Daud Pakeh, Pekerja Keras yang tak Kenal Konsep Lelah

Inmas Aceh 12-01-2018 08:55

Catatan Iranda Novandi *

 SORE itu, jam sudah menujukan pukul 16.00 wib. Seorang lelaki setengah baya, masih duduk dibalik meja kerjanya. Ia masih bergelut dengan setumpuk berkas. Tangan dan matanya sangat lihat menelitik dan membaca semua berkas yang ada.

Sesekali tanganya membubuhkan coretan tandangan dari tinta hitam pena yang menari di sela jemari kanan. Setelah itu berkas tersebut disusunnya rapi kembali di sisi kirinya dan mengambil berkas yang lain yang tergeletak di sisi kanan.

Dalam ruangan berukuran 5 x 6 meter itu, mesin pendingin terus memberikan kesejukan. Satu meja tamu yang dilengkapi air mineral dan beberapa toples kue sedikit agak tak beraturan, namun tak ada kesan berantakan.

Begitu juga sepasang kursi tamu berwarna hitam yang terletak persis di depan meja kerja juga terlihat tidak tersusun rapi. Dengan sesekali bertanya tentang ikhwal surat yang ditandangani pada sekretaris, kembali tangannya menarik di secarik kerta berwarna putih yang telah dipenuhi dengan tulisan hasil ketikan komputer.

Ternyata sore itu, Selasa, 31 Oktober 2017 lelaki setengah baya dengan setelah baju putih dipadu dengan celana hitam. Terlihat pada bagian lengannya sudah terlipat ke atas sedikit. Kacamata bacapun masih setia bertengger di atas hidung.

 “Assalamualaikum…,” sapa penulis sambil menyalami lelaki yang masih berkutat dengan berkas itu. Sambil bersalaman, penulispun memberi ucapan selamat atas prestasi sebagai peringat terbaik satu dalam penyerapan anggaran 2017 di jajaran Kementerian Agama Republik Indonesia yang baru diraih beberapa hari sebelumnya.

“Silahkan duduk, saya selesaikan dulu ini sedikit lagi. Karena besok (1 Nopember 2017) harus berangkat lagi ke Yogyakarta,” ujarnya mempersilahkan penulis yang datang sore itu bersama seorang staf Kemenag Aceh.

Staf tersebutpun terlihat membersihkan meja dari beberapa botol air mineral yang sudah kosong. Sesekali, pintu ruangan itu kembali terbuka, sekretaris yang berposter tegap membawa kembali beberapa berkas yang harus ditandatangani.

 Setelah menyerahkan tumpukan berkas yang sudah ditandangani kepada sekretaris, lelaki kelahiran, Trienggadeng, Pidie Jaya yang dulu masih dalam wilayah Kabupaten Pidie itu. Sambil mendengar masukan dari sekretaris, iapun menyetujuinya.

“Iya, kalau ada waktu besok pagi, kita tandantangani MoU dengan Rumah sakit di tempat mereka, sebelum saya ke Jantho, karena ada undangan dari Bupati Aceh Besar,” ujar lelaki mantan Guru MAN Sigli itu.

Setelah itu, iapun beranjak dari balik meja dan duduk bersama penulis di meja tamu. “Seharusnya, hari ini harus berangkat lagi ke Jakarta, tapi tak apa, sudah diwakili staf,” ujarnya lelaki kelahiran 31 Desember 1960 itu membuka percakapan.

“Apakah tidak rasa lelah dan capek untuk terus bekerja tiada henti. Padahal, sehari sebelumnya baru pulang dari Jakarta dan kini mau pergi lagi,” tanya penulis.

“Tidak. Tidak ada konsep lelah dalam bekerja. Resepnya sederhana saja, iklas dalam bekerja dan juga doa dari kawan-kawan disini,” ujar Pembina Salah Kelompok Menembak di Banda Aceh itu.

Begitulah karakter pekerja keras ini. Dia adalah Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Ka Kanwil Kemenag) Aceh Drs HM Daud Pakeh. Baginya, tiada waktu sedikitpun untuk berleha-leha jika sedang menjalankan tugas atau berdinas di kantor ataupun di luar kantor, sejauh masih berada dalam koridor jam kerja.

Sidak ke Madrasah dan Reaksi Cepat

“Tadi saya baru panggil Kakankemenag Aceh Besar dan Kabid Pendidikan Madrasah, untuk menyelesaikan bangunan yang belum selesai dan pembebasan tanah untuk dibuat bangunan sekolah,” ujar Ka Kanwil Kemenag Aceh membuka rahasia, tentang tadinya meja tamu yang berada dalam ruang kerjanya sedikit tak rapi, dengan adanya bekas minuman air mineral  di atas meja tamu.

Salah satu Bangunan sekolah MAN Kuta Baro ini sangat rawan dan gedung tidak layak, sebelumnya ia mendapat kabar dan laporan dari masyarakat. Menerima informasi itu, ia bersama supir dinas dan Kasi Sarpras Penmad, termasuk staf Inmas langsung menuju ke lokasi.

Tidak ada satupun staf yang tahu kemana mau pergi hari itu. Hanya ajakan ngopi pagi ke Kuta Baro. Para staf baru tahu, setelah tiba dilokasi. Bahkan, karena tak ada pemberitahuan awal, Kepala MAN Kuta Baro pun tak ada di tempat.

Daud Pakeh sempat melarang guru MAN Kuta Baro menghubungi Kepala MAN tentang kedatangan Kakanwil Kemenag, karena Daud Pakeh tahu, bahwa kepala MAN tersebut sedang mengikuti kegiatan di luar sekolah. Setelah meninjau dan memberi arahan kepada guru, serta membubuh tandatangan di absen, ia pun kembali pulang ke kantor, tentunya dengan sejenak menikmati kopi seperti yang dijanjikan sebelumnya.

Baru siang harinya, Ka Kanwil menggelar rapat di kantor Kanwil Kemenag menyangkut hasil temuan tersebut. Dalam rapat itu, Daud Pakeh meminta kepada Kakankemenag Aceh Besar Salahuddin untuk segera melakukan opname bangunan gedung berlantai II milik MAN Kuta Baro.

"Kita minta kepada Kakankemenag Aceh Besar untuk segera menyiapkan dokumen dan berkoordinasi dengan dinas PU terkait kelayakan bangunan MAN Kuta Baro, kalau bisa bangunan tersebut tidak digunakan lagi, karena membahayakan," ujar Kakanwil dalam rapat yang dihadiri Kabag TU, Kabid Penmad, Kasubbag perencanaan dan keuangan dan Kasi Sarpras Kanwil Kemenag Aceh.

Upaya yang dilakukan ini, sebagai bentuk langkah cepat Ka Kanwil dalam menyelesaikan temuan yang berasal dari lapaoran masyarakat. Selain persoalan bangunan, dalam rapat tersebut juga dibahas tentang pembebasan tanah yang ada di komplek Madrasah tersebut.

Hari itu, Daud Pakeh memberi waktu dua hari bagi Kakanmenag Aceh Besar untuk menyelesaikan pembebasan tanah. "Hari ini harus ada solusi, permasalahan tanah juga harus segera selesai, Pak Salahuddin pasti tau caranya ini," ujar Ka Kanwil.  

Imam di Rumah

Apakah, tidak ada waktu istirahat bagi seorang Daud Pakeh? Menurutnya, waktu istirahat dan rehat itu adalah di rumah, sedangkan untuk urusan kantor atau kedinasan semuanya diselesaikan di kantor. Tidak ada sedikitpun pekerjaan yang dibawa ke rumah.

“Di rumah saya adalah imam dan kepala rumah tangga bagi keluarga,” ujarnya memberi alasan sambil menambahkan, para staf nyaris tidak pernah datang ke rumah untuk mengurusi masalah kantor.

Hal ini yang ditekankannya. Sehingga, bagi istri dan anak-anaknya, Daud Pakeh adalah panutan yang sangat dihormati, begitu juga dengan para staf di Kanwil Kemenag Aceh. Urusan kantor diselesaikan di kantor, di rumah adalah wilayah privacy dari seorang Daud Pakeh, bukan wilayah kedinasan seorang Ka Kanwil Kemenag Aceh.

Kecuali ada hal yang sangat mendesak dan penting, itupun sebatas tandatangan, boleh ke rumah. Sedangkan pembahasan lainnya, tetap dibicarakan di kantor. Kalau di rumah, maka aktivitas yang dijalaninyapun layaknya anggota masyarakat lainnya.

Jika tiba waktu shalat, maka ia menjadi bagian jamaah di meunasah dekat rumah yang jaraknya sekitar 500 meter dari rumah. Bila pagi hari, saat libur, ia pun kerap ngopi  bersama masyarakat lainnya di warung kopi (Warkop) dekat rumah.

Bahkan, jika ada pekerjaan rumah yang harus dikerjakan, itupun dilakukan sendiri. Seperti saat hendak berangkat ke Kala Wih Ilang, di Kecamatan Pegasing, Aceh Tengah beberapa bulan lalu, Daud Pakeh menyempatkan mengetam kosen jendela rumah sendiri.

Soal pekerjaan tukang ini, bukanlah hal baru bagi abdi negara yang pernah menjadi Kepala MAN Meureudu ini. Saat masih bertugas di Pidie, ia pernah membuka kandang ayam sendiri dan memelihara  ratusan ekor ayam di halaman rumah yang dirancang dan dibuatnya sendiri itu. 

Dalam amatan penulis, pasca kepulangan dari menunaikan ibadah haji, sambil menjalankan tugas di tanah suci, pada 26 September 2017, pada  hari itu juga Kakanwil Kemenang langsung masuk kantor menjalani tugas rutin kedinasan dan ke esokan harinya kakanwil melaksanakan dinas luar ke Ibu Kota.

Berbagai pekerjaan  rutin dan sejumlah agenda lokal dan nasional terus dilakukan tanpa kenal lelah. Bahkan disela-sela seabrek pekerjaan dan even nasional berupa Pentas PAI tingkat nasional di Banda Aceh.

Pentas PAI

Tak tanggung-tanggung dari dedikasi dan kerjakeras semua pihak, mulai dari Pemprov dan Dinas Pendidikan Aceh, tuan rumah Provinsi Aceh merebut juara umum dalam Pekan Keterampilan dan Seni Pendidikan Agama Islam (Pentas PAI) Tingkat Nasional ke VIII 2017.

“Keberhasilan itu setelah meraih empat emas, dua perak, dan tiga perunggu. “ Ini hasil kerja keras semua pihak, bukan semata-mata kerja Kanwil Kemenag saja,” ujar Daud Pakeh

Bukan itu saja, disela-sela kesibukan dengan acara Pentas PAI, Daud Pakeh juga sukses melangsungkan pesta perkawinan anak laki-lakinya. Tak tanggung-tanggung, Menteri Agama H Lukman Hakim Saifuddin dan para Kakanwil Kemenag se Indonesia juga ikut menghadiri pesta tersebut.

Satu yang membanggakan lainnya dan bisa dikatakan sebagai “kado intimewa” bagi Kanwil Kemenang Aceh 2017 ini, berkat didikasi dan kerjakeras yang diterapkan, jajaran Kemenag Aceh memperoleh pengakuan secara nasional dengan ditetapkan sebagai peringkat satu nasional serapan anggaran tertinggi oleh Kementerian Agama RI.

Kanwil Ke­menag Aceh merupakan Satuan Kerja (Satker) yang sejauh ini berhasil mereali­sasikan anggaran 75,68 persen dari pagu yang tersedia. Keberhasilan itu di atas persentase rata-rata realisasi nasional, yakni 65,48 persen. Sedangkan peringkat kedua diraih Kanwil Kemenag Sulawesi Barat (Sulbar) dan peringkat ketiga Sulawesi Selatan (Sulsel).

Atas keberhasilan tersebut, Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin memberikan penghargaan kepada Kanwil Kemenag Aceh yang diterima Kakanwil HM Daud Pakeh, pada Senin 30 Oktober 2017.

 “Terimakasih untuk semua satker yang telah bekerja secara maksimal. Alham­dulillah hari ini Menag memberikan peng­hargaan kepada kita semua,” ujar Daud Pakeh.

Diharapkan ke depan jajaran Kemenag Aceh dapat mempertahankan prestasi ini dan lebih meningkatkan lagi di masa yang akan datang, termasuk dalam hal pelaporan keuangan yang sesuai prosedur tanpa ada penyimpangan.

Daud Pakeh mengatakan, keberhasilan ini merupakan hasil kerja sama, kerja keras, kerja cerdas, kerja tuntas dan kerja ikhlas semua satker. Prestasi ini sebagai buah dari usaha kerja keras semua pihak selama ini.

Ini hanya sebagian kecil dari kerja keras dan didikasi yang dilakukan tanpa lelah dengan konsepk ‘iklas bekerja’. Masih banyak lagi yang belum terurai dalam tulisan singkat ini. meski banyak rintangan dan tantangan, semua ini bisa diselesaikan dengan baik dan penuh tanggung jawab.

Sekilas, pertemuan singkat ini banyak catatan lainnya yang tak terurai dalam tulisan ini. berlahan, kemaja panjang yang menutupi tanganya mulai disingsingkan lebih tinggi. Begitu juga celana pun mulai di lipat ke atas.

“Saya shalat ashar dulu, sebentar lagi mau membuka acara di sebuah hotel dikawasan Blang Padang Banda Aceh,” ujar lelaki yang selalu menebar senyum khas keramahan sepanjang perbincangan singkat dengan penulis.

Banyak pengalaman dan pengetahuan yang terserap dalam pertemuan tersebut. Itu semua nantinya, akan jadi catatan indah dalam satu dokumen penting bagi pejalanan hidup seorang anak petani asal Pidie Jaya ini.[Santunan] 

* Penulis adalah wartawan Analisa

Kategori Informasi dan Humas
CONNECT & FOLLOW