Pawai Takbir, 'Gurita' Neuheun Juara

Kemenag Aceh 12-09-2016 20:00

[Banda Aceh Yakub]  Musabaqah pawai takbiran malam lebaran Idul Adha 1437 Hijriah, antarkan regu dari Gampong Neuhuen, Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar, sebagai Juara I.

Group jalan kaki yang menyertakan mobil hias milik Aneuk Meunasah Neuheun, pada malam Senin (11/9) itu, menyedot perhatian penonton sepanjang jalan yang dirutekan.

Grop dari wilayah timur kota, di dataran tinggi menuju Krueng Raya itu, mengkreasikan mobil menjadi Kapal Motol Penumpang (KPM) Gurita yang masih melegenda itu.

Jelang puasa, Jumat malam, 19 Januari 1996, Gurita tenggelam di Teluk Balohan, Sabang. Kapal angkut penumpang yang ambil liburan dan warga Sabang itu, mengangkut 378 penumpang, dan tenggelam ke dasar laut. Sekitar 40 orang dapat diselamatkan, 54 ditemukan syahid dan 284 orang dinyatakan 'hilang'.

Juara II dan III, diberikan pada RM Baitul Kiram Peuniti Kecamatan Baiturrahman Banda Aceh, dan grop Meunasah Al-Furqan Mibo, Kecamatan Banda Raya Banda Aceh.

Sementara Juara Harapan I, II, dan III masing-masing diberikana untuk Dannur Rijal Lam Geu Eu Kecamatan Peukan Banda Aceh Besar, Karang Taruna Al-Fata Jaya Lamkewe Darul Imarah Aceh Besar, dan Ikatan Remaja Meunasah (Iremes) Jeulingke, Kecamatan Syiah Kuala Banda Aceh.

Pawai takbiran, dengan jalan kaki dan mobil dilepas Gubernur Aceh dr H Zaini Abdullah. Pelepasan peserta ditandai dengan pemukulan bedug di depan Masjid Raya Baiturrahman. Acara dihadiri Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh Drs HM Daud Pakeh dan jajarannya.

Keluarga besar Kemenag juga tampak ikuti syiar pawai takbiran, sebagai peserta dan panitia, yang saat pelepasan dihadiri Forkopimda dan undangan, dan mengambil rute start dan finish di Baiturrahman itu.

Selain mobil hias dari instansi pemerintah dan swasta, regu takbiran juga berasal dari madrasah, Remaja Madrasah dan Remaja Mesjid (Remes atau RM), Balee Beuet, Dayah, dan Ormas.

Rutenya, start dari depan Masjid Raya Baiturrahman, dilepaskan Gubernur Aceh, terus belok kanan, ke Jalan Diponegoro, lalu belok kiri, 'naik' ke Jembatan Pante Pirak, hingga ke Simpang Lima, bebelok ke arah Darussalam.

Dari Jalan Tgk Muhammad Daud Beureueh, terus ke Simpang Jambo Tape, group pun berbelok ke kiri, ke Jalan Pocut Baren, di Simpang MAN Model. Terus ke Simpang empat Taufiq Kupi (Kantor Haji Kankemenag Aceh Besar), belok kiri ke Jalan TP Polem, lalu ke Simpang Lima.Dari tanjakan Jembatan Pante Pirak di samping Kodam IM, masuki Jalan STA Mahmudsyah, lalu belok kanan di Simpang Kodim, dan rehat di halaman masjid (finish).

Lain lagi dengan pawai mobil, yang rutenya dari depan Masjid Raya ke Jalan Diponegoro, Jalan STA Mahmudsyah, Simpang Kodim, Rumoh Atjeh, Meuligoe, Simpang Jam Putroe Phang, belok kiri, ke Jalan Teuku Umar di samping Gunongan, hingga Simpang Tiga Lamteumen.

Dari Simpang Tiga, masuk ke Jalan Cut Nyak Dhien, hingga ke Simpang Dodik yang menuju Ajuen itu. Mobil tapi berbelok kekiri, ke Jalan Soekarno Hatta, lalu ke kiri lagi ke Jalan Sudirman. Ia kembali ke Simpang Tiga, Setui, di Jalan T Umar, hingga Simpang Jam, dan Pendopo lagi, dan ke Simpang Kodim dan ke Baiturrahman (finish). 

Kepala Keistimewaan dan Kesejahteraan (Karo Isra) Setda Aceh, Ir Sulaiman AW MP, jelaskan untuk malam Senin itu, hanya dimeriahkan 60 grup. Dan sang juara terbaik I, II, III dihadiahi uang pembinaan Rp10 juta plus piala bergilir, Rp8 juta, Rp 6 juta. Untuk harapan I, II, dan III,  Rp5 juta, Rp4 juta, dan Rp3 juta. Jelang tengah malam, pengumuman dibacakan, tropi dibagikan. 

Penilaian, selain jumlah personil dan kerapian 'shaf', juga bawaan banner (spanduk), gendang, beduk, rebana, assesoris, dan perlengkapan. Aspek lainnya, adab dan pakaian. Allahu akbar, Allahu akbar... yang bertalu-talu pun, dinilai. Selamat... []

Kategori Informasi dan Humas