipajang.

2. Best Practise MTs II Takengon
Praktik terbaik yang telah dilakukan oleh Ibu Mariani, Kepala MTsN 2 Takengon, cukup mendorong madrasah lain di Aceh untuk berbuat. Dalam Expo Madrasah IV di Takengon, MTsN 2 Takengon memamerkan budaya baca dalam bentuk penampilan perangkat Gerobak Baca di stand Kabupaten Aceh Tengah. Tidak hanya itu, tetapi Gerobak Baca memuat karya-karya guru dan siswa di lingkungan Kementerian Agama Kabupaten Aceh Tengah.

Praktik terbaik MTsN 2 Takengon, dirasakan manfaatnya bagi madrasah lain di Provinsi Aceh. Bahwa telah ada juga inisiatif untuk membuat gaya serupa dalam event-eventekstrakurikuler.

Sumber: Dari berbagai buku bacaan

** Kepala Seksi Kurikulum dan Evaluasi Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Aceh